GuidePedia

0

Jika anak-anak suku Baduy Dalam sudah mengubah perilaku makan dan beberapa perkataan mereka maka kekhawatiran akan rentannya adat Baduy Dalam.


Warga Baduy Dalam yang ikut membantu membawa barang dan perlengkapan wisatawan saat berkunjung ke desa mereka. Setiap minggu, suku mandiri ini kerap "diserbu" orang kota yang ingin melihat kehidupan mereka. (Yunety Tarigan)

Pagi itu suasana desa begitu hiruk. Para pendatang bercampur baur dengan penduduk. Mereka yang datang dari jauh, begitu bersemangat saat tiba di perkampungan unik itu. Terlebih lagi, orang-orang berpakaian kaus katun itu baru saja menempuh perjalanan naik turun bukit selama lebih kurang lima jam. Buat mereka, rasa lelah itu seperti terbayar begitu tiba di tujuan awal. 

Saya menjadi bagian dari pendatang itu pada akhir pekan yang cerah. Kami, wisatawan yang mencari tempat rehat di akhir minggu, telah tiba di perkampungan Baduy Luar, yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Suasana desa yang damai dan tenang seperti artikel-artikel yang ditulis para penjelajah dahulu tidak lagi sama pada kunjungan saya itu. Wisatawan yang bersemangat saat tiba berlalu lalang, ke sana kemari. Para penjual barang-barang juga turut meramaikan desa yang dikenal kuat dengan aturan adatnya.

Di dalam pikiran saya tiba-tiba menyeruak sebuah pertanyaan: "seberapa kuatkah masyarakat Baduy mempertahankan tatanan adat mereka dari pengaruh luar jika setiap minggu masyarakat luar yang masuk?"

Memang tidak dapat disangkal, menjelajah Baduy Luar dan Dalam seperti wisata yang menarik bagi wisatawan lokal; harga murah dan bisa bertemu dengan suku yang mandiri—mengatur kehidupan sendiri dengan aturan adat yang ketat—merupakan iming-iming yang menyenangkan. 


Generasi penerus Baduy Dalam saat beristirahat di jembatan akar dalam perjalanan mengantarkan tetamu yang ingin melihat kehidupan mereka. (Yunety Tarigan)

Akan tetapi, kehadiran wisatawan yang keluar masuk ke wilayah Baduy Dalam tiap minggu dengan berbagai kelompok tur wisata membuka mata bahwa ada sisi kerentanan perilaku para Suku Baduy yang dipercaya dapat berdampak terhadap adat yang dipercaya sebagai "Kehidupan" Baduy.


Pak Herman, pemandu dari Baduy Luar, yang setiap minggu secara rutin mengantarkan tetamu yang ingin melihat kehidupan mereka. (Yunety Tarigan)

Dalam perjalanan itu, saya berjumpa dengan Pak Herman, begitu lelaki paro baya ini akrab disapa. Lelaki ramah dan penuh cerita ini menemani perjalanan rombongan tur saya setiba di pintu masuk perjalanan jalan kaki menuju Baduy Luar. Pak Herman bercerita bahwa dirinya keluar dan menjadi suku Baduy Luar untuk menjembatani dan melindungi adat. Katanya, setiap minggu ia mengantarkan wisatawan lokal untuk tinggal di Baduy. Menurut Pak Herman hanya wisatawan lokal yang boleh memasuki wilayah Baduy Dalam.

Pak Herman juga menjelaskan adanya Baduy dalam dan luar untuk memagari agar pengaruh dari luar tidak masuk ke Baduy Dalam. Selain itu, Baduy Luar akan menjembatani antara pihak luar dengan Baduy Dalam. Fakta di lapangan menunjukan pengaruh terhadap pengaruh luar ternyata tidak bisa dibendung walau sudah ada Baduy Luar dan Baduy Dalam. Mengapa?

Keluar masuk para wisatawan merupakan salah satu faktor perubahan tersebut. Tanpa disadari ada yang terpapar dari faktor kedatangan para wisatawan. Anak-anak suku Baduy adalah salah satu yang paling rentan dengan perubahan. Keinginan tahu para anak-anak terhadap apa yang dilihat dan didengar dari para pendatang terlihat di mata para anak-anak Suku Baduy.

Wisatawan berlalu lalang di perkampungan Baduy Luar. (Yunety Tarigan)

Walau dipercaya perubahan adat Baduy hanya dapat terjadi karena masuknya teknologi akan tetapi faktanya perilaku pendatang malah menjadi kunci perubahan padangan khususnya anak-anak. Beberapa pantauan di lapangan ketika melihat para pengunjung yang mendatangi dusun Baduy Dalam dan tinggal di rumah keluarga Baduy Dalam ditemukan berbagai perkataan "sialan" atau "gue dan elo" yang rentan sekali jika didengar oleh generasi suku Baduy. Selain itu mengobrol hingga jam 3 pagi dengan tertawa-tawa sangat merusak kedamaian dusun tersebut yang mungkin sudah beristirahat lebih awal menurut aturan yang berlaku di sana.


Generasi penerus Baduy Dalam (Yunety Tarigan)

Selain itu, para pengunjung berdatangan dengan berbagai makanan yang diperkenalkan kepada anak-anak setempat; entah dengan dasar ingin memberi atau apapun juga akan tetapi anak-anak suku Baduy mulai terkontaminasi dengan berbagai macam makanan yang mengandung kimia. Padahal suku Baduy sangat menjauhkan dari bebagai kimia. Bahkan kalau sakit saja mereka mencari orang pintar yang memberikan nasehat mengunakan obat-obatan alami daripada ke bidan atau puskesmas yang kerap memberikan obat kimia, begitu menurut Pak Herman.

Entah siapa yang memperkenalkan makanan tersebut, akan tetapi ditemukan beberapa anak-anak mulai jajan di warung-warung yang buka di Baduy Dalam dengan makanan yang berwarna pekat seperti hijau ataupun jingga yang kemungkinan besar merupakan pewarna.

Jika anak-anak suku Baduy Dalam sudah mengubah perilaku makan dan beberapa perkataan mereka maka kekhawatiran akan rentannya adat Baduy Dalam. Cepat atau lambat jika Suku Baduy tidak kuat dalam memberikan pengajaran kepada para generasinya sudah dapat dipastikan akan adanya pergeseran adat.

(Yunety Tarigan, penikmat perjalanan akhir pekan)


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?