GuidePedia

1

Sombolis pohon muncul secara universal dalam berbagai tradisi dan agama sejak periode kuno, termasuk seni dan arsitektur, sastra dan kitab suci, simbol yang telah lama digunakan oleh para imam kuno untuk mengubah pikiran manusia agar terhubung dengan dunia luar. 

Sifat fisik tanaman berkayu besar menjelaskan sebagian keunggulan di antara simbol-simbol yang lain. Pohon merupakan makhluk hidup terbesar di Bumi, juga mewujudkan misteri kehidupan tentang asal, pertumbuhan, dan kematian. Awalnya berkembang dari benih kecil, tumbuh tanpa makanan yang jelas, tumbuh bercabang ketika dipotong, sekarat di musim dingin dan musim semi.


Dari perspektif evolusi ilmiah, air adalah konteks asli dari semua kehidupan duniawi. Di lapisan terdalam dari memori manusia adalah air, dan asam amino pertama berbaur sementara di sup organik tipis. Bayangkan sebuah pohon, akarnya tenggelam jauh di dalam bumi oleh pegas, diresapi dengan ujung daun dengan memberi hidup air, darah dewa dan esensi dari penciptaan.


Semua hubungan spiritual ataupun material ditujukan untuk umat manusia, hubungannya ke atas selaras dengan tulang belakang yang tegak lurus. Seperti pohon dan gunung, dua model yang sangat jelas menggambarkan ide ke atas secara vertikal, refleksi dari 'Sumbu Mundi Ilahi' yang sangat misterius.


Makna Simbolis Pohon Selama Ribuan Tahun


Selama ribuan tahun, simbolis pohon tak tergoyahkan dan belum luntur, telah menjadi model arsitektur manusia dan model arsitektur ilahi. Dalam membangun arsitektur hubungan duniawi dan kosmos, manusia sangat bergantung pada struktural pohon. Tumbuh vertikal melawan gravitasi bumi, elemen horizontal didukung batang vertikal, menciptakan perlindungan dari matahari dan hujan. Pohon merupakan mediator antara ilahi dan ruang lingkup manusia yang masih skala mikro. Melalui simbolis ini, manusia melihat bagaimana Dia menciptakan struktur yang tak terbatas, alam semesta yang misterius. sebuah model praktis yang menggambarkan mistik alam semesta dan menjadi simbol universal.



Sebuah refleksi yang mengisyaratkan bahwa pohon sebagai simbol universal, dimana sepanjang sejarah peradaban manusia telah melihat pohon sebagai penghubung antara dua dunia. Sepanjang sejarah, pohon juga dianggap sebagai tempat roh jahat, sebagai tempat berkomunikasi batin dan menyembah, artefak kuno menggambarkan sebagai jembatan ke surga dimana para pahlawan naik ke atas, sebuah refleksi yang sangat jelas menggambarkan bagaimana simbolis pohon sebenarnya. Dia menjelaskan simbol melalui wahyu agar manusia dapat melihat lapisan terdalam dari makna yang ada di sekelilingnya.

Pohon secara alami terkait dengan air, sebuah simbol universal lain yang sangat penting terkait lahan gersang dan lahan subur yang digunakan beberapa agama. Juga menceritakan tentang penciptaan, seperti yang tertulis dalam QS 25:48-49 dan QS 21:30. Hal yang sama juga tertulis dalam Kejadian I:1-2, teks Hindu juga menuliskannya dalam Brhadaranyaka Upanisad 1-2.

Mitologi Dan Naskah Kuno Simbolis Pohon

Bagaiaman mitologi menceritakan simbolis pohon dan kerap digunakan peradaban terdahulu? Tidak hanya dalam teks agama sekarang, sejak dahulu nenek moyang sudah sangat mengenal arti dari pohon dan air sebagai simbol spritual penting dalam kehidupan.



Di Guyana dan Bolivia, dikisahkan bahwa hewan telah menemukan sebuah pohon ajaib yang bisa memberi makanan diseluruh permukaan Bumi. Hewan mencoba untuk menjaga temuannya dari manusia, tapi akhirnya manusia menemukan dan mencincangnya agar seluruh permukaan Bumi dipenuhi tanaman pangan. 

Di Paraguay, Mbocobis dianggap sebagai pohon pendakian ke surga setelah kematian. 

Herero dari Damaraland di Afrika, menciptakan spesies tertentu dari pohon suci, sehingga menganggapnya sebagai nenek moyang manusia dan hewan. 

Di Fenisia, nenek moyang mereka menggambarkan alam semesta sebagai tenda bergulir dimana pusatnya merupakan tiang atau pohon yang besar. 

Mitos Skandinavia menceritakan gunung di tengah dunia berbentuk cakram bisa ditembus dengan mencapai puncaknya, pohon Ash besar yang disebut Yggdrasil. Cabangnya menyanggah awan, langit dan bintang-bintang, akar pohon berada di surga, akar lainnya mencapai air mancur paling suci di Urd. 

Raja Willow, mitologi Tibet menceritakan akar pohon di dunia bawah, batangnya berada di permukaan bumi dan cabangnya berada di surga.
Mitologi Jepang menceritakan pohon pinus besi yang menyanggah alam semesta, hampir mirip dengan mitologi dari Rusia yang menceritakan pohon besi dimana akarnya merupakan kekuatan Tuhan dan cabangnya mempertahankan tiga dunia.


Naskah-naskah berasal dari Teluk Persia yang muncul sekitar tahun 3500 SM, salah satunya naskah Akkadia menyebutkan:

Dalam Eridu, tangkai tumbuh membayangi, tempat suci itu menjadi hijau. Akarnya adalah kristal putih yang membentang ke arah dalam.... Kursinya adalah (pusat bumi). Daun-daunnya adalah sofa dari Zikum (nenek moyang) ibu. Ke jantung rumah suci, yang menyebar teduh seperti hutan, tiada manusia yang masuk. Disana ada rumah ibu penguasa yang melintasi langit. 

Pohon kehidupan yang dijelaskan diatas sangat mirip dengan literatur Islam, dan juga legenda Babilonia tentang pahlawan Gilgamesh yang mencari tanaman ajaib untuk menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Kisah Gilgamesh menyebutkan:

Di tengah-tengahnya dia melihat pohon ilahi dan indah, dia mengarah kesana dan bergegas. Cabang-cabangnya berkilauan, tergantung pecahan batu mulia dan daunnya yang dari lazuli. 

Relief sejarah Asyur menggambarkan raja berdiri di samping sebuah pohon disertai jin yang sedang memetik daun dan memberinya kepada raja, atau menerapkannya kepada orang atau senjata. Demikian pula, di Mesir, Firaun sering digambarkan sedang berdiri di sebuah pohon dengan makhluk gaib. Kosmologi Mesir umumnya menempatkan pohon di tengah alam semesta dengan Bennu (Dewa Matahari) di cabang-cabangnya. 

Simbolis Pohon Dalam Literatur Yahudi Dan Kristen

Istana Ras Shamra di Caanan, menggambarkan hubungan pohon dengan kesuburan. Pohon sakral ini dianggap sebagai 'Altar di bawah pohon hijau', dan mereka melarang untuk menanam Ashera (pohon suci) di altar Yahweh. Meskipun Ibrani mengutuk pohon sakral ini, pohon ini berdiri di tengah Surga mereka, dan bahkan diceritakan bahwa Daud menerima kabar melalui suara gemerisik di puncak pohon ketika menyerang orang Filistin.



Etz Chaim, adalah istilah yang umum simbolis pohon kehidupan yang digunakan dalam Yudaisme. Penjelasan ini ditemukan dalam Kitab Amsal, kiasan bahasa disebutkan dalam Taurat. Etz Chaim merupakan nama umum untuk menyebut Yeshiva dan Sinagog, juga digunakan dalam karya sastra rabinik. Simbolis ini menggambarkan tiang kayu perkamen dalam gulungan Kitab Taurat. Dalam Kitab Amsal, simbolis pohon kehidupan dikaitkan dengan kebijaksanaan, dijelaskan:

(Kebijaksanaan) adalah pohon kehidupan bagi mereka yang berpegang padanya, dan berbahagia (setiap orang) yang mempertahankannya (Amsal 3: 13-18). Lidah yang menenangkan adalah pohon kehidupan, tetapi kesukaran di dalamnya adalah luka bagi jiwa (Amsal 15:4)


Begitu juga Kristen menganggap pohon merupakan hal penting, beberapa imam beranggapan bahwa simbolis pohon merupakan pola dasar. Dalam Kitab Kejadian, pohon kehidupan pertama kali dijelaskan dalam Kejadian 2:9, menjelaskan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di tengah-tengah Taman Eden. Dalam Kejadian 3:24, Kerub menjaga jalan menuju pohon kehidupan yang terletak di taman ujung timur. Simbolis Pohon kehidupan sampai saat ini telah menjadi subyek perdebatan, apakah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat merupakan pohon yang sama?

Kitab Henokh pada umumnya dianggap non-kanonik, juga menjelaskan bahwa pada masa penghakiman Allah akan memberikan semua yang tertulis namanya dalam Kitab Kehidupan untuk diberi makan buah dari Pohon Kehidupan. Kitab Amsal menggunakan istilah pohon kehidupan sebanyak empat kali, begitu pula Kitab Wahyu menggunakan bahasa Yunani Koine frase Xylon sebanyak empat kali. Frasa ini diidentifikasi sebagai pohon kehidupan dalam terjemahan Yunani Kuno dalam Perjanjian Lama, yang secara harfiah artinya 'Kayu (yang) Hidup'.

Simbolis Pohon Dalam Ajaran Zoroaster

Dalam tradisi kuno Zoroaster di Persia, menceritakan pohon ajaib yang disebut Haoma, disebutkan:

Kehormatan untuk Haoma... cabangnya sujud yang mungkin menikmatinya. Jiwanya berjalan ke surga. Pada awalnya Ormazd memberikannya kepada Haoma, berkilauan dengan bintang, dia telah mengikatnya pada puncak gunung. 

Ayat-ayat Zend Avesta menjelaskan, bahwa Haoma memang merupakan pohon ilahi. Dalam Mithraisme, simbolisme pohon ganda dianggap telah mewakili kutub alam semesta. Dua pohon berbeda warna disisi kubah berlawanan, salah satu bagian dalam dipenuhi daun sementara yang lainnya mati, matahari dan bulan berada di cabangnya. Mitos Mithraisme menjelaskan bahwa kehidupan berasal dari pohon, dan menggambarkan pohon yang berbicara dengan kepala dari cabangnya, puisi Persia menyebutnya sebagai pohon Waqwaq.

Simbolis Pohon Dalam Literatur Hindu Dan Buddhis

Pohon beringin (Akshaya Vata) yang terletak di tepi Sungai Yamuna di halaman benteng Allahabad, dekat pertemuan Sungai Yamuna dan sungai Gangga di Allahabad. Sifat kekal pohon ilahi ini telah dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab suci.



Selama siklus penghancuran penciptaan, ketika seluruh bumi diselimuti oleh air, Akshaya Vata tetap tidak terpengaruh. Pohon kehidupan ini mengisahkan bayi Krishna yang sedang beristirahat diatas daun saat tanah/daratan tidak lagi terlihat. Disini pula Markandeya dikisahkan menerima visi Tuhan, Buddha bermeditasi selamanya, dan pohon Bodi di Gaya merupakan manifestasi dari pohon ini.

Pohon Bo, juga disebut pohon Bodhi, dalam tradisi Buddhis merupakan Pipal (Ficus Religiosa) dimana Buddha duduk ketika mencapai Pencerahan (Bodhi) di Bodh Gaya (Gaya, negara bagian Bihar barat-tengah, India). Pipal tumbuh di Anuradhapura, Ceylon (Sri Lanka), dikisahkan pohon ini tumbuh dari pemotongan pohon Bo yang dikirim ke kota itu oleh Raja Ashoka pada abad ke-3 SM.

Menurut tradisi Tibet ketika Buddha pergi ke Danau Manasarovar bersama dengan 500 biksu, dia mengambil energi Prayaga Raj. Setelah tiba, dia meninggalkan energi Prayaga Raj dekat Danau Manasarovar, dikenal sebagai Prayang. Lalu menanam benih pohon beringin yang kekal disebelah gunung Kailash yang dikenal sebagai Istana Buddha.


Dalam naskah dan teks Buddhis, setelah mencapai pencerahan, Buddha menghabiskan waktu selama tujuh minggu bermeditasi di tujuh tempat yang berbeda, diatas simbolis teratai, didekat Pohon Bodhi. Sang Buddha menghabiskan minggu keenam setelah meditasi pencerahannya di kaki Pohon Mucalinda. 

Pohon Dalam Literatur Islam

Bagaimana penjelasan pohon dalam literatur Islam? Simbol pohon hanya memainkan peran kecil dalam Al-Qur'an itu sendiri, namun secara spritualis, seni, dan arsitektur Islam, telah menjadi salah satu simbol paling berkembang. Syajarat al-Tuba, Pohon Bliss, tidak muncul dalam nama ataupun keterangannya dalam Al-Qur'an. Tetapi ada beberapa pohon yang secara spiritual berbeda penjelasannya, dalam hadits dan diantara mistikus terkenal telah menjelaskan beberapa pohon yang terintegrasi ke dalam satu simbol yang konsisten. 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS 14:24-25)

Sirathal Mustaqim, jalan yang lurus atau 'jalan bagi orang yang jujur' yang disebutkan dalam surat Al-Fatihah, dan menurut al-Ghazali merupakan ekspresi yang mebgisyaratkan ke atas, yang juga dinyatakan dalam keyakinan. Dimana tidak ada hubungan antara kedua dunia, tidak ada inter-koneksi fisik sama sekali keduanya. Rahmat ilahi telah memberi kesempatan di dunia nyata untuk dapat terhubung dengan dunia alam Surgawi. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang masuk akal dimana simbol sesuatu menyatakan adanya Yang Satu di sana. 

Dalam Al-Qur'an, pohon itu diantaranya adalah pohon celaka yang berkaitan dengan iblis, yaitu Zaqqum di neraka. Pohon bidara berada di batas terluar, Sidratul Muntaha. Kemudian disebutkan pula pohon pengetahuan yang berkaitan dengan 'ilmu', sebuah pohon terlarang di taman surga. Dan pohon terakhir sering dikaitkan dengan ayat QS 24:35 yang menyebutkan pelita atau cahaya, ... yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat.

Demikian pula pohon kehidupan dalam literatur seni dan budaya Islam, sastra umum mengangkatnya dari Timur Tengah. Dalam Al-Qur'an ada satu pohon terlarang di taman surga, Iblis menyebutnya Pohon Keabadian. Dalam literatur hadis, Pohon Keabadian bukan pohon terlarang, lebih disamakan dengan Pohon Bidara yang berada di ujung batas Sidratul Muntaha, sebutan lain kemudian berkembang menjadi Pohon Bliss.



Pohon Pengetahuan (pohon ilmu) tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur'an atau hadis. Secara mistik, sastra dan filosofis telah berbicara tentang Pohon Pengetahuan dan Pohon Keabadian, seperti Rumi yang cenderung menyamakan kedua pohon dan menetapkannya sebagai karakteristik Pohon Dunia. Dalam buku 'Book of Certainty' karya Abu Bakr Siraj ad-Din, menyebutkan:

Di tengah surga tidak hanya terdapat air mancur, tetapi juga pohon, di kaki arus air mancur. Ini adalah Pohon Keabadian, dan itu digambarkan sebagai Pohon Batin yang tumbuh di Taman Hati... Setelah pengunjung/pendatang mabuk air mancur dan memakan buah pohon, mereka memperoleh kebijaksanaan Mata Hati, kontak langsung dengan Roh,...

Perkembangan paling kompleks tentang pohon Bliss dalam Qurrat al-'uyun. Abu al-Laith as-Samarqandi adalah salah satu hadits Mi'raj jelas, dan model pohon ini pernah diungkap oleh Ibn 'Arabi tentang Surga di al-Futihat al-Makkiya, disebutkan:

Nabi berkata, "Di surga, ada Pohon Bliss yang akarnya berada ditempat tinggalku dan cabangnya melindungi semua rumah-rumah surga. Tidak ada rumah atau tempat tinggal yang tidak memiliki salah satu cabang. Setiap cabang daripadanya terdapat spesies buah yang telah ada di dunia. Dan setiap bunga yang ada di dunia ada di cabang itu, tapi lebih berlimpah dan lebih baik sekali dibandingkan buah yang pernah ada di dunia, dan lebih merata daripada bunganya. Dan Pohon Bliss berbuah anggur, setiap cabangnya lebih lama dari perjalanan satu bulan, dan setiap buah anggur besar bagai kulit air yang membengkak.... Setiap yang diberkati memiliki cabang sendiri dengan nama tertulis di atasnya".

Kosmologi Ibn 'Arabi justru menggambarkan seluruh alam semesta sebagai rangkaian bola konsentris, dimulai dari Bumi, bola air, udara, Ether, bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus dan bintang. Di luar bintang adalah surga yang dibatasi, diatasnya merupakan Tahta Allah. Hanya ada tujuh lapisan konsentris, rumah yang diberkati terkait dengan Nabi, meliputi semua yang lain. Setiap lapisan memiliki nilai tak terhitung yang berisi rumah setiap individu yang tak terhitung jumlahnya.

Pohon kehidupan, Pohon Bliss dalam gambaran Ibn 'Arabi tumbuh terbalik dimana akarnya adalah kursi Allah, batangnya mencakup semua tujuh surga, dan cabangnya tertulis menembus setiap rumah individu yang berbagia. Seorang pria yang cerdas akan melihat ke atas untuk melihat pohon itu, tetapi orang yang bijak akan melihat pohon dengan pola dasar terbalik seakan-akan dia berada di pusat alam semesta.


Referensi

The Book of Certainty: The Sufi Doctrine of Faith, Vision and Gnosis. By Abu Bakr Siraj ad-Din, Martin Lings, Reissue 1996
The Book of Certainty, By Abu Bakr Siraj ad-Din
Symbol & Archetype: A Study of the Meaning of Existence. By Martin Lings, 3th Ed 2006
10 Sephirot, Christ the True Vine, Confronted animals ibexes a Tree of Life, An 1847 depiction of the Norse Yggdrasil as described in the Icelandic Prose Edda, 7th-century depiction of the Tree of Life in Palace of Shaki Khans, Mucalinda Lake (Pond) in Bodh Gaya. Image courtesy of Wikimedia Commons


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?