GuidePedia

1


Beberapa stasiun televisi di Jepang dan Korea Selatan mulai menyensor kimono dan hanbok dalam tayangan mereka, dan mengaku terinspirasi dari stasiun televisi Indonesia yang menyensor kebaya. (photos from flickr and ballardadventure.com, censored by wisbenbae)



TOKYO, Wisbenbae – Beberapa stasiun televisi di Jepang dan Korea Selatan dikabarkan mulai menyensor pakaian tradisional kimono dan hanbok dalam tayangan mereka. Para petinggi stasiun televisi yang menetapkan kebijakan ini sepakat bahwa mereka terinspirasi oleh stasiun televisi asal Indonesia, Indosiar, yang menyensor pakaian kebaya dalam acara Puteri Indonesia 2016 beberapa hari yang lalu.

Chief Operating Officer Tokai Variety Broadcast (TVB), Mitsui Sano, mengatakan bahwa langkah ini diambil untuk memodernisasi dunia pertelevisian Jepang. Menurutnya, langkah televisi Indonesia dalam menyensor kebaya sangat tepat karena pakaian tradisional kini sudah kuno dan sebaiknya diganti dengan pakaian robot. Oleh karena itu pihaknya ikut menyensor pakaian tradisional Jepang, kimono.

TVB bahkan menyensor kimono dengan mosaik, dan secara tidak langsung menempatkannya setingkat dengan adegan Japan Adult Video (JAV), atau tontonan dewasa.

“Ini memang langkah berani, tapi dengan semakin tingginya persaingan stasiun televisi di Jepang, kami harus selangkah lebih maju. Oleh karena itu kami menghilangkan tradisi-tradisi lokal yang asli di penayangan kami, dan ingin menggantinya dengan budaya robot hasil industri karena itulah masa depan,” ujarnya dalam siaran pers Selasa lalu (23/2).

Sano berpendapat bahwa di tempat modern seperti Jepang, segala budaya tradisional harus ditinggalkan agar masyarakat bisa melompat maju ke jenjang evolusi manusia yang lebih tinggi. Yang membuatnya sempat terhenyak adalah bahwa stasiun televisi di Indonesia ternyata sudah menyadari hal tersebut lebih dahulu ketimbang Jepang.

“Manusia saat ini sudah berada dalam fase digital dan wireless. Stasiun televisi harus berinovasi agar bisa membawa manusia melompat menuju fase berikutnya, yaitu fase mindless. Dalam langkah ini, stasiun televisi di Indonesia sudah jauh lebih maju dibandingkan Jepang ataupun negara-negara maju lainnya. Kami perlu belajar banyak dari Indonesia untuk masuk ke dalam fase mindless ini,” paparnya lebih lanjut.

Di tempat terpisah, Broadcast Director Gangam Network, Choi Ban-Hyuk, juga mendukung sentiment tersebut. Stasiun televisi asal Korea Selatan ini juga mulai menyensor pakaian tradisional hanbok dengan alasan yang serupa.

Stasiun televisi, lanjut Choi, merupakan agen perubahan dalam evolusi manusia dan budayanya. Keragaman dalam tradisi di dunia ini menurutnya sudah usang, dan memang harus diganti oleh budaya robot tunggal yang memiliki tradisi dan budaya patuh terhadap segala macam perintah dan doktrin.

“Karena itulah kami harus mengambil langkah radikal. Bagi pihak kami, ini semacam misi suci untuk memajukan peradaban manusia, mengubah budaya tradisional menjadi budaya robot. Sudah sewajarnya jika ada yang baru, yang lama harus ditinggal, ini termasuk juga dengan budaya dan tradisi kami seperti hanbok,” jelas Choi.

Keputusan sensor yang dilakukan oleh stasiun-stasiun televisi ini menimbulkan kontroversi di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan di masyarakat protes, menganggapnya sebagai penghinaan terhadap budaya dan tradisi lokal, mengingat kimono dan hanbok sudah menjadi bagian dari sejarah negara masing-masing selama berabad-abad. Para pengamat juga menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang ‘memalukan’ dan ‘tidak perlu’. Tidak diketahui apakah nantinya stasiun-stasiun televisi tersebut akan merespon protes dari masyarakat terkait tindakan sensor ini. (SMG)


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?