GuidePedia

1


Pasha dan Kelatahan Jabatan

Tak semua artis yang beralih menjadi pejabat atau pemimpin daerah bisa bersikap luwes dan flamboyan. Ada beberapa yang justru gagal membaur dan tak bisa melepaskan kulit keartisannya.




Dari selebritis kemudian berubah menjadi kepala daerah, tentu ini bukan hal baru dalam dunia politik. Sudah banyak contohnya, mulai dari Rano Karno alias Si Doel anak sekolahan yang menjabat sebagai gubernur Banten, hingga Deddy Mizwar alias Bang Jack si marbot Mushola yang menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Barat.

Di luar negeri sana malah lebih elok lagi, tingkatannya bukan lagi bupati atau gubernur, tapi sudah level presiden. Ha sampeyan tengok saja, ada Joseph Estrada yang pernah jadi Presiden Filipina, hingga Ronald Reagan yang dulu sempat menjabat sebagai Presiden Amerika serikat.

Deretan pemimpin yang lahir dari dunia selebritas yang gemerlap dan berisik tadi memanfaatkan benar kepopulerannya untuk meniti tangga karir politiknya. Tentu hal itu tidak salah, karena bagaimanapun, modal politik yang paling utama adalah  Popularitas dan Seksualitas Elektabilitas.

Lagipula, dunia showbiz dan dunia politik kan sama-sama tak ubahnya seperti panggung hiburan. Cuma beda obyek saja.

So, Walaupun artis, asal ia kompeten, no problemo…

Tapi sayang, tak semua artis yang beralih menjadi pejabat atau pemimpin daerah bisa bersikap luwes dan flamboyan. Ada beberapa yang justru gagal membaur dan tak bisa melepaskan kulit keartisannya. Yah, wajar sih, namanya juga peralihan, tentu butuh proses adaptasi drastis yang begitu berat. Banyak yang berhasil, tapi tak sedikit diantaranya yang gagal melewati masa transisi dengan mulus, sebagian malah terjebak pada kelatahan yang begitu menjijikkan. Ujung-ujungnya, yang muncul adalah sifat belagu dan sok. Entah itu sementara, atau dalam waktu yang lama.

Dalam hal ini, Pasha “Ungu” sudah jelas menjadi salah satu bukti yang nyata.

(Mantan) vokalis bernama asli Sigit Purnomo Said yang baru saja terpilih menjadi wakil walikota Palu ini bisa dibilang tidak terlalu mulus melewati masa transisi. Ia tak kuasa menahan sikap belagunya, tak berselang lama setelah dirinya ditetapkan menjadi pejabat publik.

Hal itu bisa dilihat jelas saat ia menolak diwawancarai oleh wartawan sesaat setelah acara pelantikan. Alih-alih menggunakan kata penolakan yang halus, si wakil walikota baru ini justru menggunakan kata penolakan yang cukup sengak, “Saya ini sekarang sudah pejabat, bukan lagi artis. Kamu orang cuma kontributor kan,”

Duh Gusti paringono ekstasi. Wartawan mana yang tidak gedek mendapat jawaban seperti itu?

Sikap belagu Pasha ini tentu disesalkan oleh para wartawan, karena bagaimanapun, nama Pasha (dan juga Ungu) melambung salah satunya juga karena peran wartawan dan media. Sungguh sebuah kebelaguan yang sangat menggelikan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Mohammad Iqbal Rasyid pun kemudian menganggap insiden tersebut sebagai insiden yang mencederai kerja jurnalis di Kota Palu.

Dasar artis, selalu saja tak pernah mau jauh-jauh dari sensasi dan pemberitaan. Dan belum sempat insiden ke-belagu-an tadi reda. Si wakil walikota baru sudah kembali membuat heboh dengan “ulah”-nya yang lain.

Kali ini, ia marah-marah saat memimpin apel perdana di balai kota Palu. Alasannya sepele, Pasha marah-marah karena ia ditertawakan oleh para peserta upacara apel yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintahan Kota Palu.

“Apa motif saudara-saudara tertawa saat saya memasuki mimbar upacara,” katanya saat diberi kesempatan mengisi sambutan apel.

Yaelah Maliiiiih, kok masih saja ditanya apa motifnya, ya jelas karena lucu lah. Memangnya karena apa lagi?

“Saya malu karena ada yang tertawa terbahak-bahak saat saya masuk. Next, saya tidak mau ini terulang lagi. Polisi Pamong Praja harus mengecek yang tertawa itu. Jelas?” ujarnya dengan nada tinggi karena emosi.

Sekali lagi, ini tentu menjadi sikap yang patut disesalkan. Sebagai seorang pemimpin, apalagi pemimpin baru, Pasha seharusnya membangun komunikasi yang baik dengan bawahannya. Dan momen apel seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengeratkan hubungan, bukannya malah merenggangkannya.

Tak perlu diherankan kalau banyak peserta apel yang tertawa. Namanya juga baru dapet pimpinan apel baru, mantan vokalis, dan pernah duet sama Iis Dahlia lagi, ya sudah barang tentu akan merasa kagok dan geli dong. Jadi ndak aneh kalau banyak yang tertawa.

Aduh, mas Pasha ini, sampeyan pikir yang bisa tertawa jejeritan saat melihat sampeyan tampil cuma dedek-dedek Ungu Cliquers thok? Please deh, mas, PNS juga bisa kaleeeee.

Ah, seandainya saya yang jadi Pasha, tentu saya tak akan marah-marah, saya justru malah senang kalau anak buah saya tertawa saat saya masuk ke lapangan upacara. Itu artinya, anak buah saya sudah merasa dekat dengan saya, karena sudah berani menertawakan saya. Semakin dekat, semakin kenceng ketawanya.

Tapi yah, mau bagaimana lagi, Saya dan Pasha memang dua pribadi yang berbeda. Saya tak bisa berbuat banyak. Yang bisa saya lakukan toh hanya bisa menulis dan menyinyir, apalagi saya memang bukan orang Palu, sehingga saya merasa tidak punya hak untuk ikut terlalu jauh memikirkan tingkah Pasha. Khusnudzon saja lah. Mungkin itu memang metode yang dipilih oleh Pasha untuk memipin rakyatnya, untuk membahagiakan rakyatnya.

Karena konon katanya, ada dua cara yang bisa diambil oleh pemimpin untuk membahagiakan rakyatnya. Pertama, jadilah pengayom yang adil dan baik. Dan yang kedua, jadilah badut bahan tertawaan yang lucu dan jenaka.

Dan dugaan saya, mas Pasha ini memang ingin membahagiakan rakyatnya, dengan cara nomor dua.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?