GuidePedia

0


Kasus kopi bersianida dengan tersangka utama Jessica Kumala Wongso, mengilhami pria asal Surabaya, S. Haris, untuk membuat produk berlabel "Kopi Jessica" atau "Coffee Jessica."

Produk kopi itu bahkan memampang wajah Jessica di kemasannya. Ada pula balon percakapan dengan kalimat ajakan, macam "Halo, ngopi yuk" atau "Jangan lupa ajak teman-teman yah." Tampilan itu mengingatkan pada meme Jessica yang sempat ramai di media sosial.

Haris menjamin kopinya tidak mengandung sianida. "100% biji kopi Asli. 0% SIANIDA," begitu promosinya.

Produk ini mulai dipasarkan sejak awal Juli 2016, di bawah bendera badan usaha miliknya, CV Ras Muhammad Surabaya. Proses produksi dilakukan di rumahnya, yang masuk wilayah Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur.

Ada tiga jenis Kopi Jessica yang ditawarkan: kopi original (Rp15 ribu), kopi mix (Rp15 ribu), dan kopi hijau untuk diet (Rp60 ribu). Tersedia bonus gelas kecil untuk setiap pembelian satu bungkus Kopi Jessica.

Setiap bungkusnya berisi 150 gram, yang cukup membuat 10 - 15 gelas kopi. Konon bahan baku Kopi Jessica berasal dari Jember --kopi jenis robusta, dan liberica.

Sekadar mencari penghasilan tambahan

Haris mengaku ide menjual Kopi Jessica itu bermula dari kegelisahan mencari penghasilan tambahan.

Sebenarnya, Haris punya usaha berdagang es krim, sebagai sajian di acara-acara ulang tahun dan pernikahan. Namun belakangan omzetnya menurun. Karena itu, dia mesti putar otak mencari penghasilan lain.

"Saya itu lagi nonton televisi, dan lihat kasus Jessica. Muncullah ide untuk bikin (Kopi Jessica). Coba-coba saja," kata bapak dua anak itu, kepada Wisbenbae.blogspot.com lewat sambungan telepon, Selasa (23/8).

Mula-mula, Haris sekadar memasarkan Kopi Jessica melalui toko-toko kelontong di sekitar Surabaya. Pemasaran itu bukan hal mudah, acapkali dia terbentur penolakan dari pemilik toko. Penjualannya juga jauh dari kata memuaskan.

"Saya itu sebenarnya hampir putus asa. Makanya saya mencoba media sosial. Mulai memakai Facebook (untuk promosi)," kata pria berusia 29 itu.

Di Facebook, pelan-pelan Kopi Jessica bertemu dengan konsumen baru. Pesanan mulai berdatangan dari wilayah lain, macam Bandung, Solo, Jakarta, hingga Kalimantan.

Kopi Jessica juga mulai jadi perbincangan netizen. Media ikut menuliskan artikel. Artikel soal Kopi Jessica, antara lain termuat di MetroTvNews.com, Okezone.com, dan Merdeka.com.

Meski mulai populer, kata Haris, penjualan Kopi Jessica juga belum cukup besar. Paling banter, sehari terjual satu lusin (12 bungkus). Per satu bungkus, Haris bisa mengantongi untung sekitar Rp3 ribu --terutama untuk kopi mix, yang jadi varian terlaris.

"Total sehari itu paling (untung) sekitar 30-50 ribu. Itu belum dipotong ongkos jalan, kalau harus kirim barang atau cek di toko. Kecil untungnya, tidak seperti yang kelihatan di Facebook," kata dia.

Ihwal penempatan wajah Jessica dalam produknya, Haris mengaku sekadar mencomot foto tersebut dari internet. Izin produk juga belum dikantonginya.

"Saya kan baru coba-coba. Kalau ini berhasil, pasti saya urus izin. Tapi ini saja jauh dari yang diharapkan," ujar Haris.

Belakangan memang terdengar kritik terhadap Kopi Jessica. Hal macam itu bisa dilihat dalam kolom komentar di artikel-artikel soal Kopi Jessica.

Ada yang menuding Haris memanfaatkan heboh kasus kopi bersianida. Beberapa yang lain menyoal penggunaan foto dan nama Jessica tanpa izin.

"Saya ini siap kalau memang harus menutup usaha ini. Untungnya juga tidak seberapa," kata Haris, saat ditanya soal kemungkinan risiko yang dihadapinya. "Niat saya sedari awal itu sekadar cari tambahan. Enggak ada niat lain."

Selasa (23/8) sore, Haris mengirim sebuah status Facebook, yang berkaitan dengan idenya memakai nama dan foto Jessica. Dalam status itu, Haris memanjatkan doa untuk mendiang Wayan Mirna Salihin, korban kasus kopi bersianida. Pun berharap agar Jessica diberi kekuatan dalam menghadapi persidangan.

"Harapan saya, tidak ada yang merasa tersakiti dan dirugikan. Amin," tulisnya.
Catatan redaksi: Salah satu kiriman dari Facebook telah diturunkan dari artikel, karena tak lagi tersedia untuk publik. (23/8/2106)



Post a Comment Blogger

Beli yuk ?