GuidePedia

0

Pasca pemilu 2015 di Turki -mengutip Yvonne Ridley, jurnalis Inggris- menunjukkan bahwa Erdogan lebih konsisten terhadap demokrasi ketimbang para pemimpin AS dan Barat, yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi.

Barat konsern terhadap pelaksanaan demokrasi di dalam negeri, namun sama sekali tidak peduli dengan demokrasi di luar negeri. Praktek demokrasi Barat tidak ubahnya demokrasi primitif era imperium Romawi. Bagi mereka, demokrasi hanya eksklusif berlaku bagi warga kehormatan mereka, namun tidak bagi kasta pariah dan budak.

Disaat Erdogan menolak memulihkan hubungan dengan junta militer Mesir karena kudeta terhadap pemerintahan yang dipilih secara demokratis dan tindakan brutal mereka terhadap rakyatnya sendiri, Barat justru mengucurkan bantuan militer dan finansial kepada rejim militer, mencederai prinsip dan komitmen mereka sendiri.

Bahkan, mereka tidak perlu untuk sekedar berbasa-basi menjustifikasi tindakan memalukan ini. Obama baru saja mengumumkan paket bantuan militer sebesar 1,3 milyar, bertepatan dengan penjatuhan vonis mati atas presiden Muhammad Mursi dan 100 lebih pendukung Ikhwan.

Jika demikian, siapa yang demokratis? Erdogan, yang dicitrakan sebagai Sultan yang otoritarian, namun mendapat dukungan 40 persen suara rakyat dengan tingkat partisipasi 86 persen atau David Cameron, sang pemimpin Inggris yang 'demokratis',namun hanya memperoleh 0,8 persen suara rakyat Inggris?

(Ahmad Dzakirin)


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?