GuidePedia

0
http://ceritarara.files.wordpress.com/2012/02/bandung-macet.jpg
Dosen menguji aplikasi pengaturan lalu lintas cerdas dengan konsep okupansi buatan tim ATS pada gelaran Electrical Engineering Days 2014 di ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/6). 

Jakarta -Mahasiswa ITB membuat sistem pengurai kemacetan panjang di persimpangan jalan. Lampu pengatur lalu lintas mereka atur tiap fase kerjanya maksimal hanya 3 menit.

Tim yang beranggotakan Amral Nazar, Dita Amalia, dan Anissa Sachi, tersebut membuat pengaturan lalu lintas cerdas dengan konsep okupansi. Sistem buatan mereka akan bekerja untuk memantau kondisi lalu lintas, kemudian menghasilkan durasi nyala lampu sesuai panjang antrian kendaraan di tiap persimpangan. "Saat antrian panjang, lampu merah otomatis akan lebih cepat dan lampu hijau menyala lebih lama," kata Amral kepada Tempo Selasa 3 Juni 2014, saat pameran karya tugas akhir di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB, 3-6 Juni Juni 2014.

Sistem itu mereka akui tidak akan sanggup menghilangkan kemacetan. "Karena kendaraan motor terus bertambah, kami hanya berusaha mengurangi antrian panjang," ujar Dita Amalia. Caranya dengan mengurangi durasi nyala lampu tiap fase, yakni nyala lampu kuning, merah, dan hijau, menjadi maksimal dalam 3 menit.

Di Bandung, misalnya, durasi fase lampu pengatur lalu lintas ada yang lebih dari 3 menit, seperti di jalan by-pass Soekarno Hatta saat pagi dan sore. "Suka tersiksa panas, seperti dijemur di jalan," kata Iwan Kurniawan, seorang pengendara motor. Ia menyebut, lama waktu lampu merah bisa sampai dua menit atau 120 detik, seperti tertera di papan penghitung waktu lampu lalu lintas.

Menurut Anissa, mereka membagi sistem mereka ke tiga bagian, yakni proses gambar digital, proses data, dan pengendalian lampu lalu lintas. Gambar digital mereka peroleh dari kamera video Dinas Perhubungan Kota Bandung yang dipasang di tiang lampu lintas. Dari kamera itu, diperoleh gambaran panjang antrian kendaraan di persimpangan jalan saat lampu menyala merah.

Gambar kondisi secara real time itu kemudian diolah mini kit komputer Raspberry-Pi yang dipasang di dalam kotak perangkat di tiang lampu lalu lintas. "Kemudian dihitung panjang antrian kendaraan pada tiap lengan (ruas) jalan di tiap persimpangan, lalu dikirim lewat jaringan WiFi ke server," kata Anissa. Server bisa mengolah data dari 4 persimpangan jalan, kemudian mengatur waktu siklus dan menghasilkan waktu optimum nyala lampu hijau. Hasilnya dikirim kembali ke perangkat di tiang lampu lalu lintas.  

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?