GuidePedia

0


Kalau Italia punya cappuccino, maka Aceh punya kopi sanger. Kopi susu khas warung kopi Aceh inipun diingat oleh penggemar kopi di Aceh dengan ‘Sanger Day’ kemarin.

Air kopi dicampur dengan susu mulai dikenal orang Eropa sejak abad 16. Sedangkan pada abad 17 orang Venesia mengenal cappuccino. Racikan ini terdiri dari espresso, susu panas dan buih susu dan taburan cokelat atau bubuk kayumanis. Sejak saat itu cappuccino digemari banyak orang yang tak suka rasa pekat kopi.

Tak banyak orang tahu, jika Aceh juga punya racikan ‘cappuccino’ asli yang dikenal mulai tahun 1997. Jika melongok Wikipedia maka kopi sanger disebutkan sebagai ‘campuran kopi hitam, susu kental dan gula. Secara fisik, sanger memang mirip kopi susu atau 'coffee latte’.

Seperti cappuccino, kopi sanger juga punya pakem untuk racikannya. Tak sekadar air kopi ditambah dengan susu kental manis saja. Formula yang bagus, susu dan gulanya sedikit. Sedangkan air kopinya diseduh dengan cara ‘ditarik’. Disaring dalam saringan berbentuk kerucut kemudian air kopi ditarik sehingga muncul buih-buih di permukaan kopi sanger saat kopi ini dituangkan ke dalam gelas pendek.


Sedangkan nama ’sanger’ merupakan julukan racikan kopi susu yang diberikan oleh para mahasiswa pada tahun 1997. Menurut Fahmi Yunus, seorang dosen yang berdomisili di Banda Aceh, seperti ditulis dalam blognya, saat itu sedang krisis ekonomi. Semua bahan-bahan naik harganya, termasuk susu dan gula.

‘Akibatnya pemilik warung terpaksa ikut menaikkan harga kopi susu. Harga naik tidak diiringi dengan naiknya uang jajan para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kuat minum kopi hitam, dan tak mampu membayar kopi susu melakukan “negosiasi” dengan pemilik warung. Akhirnya dicapai kata sepakat dengan mengurangi kadar susunya, dan menambahkan unsur gula.’ demikian tulis Fahmi dalam blognya.

Akhirnya disepakati untuk saling mengerti atau ‘sama-sama mengerti’ yang kemudian disingkat jadi ‘sanger’. Istilah awal yang dicetuskan oleh para mahasiswa di warung kopi Atlanta itu akhirnya berkembang dan dikenal di seluruh Aceh hingga keluar Aceh. Kini hampir semua warung kopi di Aceh menyediakan kopi sanger dengan harga Rp.5.000 secangkir.


Lalu bagaimana dengan ‘Sanger Day’? Tanggal 12 Oktober kemarin diperingati sebagai ‘Sanger Day’. Inipun dirayakan atas inisiatif Fahmi Yunus. Tanggal 11 Oktober malam ia mulai berkicau di akun twitternya @FahmiYunus soal ide ‘Sanger Day’ yang menurutnya ‘supaya ada’ atau perlu diingat.

Kicauannya mendapat sambutan dari akun @iloveaceh yang kemudian diberi hashtag #SangerDay. Pringatan inipun terus berkembang hingga kemarin banyak netizen yang merayakan. Warung kopi di Aceh juga banyak yang berpartisipasi dengan memberikan minum kopi sanger gratis kemarin.

Para produsen juga ikut meramaikan dengan memberi dukungan sponsor. Para pencinta kopi beramai-rami mengunggah foto kopi sanger dengan hastag #SangerDay dan #ILoveSanger. Bahkan peringatan International Sanger Day akan digelar tanggal 31 Oktober nanti di pelataran Pasar Atjeh dengan beragam kegiatan dari jajanan kaki lima hingga minum kopi sanger gratis.

‘Kalau Italia dikenal di seluruh dunia karena cappuccino, Aceh juga bisa dikenal dengan kopi sangernya,’ demikian komentar tertulis Fahmi Yunus pada Aing Selasa (12/10). Mari minum kopi sanger dan bangga dengan kopi lokal berkualitas. Happy Sanger Day! 


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?