GuidePedia

0


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Banyak kritik diarahkan ke Saudi. Terlebih setelah suasana musibah yang banyak menimpa jamaah haji. Tentu saja tulisan ini bukan untuk membela saudi. Kami bukan warga saudi, dan kami juga tidak dibayar saudi untuk tulisan ini.

Namun ada satu fenomena unik ketika ada orang yang mengkritik Saudi. Rata-rata mereka berpemahaman liberal atau penganut syiah. Kebanyakan awak media massa atau kontributor media liberal. Sisanya hanya orang awam yang buta keadaan, karena terpengaruh hasutan orang mereka.

Dua pemahaman ini, liberal dan syiah, bagai dua sisi mata uang, selalu bekerja sinergi, terutama ketika menghadapi ahlus sunah wal jamaah, yang mereka juluki dengan wahhabi.
Dan selalu saja jurusnya sama, sudutkan wahhabi melalui celah Saudi.

Sebenarnya apa kepentingan mereka dengan saudi?
Mereka bukan warga Saudi. Mereka juga bukan pebisnis yang nasbinya bergantung pada kebijakan pemerintah Saudi. Dan mereka juga bukan karyawan kedutaan RI untuk saudi.
Lalu apa kepentingan mereka dengan pembangunan di Saudi?

Apakah mereka dirugikan dengan pembangunan gedung-gedung megah itu?
Apakah mereka turut ditarik pajak gara-gara pembangunan masjidil haram nan megah itu?

Lain halnya, jika yang membangun proyek ini pemerintah RI, yang bekerja sama dengan Cina atau Amerika. Mereka sah-sah saja memberikan kritik dan protes. Karena setiap WNI, baik langsung maupun tak langsung, memiliki kepentingan dengan kebijakan pemerintah kita.

Kita semakin yakin, sebenarnya tujuan besar mereka bukan dalam rangka kritik kebijakan pemerintah Saudi, toh mereka juga tidak punya kepentingan dengan itu. Tapi kritik Saudi, hakekatnya untuk menyudutkan Wahhabi.

Mengapa Mereka Selalu Bersinergi?

Karena JIL itu munafiq, dan munafiq selalu membela kesesatan, seperti Syiah dan Ahmadiyah.

Jasa Saudi yang Terlupakan

Mari melihat Makkah dari sisi praktis saja dengan lebih obyektif. Kita akan melakukan perhitungan kasar untuk sejumlah kebutuhan aktivitas jutaan manusia dari berbagai negara di kota Mekah.

Makkah dalam kesehariannya membutuhkan jutaan liter air. Jika 1 orang membutuhkan 20 liter air bersih untuk MCK (standar minimal) di luar zam-zam maka sehari Makkah memerlukan sekitar 20 liter x 4 juta orang = 80 juta liter air.

Padahal lembah hijaz itu, tidak ada sumber air selain zam zam. Sumber Air bersih untuk kebutuhan MCK adalah laut merah, yang disuling. Itupun harus dialirkan sejauh 60 km.

Anda yang pernah Umrah maupun haji di sana, pernah merasakan kesulitan mendapatkan air bersih? Pernah terkendala dengan kran macet, tandon kosong, seperti keluhan air PAM di tempat kita?.

Kita beralih ke kebutuhan air minum dan wudhu di masjidil haram, air zam zam.
Jika Setiap hari 1 orang jamah rata rata mengambil 3 liter, maka dalam 1 hari, ada 12 juta liter zam-zam harus disediakan. Belum lagi zam-zam yang dibawa jamaah haji dan umrah, untuk oleh-oleh di tanah air.

Adakah jamaah mengeluh karena tidak kebagian zam-zam? Kayaknya belum pernah masuk berita media liberal? Berarti tidak pernah terdengar keluhan ini.

Kita beralih ke masalah sampah.
Jika seorang jamaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari, berarti 20 gr x 4 juta = 80 juta gr = 8 ton sampah kering perhari yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan.
Kita tidak bisa bayangkan, andai kota Mekah ada di bumi jakarta. Betapa pusingnya pemerintah DKI dalam menanganinya. Mungkin presiden harus sediakan menteri khusus urusan sampah.

Selanjutnya masalah Sanitasi.
Untuk bisa BAB, tentu butuh sarana dan prasarana.
Sekarang, berapa kotoran padat dan cair manusia di Mekah yang harus dibersihkan?
Jika seorang jamaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair, tentu jumlahnya mencapai sekitar 20 ton kotoran padat dan 40 ton kotoran cair.

Adakah jamaah mengeluh terekena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang gak beres? Hampir tidak kita jumpai.

Mungkin Anda perlu tahu, pengelola masjidil haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan.

Tenaga kerja pembersih masjidil haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan.
Singkatnya ratusan Tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar masjidil haram tetap bersih dan nyaman.

Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja itu?

Adakah jamaah diminta untuk infak?
Atau anda pernah melihat ada kotak infak bersliweran di masjidil haram?

Jutaan riyal dikeluarkan pengurus masjidil haram, sementara kita sepeserpun tak diminta iuran.

Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas di Makkah. Tanpa ini, anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat Umrah.

Jil, syiah, harakiyin boleh boleh saja mengkritisi, tapi sebeumnya ngaca dulu siapa dirinya? Dia pernah infaq tunai satu juta rupiah?? Padahal itu baru 280 riyal…

Tapi wajar, mungkin mereka bukan tipe manusia yang pandai bersyukur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مِنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Orang yang tidak pandai mensyukuri manusia, tidak akan bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad 8159, Abu Daud 4813 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Allahu a’lam

Sumberlanjutin di sini !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?