GuidePedia

0
Sayang! Dylann Storm Roof Bukan Muslim

Jika ada yang paling tak menarik dari insiden penembakan di Gereja Charleston, South Carolina, AS, adalah penembaknya bukan Muslim.

Lebih tidak menarik, insiden ini mengarahkan pers pada pengungkapan betapa rasisme dan kebencian terhadap kulit hitam terpelihara sedemikian rupa, terutama di South Carolina. Mereka nyaris tak tersentuh, bebas dari stigma teroris dan ekstremis.

Jumlah mereka, menurut Southern Poverty Law Center (SPLC), mencapai 20 di South Carolina. Terdiri dari dua faksi Klu Klux Klan (KKK), empat neo-Nazi, kelompok anti-imigran, serta kelompok-kelompok superioritas kulit putih.

Mereka, seperti sub-budaya lainnya, bukan kelompok homogen. Mereka dipersatukan oleh kebencian terhadap ras tertentu dan pemerintah.

Ideologi mereka bukan agama, tapi senjata. Di salah satu situsnya, kelompok sayap kanan merekomendasikan setiap anggotanya membeli senjata apa saja.

Kelompok lain mencomot begitu saja ideologi Nazi, dan mengadopsi semua simbol yang pernah digunakan Hitler, dan mliternya.

Hampir semua kelompok, neo-Nazi atau bukan, percaya Kaukasian atau Bangsa Arya berasal dari kolam gen unggul, dan bangsa lain jauh lebih rendah.

Ada kebencian dan sakit hati terhadap kulit hitam. Pernyataan Dylann Roof; "Kalian mengambil alih negara kami," mencerminkan semua itu. Betapa bangsa yang mereka perbudak di AS, kini memimpin AS.

Mereka juga membenci Hispanik, kelompok yang berkembang akibat migrasi.

Afinitas lama dengan ideologi Nazi membuat kelompok-kelompok ini juga membenci Yahudi. Kebencian yang mendalam, dan sedemikian lama, membentuk kepercayaan umum bahwa pemerintah AS dikendalikan Yahudi. Mereka percaya AS adalah Zionist Occupied Government (ZOG), atau pemerintah pendudukan Zionist.

Pertanyaannya, jikadi South Carolina terdapat 20 kelompok supremasi kulit putih, berapa di seluruh AS?

SPLC, kelompok advokasi yang melacak kelompok ini ke seluruh AS, mengatakan terdapat 784 kelompok supremasi kulit putih aktif di seluruh AS pada tahun 2014.

Tahun lalu, survei terhadap 382 lembaga penegak hukum menemukan 74 persen mengatakan ekstremisme anti-pemerintah sebagai satu dari tiga ancaman teroris di wilayah hukum mereka.

Sejak 9/11, ekstrimis sayap kanan menyerang rata-rata 337 kali per tahun. Muslim Amerika melakukan serangan sembilan kali per tahun.

University of Maryland, menggunakan metodologi penelitian berbeda, menemukan ekstremis sayap kanan melakukan 65 serangan sejak 9/11. Ekstremis Muslim hanya 24 kali melakukan serangan.

Supremasi kulit putih tidak pernah utuh. Mereka terpecah-pecah, berkeping-keping, sampai akhirnya menjadi individu-individu yang bekerja sendiri-sendiri.

Andai mereka Muslim, julukan mereka adalah teroris swakerja. Karena mereka non-Muslim, pers -- polisi dan penegak hukum AS -- menyebutnya lone wolf, serigala yang bekerja sendiri, tidak berafiliasi dengan salah satu kelompok.

Fenomena ini, menurut BBC.co.uk, diyakini terdorong oleh perkembangan Internet dan media sosial. Tidak jarang, beberapa penyendiri berdialog, dan membentuk kelompok baru.

Tahun 2009, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan; "serigala tunggal supremasi kulit putih adalah ancaman teroris domestik paling signifikan. FBI memperingatkan lembaga penegak hukum paling rentan disusupi ekstremis sayap kanan.

Menggunakan peringatan FBI, kita layak bertanya siapakah polisi kulit putih yang mudah melepas tembakan ke remaja kulit hitam? Sayangnya, tidak ada di antara polisi itu yang dituduh lone wolf.

Sayang, Dylann Roof bukan Muslim. Tindakannya membuat kita tahu bahwa ekstremisme Muslim masih terlalu sedikit dibanding serangan lone wolf supremasi kulit putih.

Betapa kita tahu jika bukan Muslim yang melakukan tindakan keji, hanya sedikit -- atau mungkin sebentar saja -- media memberitakan. Jika yang melakukan Muslim, sekecil apa pun tindakan ekstrem itu memicu reaksi luar biasa dan maki-maki.

Sudahlah! Sebentar lagi berita tentang Dylann Roof dan tindakan kejinya di Gereja Charleston akan lenyap begitu saja. [yy/inilah]

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?