GuidePedia

0


Mas Mooh, sapi yang menyatakan bahwa dirinya siap dikurbankan besok. Ia berharap kurban bisa memberikan manfaat bagi warga masyarakat yang kurang mampu. 

JAKARTA, – Menjelang hari Idul Adha, jadwal yang dinanti-nanti oleh sebagian besar masyarakat adalah acara pemotongan hewan kurban. Hewan kurban yang disembelih dan dipotong, dagingnya akan dibagi-bagikan kepada para penduduk. Tentu saja, bagi warga masyarakat yang kurang mampu, kurban menjadi salah satu momen yang menggembirakan karena mereka bisa mendapatkan daging sebagai bahan makanan yang harganya kini masih cukup tinggi di pasaran.

Lalu, bagaimana dengan para hewan kurban itu sendiri? Apakah mereka merasa cemas dan tidak rela untuk dijadikan kurban? Ikuti wawancara Aing dengan Mas Mooh, sapi jantan yang mengaku telah siap untuk menghadapi kurban yang akan dilaksanakan tanggal 24 September 2015 besok.

Aing : Bagaimana perasaan Mas Mooh saat ini menghadapi kurban esok hari? Apakah Mas Mooh dan teman-teman ada perasaan takut?

Mas Mooh (M): Kita di sini baik-baik saja. Saya dan teman-teman pada dasarnya sudah siap untuk dikurbankan besok, jadi tidak ada rasa takut sedikit pun. Lagipula sudah sejak tiga hari terakhir saya dipegang oleh ahli pijat sapi, jadinya badan terasa relaks sekali. Serasa jadi Sapi Kobe, mas.

Jujur saja, jawaban itu sedikit mengejutkan. Kami mengira Mas Mooh dan kawan-kawan akan merasa gugup, khawatir, atau tegang karena besok – maaf – akan dikurbankan.

Saya ini sejak lahir merupakan hewan ternak, jadi bila saatnya tiba saya pasti akan mati untuk kepentingan manusia. Sedari kecil di peternakan, pemikiran itu ditanamkan. Saya diberi makan dan dibesarkan oleh manusia, jadi saya ikhlas apabila mati untuk kebutuhan manusia. Apalagi kurban ini untuk tujuan yang baik, karena masyarakat yang kurang mampu bisa ikut merasakan daging saya ini, daging sapi segar. Mereka tidak bisa setiap hari makan daging sapi, lho. Saya yakin ada beberapa penduduk yang terakhir makan daging ya pada saat Lebaran kemarin di tempat tetangga atau sanak keluarganya yang lebih sejahtera. Lagipula, nyawa saya ini sebenarnya sudah extension, diberi perpanjangan oleh Tuhan. Seharusnya saya sudah mati dari beberapa bulan lalu.

Nyawa extension? Bisa dijelaskan, Mas Mooh?

Iya, ingat tidak waktu harga daging melonjak tinggi sampai para pedagang mogok jualan? Waktu itu saya sudah waktunya masuk ke rumah jagal. Tapi berhubung harga daging sapi tinggi, para pedagang mogok, jadilah saya batal dipotong karena takut tidak laku. Agak aneh juga sih waktu dibilang ada pedagang menimbun sapi. Kita masih hidup dan besar begini mau ditimbun, bagaimana caranya?

Kami sempat mendengar sebelumnya kaum sapi sedikit cemas dengan harga yang makin tinggi, takut tidak laku terjual saat kurban?

Betul. Harga sapi makin mahal, termasuk saya. Teman-teman juga bingung, dengan harga mahal begini, apa ada yang mau beli kami? Untungnya masih ada. Tapi memang jumlahnya agak berkurang dibanding kurban tahun lalu. Ada trend baru, manusia lebih mencari kambing yang khusus warnanya hitam untuk tahun ini. Saya tidak tahu sebabnya. Tadinya bos (sang pedagang – red.) bahkan maunya hanya jual kambing hitam karena pasti laku, tapi kita sempat protes dan akhirnya tetap diikutkan untuk dijual.

Apakah menurut Mas Mooh ada kartel atau kecurangan dalam mekanisme harga sapi dan ternak?

Soal itu, saya kurang mengerti karena sapi tidak bisa sekolah. Jadi harap maklum kalau saya kurang pintar. Sebetulnya di kalangan sapi sendiri, harga mahal cukup membanggakan. Tapi kalau terlalu mahal sampai tidak ada yang beli, identitas kami sebagai sapi potong ternak bisa dipertanyakan, bahkan bisa ada krisis eksistensialisme diri. Bagaimanapun kami cukup bersyukur karena permainan harganya tidak terlalu parah seperti para ayam. Melonjak tinggi kemudian jatuh seketika. Ada beberapa teman unggas saya yang dimusnahkan karena dianggap kelebihan suplai. Kasihan, padahal bukan salah mereka hidup ‘kan? Pemerintah dan peternaknya saja yang sistem dan manajemennya kurang baik.

Dengan harga cukup tinggi, apakah persaingan antar sapi juga semakin ketat untuk bisa terjual?

Pastinya. Karena ada potensi penurunan penjualan sapi, kami berlomba-lomba untuk tampil sekekar dan segagah mungkin pada saat ada calon pembeli datang. Tapi kalau soal itu, justru tantangan terbesar datang dari sapi-sapi impor. Mereka besar-besar, kekar-kekar, dan lebih semok. Jadi bagaimanapun mereka yang menarik perhatian calon pembeli, bukan kami. Karena harga mereka memang lebih mahal, baru kemudian kami jadi pilihan kedua. Sapi impor itu bisa bagus mungkin karena panganan mereka berkualitas. Harus diakui, peternakan sapi di Indonesia standarnya belum sebagus di luar negeri seperti Australia dan Jepang, baik dari segi modal, teknologi, maupun dukungan pemerintahnya.

Terima kasih, Mas Mooh. Pertanyaan terakhir, apa harapan Mas Mooh untuk kurban ini?

Semoga dikurbankannya saya membawa berkah dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Satu lagi, semoga persapian Indonesia di masa depan bisa lebih berkualitas dan tidak kalah saing dengan sapi-sapi dari luar negeri.

Sumberlanjutin di sini !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?