Pemerintah Tiongkok tergolong sangat cepat mengumumkan data pertumbuhan ekonomi. Ketika negara maju maupun negara berkembang belum ada yang mengumumkan, pemerintah Tiongkok sudah merilis pertumbuhan ekonomi terbaru pada Selasa (19/1). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2015 mengikuti kecenderungan penurunan sebelumnya menjadi 6,8 persen, yang membuat keseluruhan tahun 2015 hanya tumbuh 6,9 persen, terendah sejak tahun 1990.
Era pertumbuhan dua gidit telah berakhir sejak memasuki dasawarsa 2010-an. Sejak 2011 pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus menurun turun tanpa jeda.
Ada beberapa penyebab yang membuat perekonomian Tiongkok sudah mengalami kecenderungan menurun. Pertama, pertambahan tenaga kerja produktif melambat akibat kebijakan satu keluarga satu anak. Sekarang boleh dua anak.
Kedua, era upah buruh murah telah berakhir. Lihat The End of Cheap Chinese Labour and Where the Jobs are Going. Ditambah lagi dengan merebaknya aspirasi kelas menengah, terutama dari kalangan buruh. Demonstrasi dan pemogokan kian kerap terjadi.
Tiongkok tampaknya sedang berjibaku menuju keseimbangan baru. Pemerintah bertekad mengurangi ketergantungan pada ekspor dengan memacu permintaan domestik. Peranan sektor industri manufaktur secara sadar dikurangi dengan lebih memacu sektor jasa.
Sebagai konsekuensi dari masuknya renminbi ke dalam keranjang SDR, mau tak mau pemerintah Tiongkok secara bertahap menyesuaikan nilai tukar mata uangnya berdasarkan dinamika pasar. Lihat Renminbi Makin Berkibar. Era renminbi “anteng” telah berakhir. Mau tak mau perekonomian Tiongkok lebih bergejolak sebagaimana terlihat dari gonjang-ganjing di pasar saham dan tekanan arus modal keluar (capital outflow).
Indonesia berpotensi memperoleh manfaat dari transisi perekonomian Tiongkok. Restrukturisasi industri di Tiongkok mendorong relokasi industri, baik milik asing maupun milik pengusaha dan BUMN Tiongkok. Sejauh ini Vietnam banyak menikmatinya. Kalau kita bisa menarik 5 persen saja, jutaan tenaga kerja bisa terserap.
Beberapa tantangan menghadang. Pertama, di era pertumbuhan dua digit, komoditas Indonesia banyak disantap oleh Tiongkok. Bertahun-tahun sampai 2014, ekspor nonmigas terbesar mengalir ke sana. Sejalan dengan penurunan kinerja perekonomian Tiongkok, ekspor Indonesia ke Tiongkok turun, sehingga tahun 2015 Amerika Serikat menggantikan Tiongkok sebagai negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.
Sebaliknya, kelebihan produksi yang tidak terserap di pasar domestik membuat Tiongkok semakin agresif membidik pasar-pasar yang relatif besar seperti Indonesia. Tak pelak lagi, Tiongkok tetap saja menjadi asal impor terbesar kita, sekitar seperempat dari impor total. Impor dari Tiongkok tetap kencang juga karena topangan pemerintahnya lewat pinjaman proyek dan penanaman modal. Tiongkok mau “banting harga” di satu transaksi tetapi untung di transaksi yang lain. Oleh karena itu, Indonesia jangan gampang tergiur dengan penawaran murah.
[PORTAL-ISLAM] Wisbenbae.blogspot.com Ketua Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono menuntut terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Pu...Read more »
Aktivitas yang diduga dilakukan di dalam Hotel Alexis, Jakarta.
TRIBUN-MEDAN.com - Wisbenbae.blogspot.com Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3,...Read more »
Sandiaga Uno memuji Marcella Zalianty (Bambang E. Ros/Bintang.com)
Bintang.com, Wisbenbae.blogspot.com - Jakarta Sandiaga Uno mengungkapka...Read more »
[PORTAL-ISLAM] Wisbenbae.blogspot.com Hasil Quick Count (QC) Pilkada DKI Jakarta Putaran Dua yang digelar pada hari Rabu 19 April 2017 menunj...Read more »
Jakarta - Masjid yang diberi nama Masjid KH Hasyim Ashari itu dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar dengan luas bangunan sebesar 16.985,43 m...Read more »
Di hari peringatan kemerdekaan RI tahun ini, Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, terpantau ramai dan macet total. ...Read more »
Hanoi - Wisbenbae.blogspot.com Baru diluncurkan akhir tahun 2011 lalu, maskapai Vietjet langsung menyita perhatian karena pramugarinya yang berbi...Read more »
waini baru analisa jempolan !
ReplyDelete