GuidePedia

0


Berawal dari rencana “Mbolang Bareng” Part II (Part I Trip At Coban Rais, Malang), kami berkumpul di emperan teras milik Mr. Haping pada Rabu malam (30/7). Berbeda dengan acara sebelumnya, yang hanya diikuti oleh saya, Mr. Haping, Mr. Hari, dan Sinta, pada malam itu, juga diramaikan dengan ocehan dari Mr. Sapam, Mr. Kafid, Zuna, dan Erin.

Pembahasan dimulai dengan waktu acara “Mbolang Bareng”, yang hanya bisa kami adakan setahun sekali saat libur lebaran. Acara yang direncanakan hari Sabtu, langsung diubah hari Kamis (keesokan harinya), mengingat Hari, Kafid, Zuna (3 bersaudara dari Krian) tidak bisa ikut, andaikata acara diadakan pada hari Sabtu.

Setelah semua sepakat dengan waktu acara tersebut, tinggal membahas tujuan trip kita kali ini. Ada 2 alternatif yang saya tawarkan kepada kawan-kawan, air terjun atau pantai. Toh, dari semua yang hadir lebih memilih pantai. Wuiiih… 

Beberapa pantai saya usulkan, mulai dari Sine, Tambakrejo, dll. Tapi dalam hati, saya masih mupeng dengan Pantai Sanggar yang dari tahun lalu ingin saya jamah. Sengaja tidak saya tawarkan ke kawan-kawan,

mengingat info terakhir yang saya dapatkan, akses ke Pantai Sanggar wajib ditempuh dengan jalan kaki selama 3 jam. Voilaaa, serasa de ja vu dengan trip pertama ke Coban Rais. Pasti kawan-kawan banyak yang tak setuju. Pembahasan tempat tujuan masih menggantung, tapi beberapa kawan sudah sepakat kita akan ke Sine, Tulungagung.

Selepas pembahasan rencana trip tersebut, saya coba browsing mencari rute terdekat ke Pantai Sine. Beberapa anak ILK (I Love Kediri) yang pernah ke Pantai Sine juga saya SMS untuk mendapat info mengenai rute ke Pantai Sine. Toh, saya memang belum pernah ke sana.

Di tengah browsing, saya menemukan blog yang membahas Pantai Sanggar. Ajeee gileee, coba saya klik barangkali akses ke Pantai Sanggar sudah bisa dilewati motor. Ternyata, di dalam blog tersebut tertulis, ”Akses menuju Sanggar sudah bisa dilewati motor. Beberapa penduduk sudah membuatkan akses ke pantai tersebut dengan biaya sukarela.” Naaahhh, saya alihkan perburuan rute Pantai Sine ke Pantai Sanggar.

Setelah mendapat info yang lengkap, tentang rute yang tertulis dalam beberapa blog, yang membahas Pantai Sanggar, saya mencatatnya dalam hati. Saya berharap cuaca esok akan mendukung, karena akses ke Pantai Sanggar akan lebih baik, bila cuaca sedang tidak hujan.

Finally, setelah beberapa kali menunggu kawan-kawan yang ribet saat akan pemberangkatan, kami berangkat dari rumah Mr. Haping tepat pukul 09.00. Sempat mampir di POM Bensin Pagu dan menjemput si nyonya kecil. Kami cussss ke Pantai yang terletak di wilayah Kec. Tanggung Gunung Kab. Tulungagung tersebut.

Beberapa halangan muncul di tengah perjalanan, mulai dari miss communication yang membuat kami saling tunggu di depan MAN 3 Kediri, jalanan super macet di sekitar pertigaan Jembatan Ngantru, hingga kesasar terlalu jauh 7 Km dari belokan SMP Tanggung Gunung I.

Bagi teman-teman yang akan ke Pantai Sanggar, rute singkatnya adalah : dari lampu merah timur terminal Tulungagung ke selatan (Arah Campurdarat). Sampai Pasar Campurdarat, belok ke kiri ikuti arah menuju Pantai Popoh. Sampai ada penanda arah ke Tanggung Gunung, belok ke kiri. Ikuti jalan raya saja terus (hati-hati ada jebakan di tikungan Pasar Tanggung), sampai ketemu SMP Tanggung Gunung I (kiri jalan). Sebelum SMP ada belokan ke kanan, belok saja ke kanan sampai bertemu penanda arah menuju Pantai Sanggar. Arah ke Pantai Sanggar sama kok dengan arah menuju Pantai Sine.

jebakan tikungan pasar tanggung: 

Back to Our Trip, setelah belok dari SMP Tanggung Gunung, dan meyakinkan diri dengan bertanya ke penduduk sekitar belokan tersebut (ternyata Pantai Sanggar masih 18 Km lagi hahahaha), langit menunjukkan awan hitamnya. Ah sial, hujan pun membasahi kami. Kami pun terpaksa meneduh ke sebuah rumah. Kawan-kawan pun mulai bertanya ke penduduk sekitar, apakah masih jauh untuk sampai ke Pantai Sanggar. Hati saya jadi sungkan, takut teman-teman kecewa, karena trip kali ini di luar dari yang mereka bayangkan untuk jarak dan waktu tempuhnya.

leyeh-leyeh di rest area: 

Setelah hujan reda, kami lanjutkan perjalanan. Sempat bingung karena ada pertigaan, setelah bertanya ternyata belok kanan dan arah ke Sanggar tinggal 5 Km lagi (eh ternyata jalanan aspalnya yang tinggal 5 Km lagi hahaha). Benar saja, aduhai jalanan ke Pantai Sanggar benar-benar mirip arena offroad. Aspal jerawatan di sana sini, belum lagi 5 dari 6 motor kami adalah motor matic. Mantaaap!!!

 jalan jerawatan: 

Kami sampai juga di sebuah bukit yang paling tinggi diantara bukit lainnya. Saya, Nyonya kecil, Haping, Sapam, Budi dan Sinta sempat berhenti di puncak bukit tersebut. Terlihat di kejauhan sana sebuah pantai yang ternyata Pantai Sine. Wiiih, keren Broo!!!

puncak bukit: 


Sempat muncul perdebatan dengan seorang kawan, apakah kita tetap ke Pantai Sanggar, yang kata penduduk sekitar masih melewai sebuah bukit, atau ke Pantai Sine saja yang tinggal sebentar lagi sampai. Awalnya semua sepakat ke Pantai Sine, tapi setelah melihat papan petunjuk arah kecil menuju ke Pantai Sanggar, kesepakatan kami berubah kembali. Toh 4 orang diantara kami : Kafid, Zuna, Erin, dan Hari terpisah dari rombongan kami yang di belakang.

Kami menuju ke arah Pantai Sanggar, sempat berfoto sebentar di pintu masuk Kawasan Pantai Sanggar, dan akhirnya bertemu Kafid dan Erin yang menunggu di sebuah pos kamling. Hari dan Zuna?? Hilang!! Dan kami bersepakat untuk masuk ke Area Pantai Sanggar, barangkali mereka berdua telah masuk ke pantai.

 pintu masuk: 


Apakah trip kami selesai??? Belum!!! Karena kami diwajibkan melewati hutan untuk sampai ke pantai tersebut. Setelah membayar uang masuk sukarela (Saya membayar 5000, dimasukkan di kotak), kami siap ber-real adventure. Jalanan selebar 1 meter yang terbuat dari semen seadanya harus kami lewati. Jalan tersebut memang cukup sempit untuk dua arah. Jadi andai ada motor dari arah berlawanan, kami harus menepi terlebih dahulu. Tak hanya jalan yang sempit, tanjakan yang hampir 60 derajat kemiringannya harus kami taklukkan, belum lagi pinggiran jalan adalah jurang yang terjal. Ampuuun Maaak!!!

Jalanan semen tersebut hanya beberapa ratus meter, toh jalan berikutnya hanyalah jalan tanah biasa. Mirip pematang di sawah, benar-benar Real Adventure. Apalagi kami semua bermodal motor matic berban tipis. Kudu hati-hati kalau tak mau kami pulang dengan nama tertulis di batu nisan. Ternyata benar, jalur ke Pantai Sanggar memang hanya bisa dilewati saat cuaca cerah dan bersahabat. Kami bersyukur siang itu cuaca mendukung kami untuk sampai ke Pantai Sanggar.

And Finallyyy!!! Pantai Sanggar sudah terlihat. Semua kecemasan, ketakutan, dan dag dig dug nya hati berubah jadi rona gembira yang terpancar di wajah kami semua. Pantai yang luas, dihiasi pasir putih yang alami (belum tercemar sampah dan kotoran lainnya), warna biru yang masih real, juga karang di tepi pantai yang masih terjaga alaminya. Alhamdulillah….

nih pantainya boi: 


Semua perjuangan melelahkan seakan terbayar lunas oleh pemandangan yang kami lihat. Saya sudah pernah ke beberapa pantai yang masih real alami seperti Ngliyep, Tambakrejo, Dll/ But, Sanggar is the new favorite’s real beach for me. Kami bisa melihat ikan kecil melompat-lompat di tepi pantai, kami juga sempat menemukan seekor gurita yang kesasar di tepi pantai. Ajibbb.

 aksi-aksi: 


Akhirnya, meski hanya satu setengah jam di Pantai Sanggar, kami cukup puas. Sete;ah bertemu Hari dan Zuna, yang ternyata lebih dulu sampai di Pantai Sanggar, kami kembali ke rumah, dengan kembali menaklukkan jalan yang kami lewati sebelumnya. Sebuah trip yang melelahkan dan membanggakan bagi kami semua. And also, see u the next trip at other real place in next year. Bye… 

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top