GuidePedia

0

Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan mitra penting kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS), yaitu perang melawan terorisme Islam. Hal tersebut terbukti ketika pembuat kebijakan AS membebaskan Kepala Dinas Keamanan Federal (FSB) Badan Intelijen Domestik Rusia, Alexander Bortnikov, dari sanksi yang dijatuhkan Departemen Keuangan terhadap pejabat-pejabat Rusia.

Sanksi diberikan kepada birokrat yang terlibat dalam invasi dan kependudukan Crimea dan perang Maskirovka. Bortnikov tidak hanya dibebaskan dari sanksi, ia juga diudang oleh Gedung Putih pada Februari lalu sebagai tamu konferensi "melawan kekerasan ekstrimisme," sedangkan Kepala FBI James Comey tidak diundang.

Dilansir The Daily Beast, Agustus lalu, sebuah penyelidikan yang dilakukan salah satu koran di Rusia, Novaya Gazeta, menunjukan adanya fakta bahwa Rusia bermain di dua kaki di konflik Suriah, selain mendukung rezim tapi juga sebelumnya membantu pengiriman para militan ke pihak pemberontak.

Berdasarkan penelitian di lapangan, tepatnya di salah satu desa di Kaukasus Utara, reporter Elena Milashina menyimpulkan Dinas Khusus Rusia justru mengatur jalan militan lokal menuju Suriah. Para militan itu tidak hanya bergabung dengan ISIS, tapi juga dengan faksi-faksi radikal lainnya. Dengan kata lain, Rusia telah menambah jajaran teroris yang mereka tuduh merupakan musuh dari diktator Mediterania, Bashar al-Assad.

Logikanya adalah lebih baik para teroris itu pergi keluar negeri dan berperang di Suriah, daripada mengganggu keamanan Rusia.

Milashina, dalam studi kasusnya di Desa Novosasitili di Khasavyurt, Dagestan, mengungkapkan sejak 2011, 1 persen dari total penduduk di desa tersebut pergi ke Suriah, yaitu sebanyak 22 orang dari 2,500 penduduk. Dari angka itu, lima orang tewas dan lima lainnya telah kembali ke rumah.

Para militan itu tentu saja tidak bisa keluar Rusia tanpa bantuan pihak luar. Dalam hal ini, FSB berusaha membuat jalur hijau bagi para militan lokal untuk bermigrasi melalui Turki dan kemudian ke Suriah.

"Saya kenal seseorang yang telah berperang selama 15 tahun," ujar Kepala Desa Novosasitili, Akhyad Abdullaev.

Menurutnya, para penduduk itu berjuang di Chechnya, Afghanistan, Irak, dan sekarang Suriah. Di desanya, ada seorang calo yang bekerjasama dengan FSB untuk membawa beberapa militan untuk dikirim ke luar negeri untuk jihad.

Milashina kemudian mewawancarai 'calo' yang disebutkan Abdullaev. Calo mengatakan ia berperan sebagai perantara antara FSB dan militan lokal dalam mengatur keberangkatan mereka ke Suriah. Pada 2012, misalnya, ia membantu seorang pria yang dikenal sebagai 'orang yang sangat berbahaya' untuk pergi ke Turki, jika pria itu mau berhenti berjuang di Dagestan. FSB lalu bertugas memberikan paspor dan bertindak sebagai agen perjalanan sang militan.

"Itu waktu 2012, sebelum jalan ke Suriah terbuka. Lebih tepatnya, FSB yang membuka jalan tersebut," ujar dia.
Rusia 'Tutup Mata' Atas Pengiriman Militan Lokal ke Suriah

Pemerintah Rusia mendorong pengiriman militan lokal dari Kaukasus Utara ke Suriah. Hal tersebut dilakukan sebagai strategi pemerintah untuk meredam pemberontakan panjang yang terjadi di wilayah tersebut.

Mantan anggota parlemen Amerika Serikat Mike Rogers mengatakan, Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia mungkin akan 'menutup mata' atas pengiriman militan lokal dari Rusia ke Suriah.

"Ide mengirimkan mereka ke luar Rusia sungguh tidak masuk akal, karena mereka tahu akan mendapatkan pelatihan perang," ujar Rogers, seperti dilansir The Daily Beast.

Ada pula isu yang berkembang, pemerintah Rusia tidak membunuh atau menangkap para pemberontak di negaranya, melainkan memaksa mereka pergi keluar Rusia melalui cara yang sistematis. Pemberontak dimasukan pada daftar pantauan Salafi, diiterogasi, difoto, dan dimintai sidik jari berulang kali. Beberapa dari mereka bahkan harus menyerahkan sampel DNA.

"Semua yang ada di daftar pantauan, tidak akan lagi memiliki kehidupan yang normal," ujar Kepala program Rusia, Tanya Lokshina.

Jika memang ada rencana FSB mendorong pengiriman militan ke Suriah, kata dia, pasti hal tersebut terjadi di tingkat lokal, bukan nasional. Sebab, agen lapangan di Kaukasus Utara memiliki kuota peningkatan keamanan di wilayah itu.

"Jika ada 10 orang yang terdaftar bulan ini untuk pergi ke Suriah, maka bulan depan harus ada 12 orang. Jadi ini hanya masalah angka," jelasnya.
Diuntungkan oleh Kehadiran ISIS

Pemerintah Rusia disinyalir mendorong pengiriman militan lokal dari Kaukasus Utara ke Suriah. Hal tersebut dilakukan sebagai strategi pemerintah untuk meredam pemberontakan panjang yang terjadi di wilayah tersebut.

Peneliti Moskow State Institute dari Pusat Hubungan Internasional urusan Keamanan Wilayah Kaukasus, Akhmet Yarlya menyatakan, Kementerian Luar Negeri Rusia memperkirakan 2.000 sampai 3.000 militan telah bergabung dengan ISIS di Timur Tengah.

Sebelumnya, seperti dilansir dari the Daily Beast, sebuah penyelidikan yang dilakukan salah satu koran di Rusia, Novaya Gazeta, menunjukan adanya fakta mengejutkan.

Berdasarkan penelitian di lapangan, tepatnya di salah satu desa di Kaukasus Utara, reporter Elena Milashina menyimpulkan Dinas Khusus Rusia justru pernah mengatur jalan militan lokal menuju Suriah. Para militan itu tidak hanya bergabung dengan ISIS, tapi juga dengan faksi-faksi radikal lainnya.

Kepala program Rusia, Tanya Lokshina mengatakan, ia belum bisa mengonfirmasi dan menyangkal tuduhan yang diutarakan Novaya Gazeta.

Namun, dapat dipastikan Rusia diuntungkan dengan bergabungnya sejumlah militan Rusia ke Suriah. Keuntungan yang didapat di antaranya, adanya penurunan kasus pemberontakan bersenjata di Rusia hingga 50 persen.

Pemerintah Rusia banyak mendapatkan apresiasi dalam memerangi pemberontakan dalam negeri dan dalam upaya meningkatkan keamanan. Namun, di balik itu ada fakta bahwa para pemberontak tidak lagi melancarkan aksinya di Rusia, melainkan tengah berperang di Suriah sebagai bagian dari ISIS.

Pemerintah Rusia terlibat menggempur pemberontak ISIS di Suriah sejak September lalu.

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?