

Perkembangan Black Hornet dimulai pada April 2008. Drone ini melalui beberapa tes penerbangan dan segala macam tes sebelum masuk ke tahap seri produksi pada awal 2012.
Kementerian Pertahanan Inggris mengeluarkan kontrak USD 31 juta ke Prox Dynamics untuk pengiriman 160 unit Black Hornets untuk angkatan bersenjatanya.
The Black Hornet ini dikerahkan di Afghanistan untuk memenuhi persyaratan pengawasan Angkatan Bersenjata Inggris. UAV ini juga digunakan pasukan keamanan dari beberapa negara lain.

Pada tahun 2013. Prox Dynamics mengirim 100 Black Hornet nano UAV, untuk Inggris.
Bentuk aerodinamis dari UAV nano ini membuatnya tahan angin badai. Suara dengungannya kecil dan UAV nano ini dilengkapi dengan tiga kamera pengintai tersembunyi dalam hidung UAV.
Satu modul PD-100 Black Hornet mencakup dua UAV dan base station.
UAV ini memiliki panjang sekitar 100 mm dan rotor rentang 120mm. Memiliki berat 16 miligram, termasuk kamera pengintai. Total sistem tidak termasuk display station memiliki berat kurang dari 1 kg.
Black Hornet dirancang untuk mudah dibawa- seluruh sistem pas di saku seorang prajurit.

Dimensi ultra-kompak Black Hornet memungkinkan operator untuk menggunakannya di daerah padat dan rawan ancaman. Sistem ini menghasilkan suara hampir tak terdengar, membuat pesawat lebih tersembunyi dan dapat digunakan kembali. UAV kecil ini membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk tinggal landas.
The Black Hornet diinstal dengan kamera elektro-optik (EO) yang mampu menghasilkan gambar serta video hidup yang ditampilkan pada perangkat display genggam.
Kamera dapat diperbesar untuk gambar yang lebih jelas dengan menggunakan kontrol base station.
“Seorang prajurit bisa membawa seluruh perlengkapam PD-100 Black Hornet, berikut display dan base stationnya.

lanjutin di sini !
Follow @wisbenbae
Post a Comment Blogger Facebook
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.