GuidePedia

0


Bismillahi rohmaani rohiim, hari Jumat tanggal 1 Mei 2015 kemarin kami gowes May Day! Terima kasih kepada para buruh sehingga kami dapat libur. Tetap berjuang ya, semoga apa yang diharapkan seperti kenaikan UMP bisa terwujud.

Semula kami ingin gowes ke luar Banten, maklum sudah lama kami gak “jalan-jalan” berjamaah. Namun apa daya, beberapa goweser harus stand by di tempat kerjanya karena pabrik mau shutdown atau persiapan May Day supaya tidak anarkis, atau jangan-jangan sudah pada tahu bakal nanjak, jadi menghindari tanjakan ke Kadudago yang katanya asoy geboy itu. Akhirnya, kita jalan-jalan di Banten sajalah karena masih banyak tempat yang belum dijelajahi juga. SIM alias Surat Izin Menggowes sampai subuh sudah diterbitkan. 

Sesuai masukan dari Om Yopie dan Om Didit dua minggu sebelumnya, saat ritual ke Puncak 45, kami putuskan akan nanjak ke Kampung Kadudago kemudian turun ke Kampung Kamasan, keduanya di Anyer. Barangkali masih ada goweser yang belum tahu di mana posissinya, karena kalau orang mendengar Anyer pasti terasosiasi dengan pantai. Padahal, di sebelah barat dari pantai Anyer terdapat dataran tinggi atau perbukitan yang dapat digunakan untuk jalur evakuasi kalau sewaktu-waktu terjadi tsunami. 

Titik start

Setelah sarapan di uduk Taman Puri yang katanya tempat favoritnya beberapa goweser ganjen, hehehe,,,, berempat kami start dari sini, yaitu Om Dono, Om Yopie, Om Didit, dan saya sendiri. Sedangkan Om Opik akan bergabung kemudian di Pasar Mancak. Saya dan Om Dono mengenakan jersi go green, sementara Abah dan Om Didit dengan jersi yang masih hangat, edisi geledek. Kami jadi tebak-tebakan, Om Opik nanti pakai jersi apa ya. Di uduk Puri ini pula Om Cupet mampir cuma untuk sarapan. Katanya dia sebetulnya sudah mimpi sarapan dengan rabeg dan semur jengkol di rumahnya Om Didit, namun apadaya belum rezeki ya, Om,,,, dapatnya nasduk saja, hehehe. 

Rawa Danau nun jauh di sana @Panenjoan

Sepertinya kami sudah terbiasa gowes dengan 4-5 personil. Dulu waktu ke Tanjung Lesung edisi 2.0, kami hanya berempat, yaitu Om Dono, Om Agus, Om Mars, dan saya,,,, ditambah pengawalan forerider roda empat oleh Om Yopie yang saat itu sedang cedera kaki sehingga absen gowes. Pengurus teras semua tuh, hahaha. Lalu sewaktu ke Puncak Habibie, kami cuma berempat, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Prie, dan saya. Terus waktu trek penyesalan ke Rawa Danau, pun hanya berempat, yaitu Om Yopie, Pak RT Kang Ola, Om Pri, dan saya. 

Untuk menghemat waktu dan tenaga, kami naikkan sepeda-sepeda kami ke atas pick upsampai ke Panenjoan, titik start. Dari situ kami tinggal merosot saja ke Pasar Mancak. Sangat lumayan menghemat 20 km dengan jalur, walau jalan aspal mulus, lewat super tanjakan di Cilowong. Hampir di sepanjang Jalan Takari, kami lewati banyak goweser lain yang sedang khusyuk gowes menanjak ke arah Cilowong. Om Yopie sebagai ‘sesepuh’ goweser Serang tentunya di sepanjang jalan banyak disapa goweser-goweser tadi. Tak terasa, ternyata perjalanan ke Panenjoan singkat kalau sepeda di atas pick up, hanya sepeminuman teh. Padahal kalau gowes bisa hampir 2 jam, alias sepeminuman kopi, itu pun sampai kopinya dingin. 

Duo geledek diapit Go Green

Sekitar pukul 8.20 kami tiba di Panenjoan (365 m dpl), tepatnya di sebelah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Cagar Alam Rawa Danau Jalan Raya Gunung Sari-Mancak Km.7. Oh,,, ternyata masih Jawa Barat ya? Kenapa tidak Banten? Ternyata hierarkinya seperti ini: Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bidang KSDA Wilayah I Bogor, Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Resor Konservasi Wilayah I. Resor inilah yang di sini mengurusi Cagar Alam Rawa Danau dan Gunung Tukung Gede. Sepertinya di Provinsi Banten memang belum ada Balai Besar KSDA. Di kawasan ini, masih terjadi beberapa permasalahan, antara lain adanya tempat wisata ilegal, tempat kita bisa memandang lepas ke bawah kawasan Rawa Danau, sekaligus sampah yang dihasilkannya. Namun, sekarang sepertinya telah ditertibkan sehingga tidak ada lagi spot tadi, sampah, dan warung-warungnya. 

Selepas puas menikmati pemandangan Rawa Danau di bawah, kami segera lanjutkan perjalanan ke arah Pasar Mancak, tempat di mana Om Opik sepertinya sudah kesal menunggu kami yang tak jua muncul. Maklum dia sudah gowes dari Gerem pagi-pagi sekali dan sudah tiba di Mancak saat kami masih sarapan dan ngobrol di uduk Puri! Untungnya dia gak putar balik lagi, seperti saat perjalanan gowes ke Km. 0 Pulau Jawa di mercusuar Anyer, dulu. Menuju Pasar Mancak ibaratnya kami mendapat bonus sebelum bekerja karena jalanan terus-menerus turun sepanjang sekitar 6 km sementara kami belum berkeringat. Tak apalah, bonus dibayar dimuka. Saya sih kalau turunan gitu selalu bisa menyusul. Bukan apa-apa, ternyata berat badan dikombinasikan dengan gravitasi sangat mendukung kecepatan. Sampai Om Didit bingung, kalau saya selalu menyusul dia saat turunan, hahaha. Belum ketemu Om Opik saja, lebih kencang loh di turunan. 

Sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami Pasar Mancak (190 m dpl) dan Om Opik pun siap bergabung. Ternyata dia memakai jersi geledek, hahaha. Ternyata pula, odometer dia sudah menunjukkan lebih dari 15 km dari Gerem, padahal kami yang dari Panenjoan masih pada segar nih. Jangan dijadikan alasan capek ya, Om, hehehe. 

Kami lanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Anyer dengan lapisan aspal nan mulus yang konturnya cenderung roller coaster. Ini berarti turunan mantap akan selalu diikuti dengan tanjakan pada akhirnya. Masih enjoy karena masih pagi, sampai berakhir sekitar pukul 9.30 di simpangan jalan baru Tegal Cabe, Kp. Hamurang (60 m dpl), sebelum Pasar Anyer, sekitar 8 km dari Pasar Mancak. Di sini kami menemukan sebuah warung gorengan dan teh manis yang penjualnya kali ini bukan teteh, tapi akang. Penonton kecewa, hehehe. Tapi emang pisang gorengnya enak sih walaupun digoreng sama si akang. Saya cek kecepatan maksimal dari trek yang kami lalui tadi mencapai 60 km/jam. Lumayan kalau buat saya sih. Om-Om mungkin banyak yang lebih cepat. 

Kadudago di belakang

Perjalanan selanjutnya menuju Kp. Jaha melewati jalan baru, kemudian jalan alternatif yang menghubungkan Anyer dengan Labuan. Dari sini, tujuan kami sudah tampak tinggi menjulang di perbukitan di belakang. Pun tampak menara relay stasiun TV di kejauhan. Namun, walau terlihat tinggi, tidak sampai menimbulkan rasa gentar seperti penampakan tanjakan ke Kedurung yang dari arah Grogol-Cilegon sudah kelihatan seperti garis perak tipis nun di atas bukit. Melihatnya saja ngeri, bagaimana menaikinya, eh maksudnya mendorong sepeda ke sana. 

Arah ke Kp. Jaha, Anyer

Memasuki sebuah perkampungan selanjutnya, kondisi jalanan makadam dengan sawah dan air mengalir di kanan-kiri mengingatkan kami pada suasana alam Baros. Ternyata eh ternyata, desa ini bernama Desa Sindang Mandi, Kecamatan Anyer, identik dengan nama desa yang serupa di Kecamatan Baros. Dari sinilah tanjakan dimulai. 

Scattered dibaca skateboard

Jalanan selebar 3 m berlapis aspal hotmix mulus dengan kiri-kanan kebun penduduk, terasa seperti di Kp. Cipala, Merak. Jadi ingat dulu sewaktu nanjak ke Cipala terasa berat karena harus menggendong plastik berisi pohon-pohon untuk ditanam di atas bukitnya. Pemandangan dari atas pun hampir sama dengan di Cipala. Di sini kami bisa melihat Anyer, mercusuarnya, lautan lepas Selat Sunda dikawal Gunung Krakatau, Pulau Sebesi, dan Pulau Sumatera di kejauhan. Bandingkan dengan pemandangan serupa dari Cipala, yang kita bisa melihat Merak dan Bojonegara, dan lautan lepas Laut Jawa. Hampir sama. 

Gunung Karakatau, Selat Sunda di belakang. Gak tampak ya...

Selepas pukul 11, setelah nanjak sekitar 1,5 km, kami tiba di Kp. Kadudago (251 m dpl),check point pertama. Sekilas suasana di sini terasa seperti di Kaduengang (824 m dpl), Pandeglang, yaitu sama-sama tempat bersemayamnya pada highlander, walaupun ketinggiannya benar-benar berbeda. Bedanya lagi, kalau dari Kaduengang kita melihat Kota Serang dan Pandeglang di kejauhan, kalau dari sini kita melihat Anyer dan laut lepas. Di sini pula kami sholat Jumat terlebih dahulu. Goweser juga ingin masuk surga, kata Pak RT Kang Ola mah. 

Sehabis sholat kami mencari warung yang menjual nasi setidaknya intel alias indomie telor.

Kadudago!

Namun, tidak ada penjual makanan dan kalaupun ada warung yang jual indomie, kata si ibu pemiliknya, gasnya habis, belum ada kiriman lagi. Wah, gimana ini, mau diajak nanjak perut gak diisi nasi. Kasihan Om Opik yang merindukan nasi. Akhirnya, perut cukup diganjal dengan donat buatan kampung, piscok, dan kacang-kacangan. Mudah-mudahan cukup untuk menambah energi. Uang di sini gak laku, ada uang gak ada barang (baca: nasi). 

Sekitar pukul 13, karena tidak berhasil mendapatkan makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke menara relay TV. Baru saja lepas dari Kp. Kadudago, kami disambut jalanan berbatu-batu yang menanjak yang membuat sepeda sulit digowes. Akhirnya yuk kita TTB. Tidak lama, sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami di check point kedua, yaitu menara relay TV RCTI dan SCTV Cilegon (307 m dpl). 


Tentu saja kami mengabadikan situasi di sini, kecuali Om Opik yang sepertinya mimpi ketemu warung indomie, di pos satpam kawasan ini. Oh ya, sampai sini, sepeda kami masih bersih-bersih loh. 

Lima pengelana kelaparan

Hip Hip Hura,,,, di tower Kadudago

Lebih dari setengah jam foto-foto, kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Kp. Kamasan, melewati trek tunggal. Wah, kayaknya asyik nih. Jarak baru sepelemparan tombak saja, ketika beruntung kami bertemu penduduk setempat yang sedang panen kelapa muda. Ya sudah, kami ikut panen juga, terutama juga setelah ada permintaan khusus dari Om Opik. Ini seolah peribahasa, tak ada indomie, kelapa muda pun jadi.Alhamdulillah segar. Kata Om Didit, kelapa airnya banyak ya, gak habis-habis. Padahal sepertinya perutnya sudah kembung dan ingin segera melahap daging kelapanya yang aduhai. 

Alhamdulillah dapat klamud, suweger....

Setelah badan terasa lebih segar kembali, kami lanjutkan perjalanan. Barulah terasa di sini, betapa bekas hujan beberapa hari sebelumnya cukup membuat jalanan tanah yang kami lalui licin dan becek. Mana (bekas) hujan, becek, gak ada ojek. Di beberapa bagian jalan, penduduk setempat membuat pagar dari bambu untuk menghalangi jalan supaya pemotor tidak lewat situ. Ini supaya roda-roda motor yang besar bermotif tahu dengan tarikan gas sekuat-kuatnya akan membuat jalan menjadi semakin hancur, cur, cur. Kalau sepeda sih, tinggal diangkat saja melewati pagar itu. Lupa saya tidak memfotonya. Maklum lagi ngos-ngosan. Kondisi jalan memang parah, karena ban-ban sepeda kami menjadi donat, danungowesable alias tidak bisa digowes. Walau demikian, parahnya tidak sedahsyat saat ke trek penyesalan Rawa Danau. Dulu, masukkin sepeda ke lumpur, udah bisa berdiri sendiri tanpa standar, saking beceknya seperti bumbu pecel. Bicara tentang standar, sepertinya standar sepeda terasa perlu saat kita memfoto dengan pengatur waktu tapi tidak bawa tripod, karena kamera disimpan di sadel sepeda yang sedang berdiri tegak tadi. 

Walau lapar masih tabah

Sebelum berangkat ke Kadudago, saya mengunduh peta GPS dari situs Every Trail. Terima kasih, Om Icall telah mengunggahnya. Kami jadi tinggal mengikuti saja peta tersebut walaupun tidak sampai 100%, karena kami finish di Pasar Sirih, alih-alih di Curug Sawer seperti peta tersebut. Setiap ada persimpangan jalan di dalam hutan, biasanya saya cek apakah kami sudah on the track atau tidak. Kecuali ada satu persimpangan yang luput. Entah mengapa saat di belokan itu, GPS pas ada di saku dan saya tidak teliti melihat jalur. Akibatnya, kami sempat salah jalan sekitar beberapa kilometer. Tidak terlalu jauh sebetulnya, cuma karena kondisi jalan sangat becek, membuat kami harus TTB dan memakan waktu lumayan lama. Sudah ada sih patokan check point 3 di atas puncak bukit, dan kami berusaha mencapainya dengan mengikuti jalur baru, namun karena GPS tidak dilengkapi topografi, jadi tidak ketahuan jalan di depan akan memutar ke arah mana, akan menaik atau menurun, gelap, sementara tebing dan jurang di sisi kami. Memang ada jalan setapak di jalur nyasar yang kami lalui tetapi tampak jarang dilewati oleh manusia. Terlalu rimbun.

Untuk mengurangi risiko nyasar yang semakin jauh, terpeleset ke bawah jurang, kami ambil keputusan untuk putar balik ke jalur semula. Lapar kian menggerogoti. Persediaan air minum pun semakin menipis. Om Opik makin berhalusinasi karena belum ketemu nasi dan mencoba mengajak ke jalur yang kata penduduk di situ, lebih pendek menuju Anyer. Tapi jalur itu memang belum peta GPS-nya. Lagipula kami kan belum merasakan merosot di turunan single track yang katanya asoy geboy tadi ke arah Kp. Kamasan. Jadilah kamikeukeuh menuju ke check point 3 di atas bukit. Oh ya, di jalur nyasar tadi, kami bertemu dengan rombongan pemotor penduduk setempat yang sedang ‘merusak’ jalan. Bagaimana tidak, jalan yang super becek, digerus oleh ban-ban tahu yang selip. Ayo, Mang, lanjutkan! Diukur-ukur, ternyata kami nyasar cuma 0,5 km dikali dua karena bolak-balik, alias cuma 1 km, tapi terasa jauh amat ya, Om. 

Titik tertinggi

Penunggu puncak

Check point 3 (458 m dpl). Jam menunjukkan 15 menit menjelang pukul 16. Udah sore euy, mana belum sholat ashar. Om Opik khawatir kalau kami sampai kemalaman di dalam hutan. Inilah puncak dari bukit yang kami tuju sekaligus akhir dari tanjakan yang menyiksa tadi. Untungnya di sana ada beberapa batu besar yang pas digunakan untuk meluruskan tulang punggung. Saya dan Om Opik langsung tepar. Yang lain masih sempat foto-foto. Hebat euy. Udara di sini sangat sejuk karena banyaknya dedaunan dari pohon-pohon yang besar. Tidak tahu, sepertinya banyak juga jinnya di sini. 

Ternyata cuma 2 km saja dari tower tv tadi sampai ke puncak ini, tapi dibutuhkan waktu lebih dari 3 jam mencapainya, gimana Om Opik gak lapar, coba, hahaha. Nah, Om, dari sini tinggal menurunkan seat post saja, menikmati bonus turunan sampai ke Kp. Kamasan.

Om Opik sudah pengen pulang

Om Didit konsentrasi banget atau tegang inih?

Tidak berlama-lama di sini, kami mulai bisa gowes menyusuri single track yang masih sama, yaitu licin dan ada bekas ban motor di banyak tempat sehingga membuat ban-ban sepeda sering selip. Beberapa kali terpaksa sepeda berbelok dengan ban belakang karena selip tadi. Asyik sebetulnya. Tinggal kami harus lebih hati-hati saja. Saya sampai seperti jarum jam saja saat selip. Tangan kiri memegang pohon, tangan kanan memegang sepeda, terus muter deh. Kalau menggunakan sepeda FR, DH, atau AM, turunan ini akan terasa lebih mantap! Nih, trek gorolong ini sepertinya favorit Om Cep yang selalu memertanyakan kenapa orang-orang masih senang nanjak di usia seperti sekarang, hahaha. Yah, yang lain mah masih muda, Om, seperti saya, termasuk Abah Yopie, masih awet muda. Di beberapa jalur, kami sempat ragu karena walaupun on the track, tetapi kondisi jalan sudah dipenuhi ilalang dan tampak jarang dilewati manusia. Namun, bismillah kami tetap lewati jalur itu, dan alhamdulillah beberapa saat kemudian terlihat tanda-tanda kehidupan. 

Akan lebih mantap kalau kondisi tanah tidak terlalu licin seperti sekarang. Jadi, masukan saya, kalau Om-Om mau remedial ke sana, saya sarankan saat musim kemarau saja, supaya lebih nikmat dan terasa sensasi turunannya. Keasyikan di turunan single track ini sepertinya tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Sok cobian weh lah. Saya cek panjang turunan single track ini sekitar 4,6 km sampai dengan batas bawahnya di 88 m dpl. Lumayanlah kalau buat saya mah. 

Sampai di Kp. Kamasan, kami melihat manusia, kehidupan, dan jalan yang berlapis aspal seperti melihat emas, hahaha. Kami putuskan untuk langsung menuju Pasar Sirih untuk sholat ashar dan ketemu teman lamanya Om Opik, yaitu nasi. Menjelang pukul 17, di Pasar Sirih, karena perut sudah begitu lapar, kami makan dulu. Nasi padang sepertinya paling cocok karena gampang dan cepat. Padahal, sepertinya makanan apapun saat itu pasti akan terasa enak, saking laparnya. Setelah kenyang, kami sholat ashar dan istirahat sebentar sambil menunggu sholat magrib. Saya cek GPS, tripmeter kami hanya 30 km padahal sudah 8 jam kami jalan-jalan. #Oow,,, we're in trouble.

Selepas magrib, niat kami akan mencari pick up untuk evakuasi kembali ke Serang. Namun, karena tripmeter masih menunjukkan 30 km, kami tamboh cie gowes dulu ke Pasar Anyar. Lagian jalannya mulus dan datar koq, apalagi tadi kan sudah ketemu teman lama, si nasitea. 

Mainan baru Om Didit

Siap-siap NR nih. Lampu-lampu sepeda disiapkan. Om Didit yang punya mainan baru, yaitu lampu belakang yang memiliki sinar ala laser berwarna merah sebagai pembatas jalur sepeda dari Om Mars, kami tugaskan sebagai sweaper, sementara Abah di depan. Sampai di Pasar Anyer, kami putuskan untuk terus gowes setidaknya sampai Cilegon, sambil mengawal Om Opik. Namun, memasuki kawasan industri selepas Pasar Anyer, kami harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan super besar, kalau dibandingkan sepeda-sepeda kami. Karena gelap, polusi asap knalpot yang sebenarnya tebal, tidak terlihat, hanya bisa dirasakan, uhuk...uhuk.... Banyak tantangan kalau melewati kawasan ini. Apalagi saat truk-truk menyusul, grogi rasanya. Sepeda terpaksa beberapa kali harus keluar jalur. Ngeri. Sementara Abah Yopie dan Om Dono sudah ngacir duluan. Beberapa kilometer setelah melewati gerbang masuk ke Pelabuhan Cigading, akhirnya, saya, Om Didit, dan Om Opik menyerah. Om Didit langsung menelpon temannya untuk mengevakuasi kami yang menunggu di ****mart di Ciwandan (16 m dpl). Risikonya terlalu tinggi kalau harus bertahan melawan truk. Abah Yopie dan Om Dono yang tadi sudah ngacir duluan sepertinya sudah tiduran di atas rumput di sekitar gerbang masuk kawasan industri KIEC. Sampai finish, lumayan menambah tripmeter menjadi 50 km. Malu lah kalau cuma dapat 30 km padahal waktu tempuh jalan-jalan keseluruhan mencapai 12 jam! Hahaha, parah. 

Resah dan gelisah menunggu bala bantuan

Singkat cerita, dengan menumpang pick up, setelah mengantar Om Opik ke Gerem, kami langsung menuju Serang. Saya sendiri tiba di rumah sekitar pukul 22.30. Belum memecahkan rekor saat harus pulang sekitar tengah malam sehabis ekspedisi curug Lawang dulu. Walau demikian, kesimpulan akhir, saya, Om Dono, Abah Yopie, dan Om Didit sih YES. Om Opik bagaimana? Yes juga, kan?

Nih, beberapa hasil pemetaan treknya di bawah ini.

Profil turunan single track Kp. Kamasan


Profil tanjakan ke Kadudago

SXC2 Serang XC Community www.sepedaan.com


Sumber

lanjutin di sini !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?