GuidePedia

0



Perayaan Sumpah Pemuda sebenarnya adalah perayaan yang nisbi sia-sia. Bukan, bukan karena ia tidak punya nilai, tapi lebih daripada itu: perayaan ini jadi sia-sia karena hampir tidak ada teladan dari peristiwa itu yang bisa kita resapi.

Jika Anda belajar secara serius tentang sejarah Sumpah Pemuda, Anda akan tahu bahwa sebenarnya kita sedang abai pada sejarah. Sumpah Pemuda adalah peristiwa toleransi, diselenggarakan di rumah orang Tionghoa, dalam satu sesinya mendengarkan lagu Indonesia Raya yang dikarang oleh seorang Ahmadiyah.

Hari ini? Boro-boro dengerin, ada masjid Ahmadiyah aja disegel.

Bangsa ini gemar melupakan sejarah, tapi tidak hobi melupakan utang. Sejarah Sumpah Pemuda dianggap sebagai momen kebangsaan, momen bersatunya bangsa-bangsa di nusantara menjadi satu kesatuan nasion. Ya ini bisa saja bohong, bisa saja tidak. Lha gimana, mau ngomong persatuan kok tiap ada perbedaan dikit dianggap masalah. Satu hal yang jelas, Sumpah Pemuda itu terjadi karena inisiatif anak mudanya. Bangsa ini, maksud saya Indonesia, dibentuk dan didirikan oleh pemuda pemuda yang punya visi persatuan.

Untuk itulah, saya kira saat ini kita perlu kembali mencari figur baru dalam teladan. Sosok-sosok yang segar, yang berbeda, dan yang dekat dengan realita agar semangat Sumpah Pemuda, dalam hal ini semangat bersatunya para pemuda Indonesia, bisa jadi relevan dan bisa diterima publik. Para pemuda kekinian yang bisa mewarisi semangat Sumpah Pemuda dan mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa.

Ini penting, lho. Mosok tiap Sumpah Pemuda yang diingat hanya Muhammad Yamin. Itupun karena samar-samar mukanya mirip Gajah Mada.

Tokoh-tokoh anak muda ini haruslah yang sudah jelas punya prestasi mentereng dan membanggakan. Kriterianya bisa kita susun bersama, seperti memiliki prestasi yang tidak ada duanya, memiliki SIM C, bersedia ditempatkan di mana saja, berpenampilan menarik, mampu bekerja dalam tim, dan yang paling penting punya konsistensi terhadap satu hal. 
Eh, bentar, itu tadi bukannya kriteria jadi karyawan?

Ah, intinya yang penting kamu punya followers lebih dari 20.000 orang, sudah pernah traveling ke Machu Pichu, pernah mengisi penuh danau UI dengan air mata, atau sudah punya sesuatu yang bisa dibanggakanlah pokoknya. 

Berikut daftar pemuda berprestasi yang saya susun agar sekiranya bisa kita jadikan sebagai idola baru. 

1. Berto Tukan
Berto Tukan adalah wujud subtil dari pepatah klasik Burkina Faso, “Wajah Rambo Hati Rinto”. Dengan wajah yang demikian gahar, brutal, penuh ancaman, dan juga keji, Berto adalah sosok sensitif yang penuh dengan kebaikan. Pernah bercita cita menjadi pelayan Tuhan, namun gagal karena ingin melayani manusia. Pria asal Indonesia timur ini menggemari sastra dan juga berkebun, lho. Saya kira, ia layak menjadi teladan para pemuda-pemudi Indonesia hari ini.

Bagaimana tidak, meski mukanya lebih mirip tukang jagal, hatinya bersih seperti label halal.

Sebagai salah satu editor dari Indoprogress, bung Berto tentu memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai studi Marxis dan hal-hal sunyi. Tidak tanggung-tanggung, untuk memaknai kesepian dan kesendirian, selama studi S2 tentang Walter Benjamin dan kaitannya dengan spanduk penutup warung pecel, ia rela menghabiskan waktu dalam kejombloan. Meski demikian, bung Berto yang kini sudah selesai menyusun tesis sedang sibuk mendalami makrifat melalui Tinder.

2. Eddward Samadyo Kennedy
Tokoh kita yang satu ini jelas tidak perlu diperkenalkan lagi. Kak Edo, begitu ia disapa, adalah penulis buku laris Sepak Bola Seribu Tafsir. Sebagai penggemar berat serial Boku no Pico, pria tampan dan gagah perkasa ini tentu memiliki banyak prestasi. Apa saja itu? Salah satunya berkaitan dengan air dan yang lainnya berkaitan dengan tulis menulis. Sebagai penulis, kak Edo telah menginspirasi banyak golongan. Mau yang kanan atau yang kiri. Dari yang hetero, sampai yang homo. Lebih dari itu, ia merupakan salah satu fans Superman Is Dead yang baik dengan selalu memakai baju xRMBLx yang asli. 

Lantas apakah prestasinya yang berkaitan dengan air? Tahukah Anda jika air laut dulu rasanya tawar, namun berkat Kak Edo, ia menjadi asin? Tahukah Anda, dahulu danau UI itu kering kerontang, namun karena Kak Edo, ia menjadi penuh? Tahukah Anda jika sungai Ciliwung dulunya tidak sebesar sekarang, namun berkat kak Edo, ia menjadi sungai yang hidup dan menghidupi?

Tahukah Anda mengapa ada air terjun Niagara? Ya tentu saja karena itu ciptaan Allah.

3. Bilven Rivaldo Gultom
Saat ribut-ribut pemberedelan diskusi mengenai isu Tragedi 65 yang rencananya diselenggarakan oleh Ubud Writers Festival, saya hanya dan hanya kepikiran satu nama: Bilven Rivaldo Gultom. Pria yang tampak matang di usianya yang baru menginjak 20-an ini telah menjadi sosok radikal yang paling disegani di kelurahannya. Bersama Ultimus, sebuah usaha kolektif toko buku, Bilven konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami sejarah masa lalu dan berternak lele.

Konon, pada medio Desember 2006, Bilven pernah mengadakan diskusi bersama Marhaen Soepratman tentang pemikiran kiri. Acara itu bubar, tentu saja. Bilven bahkan sempat mengalami ancaman, tapi ia berani pasang badan untuk diskusi itu meski tetap dilarang. Menurut legenda setempat, Bilven malah sampai menginap semalam di kantor aparat. Di kantor itulah ia menemukan pencerahan dan kini tengah menjadi misionaris untuk ajaran “pakailah sandal jepit yang baik dan benar”

Nah, sekarang Anda pasti bertanya kenapa tidak ada perempuan dalam daftar ini? Apakah memang tidak ada perempuan yang cukup berarti untuk dijadikan idola pemuda dan pemudi Indonesia? Lho ya jelas banyak. Tapi apa saya harus menulis profil semua anggota JKT48 di sini? 


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?