GuidePedia

0



Bon Jovi berpamitan pada penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (11-9-2015)© Live Nation Indonesia/Istimewa

Tuntas sudah Bon Jovi membayar kerinduan para penggemarnya. Lewat konser bertajuk "Bon Jovi Live" di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (11/9/2015) malam, band yang terbentuk sejak 1983 ini total memainkan 21 lagu.

Mulai dari tembang klasik semacam Runaway (rilis 1984), You Give Love a Bad Name(1986), Bad Medicine (1988), Keep the Faith (1992), It's My Life (2000), hingga We Don't Run yang berasal dari album terbaru Burning Bridges (2015) mereka bawakan.

Setelah dibuka dengan penampilan Samuel Tsui yang membawakan enam lagu, plus kehadiran Judika mengumandangkan Indonesia Raya, Bon Jovi naik pentas ketika jarum jam menunjuk angka 20.45 WIB.

Muncul di atas panggung Jon Bon Jovi (vokalis), David Bryan (kibordis), Tico Torres (drummer), Hugh McDonald (basis), serta Philip "Phil X" Xenidis dan Matt O'Ree (gitaris) kompak mengenakan setelan berwarna hitam. Lagu That's What The Water Made Me yang berasal dari album What About Now (2013) dipilih sebagai pembuka konser. Penonton bersorak.

Teriakan, kor, hingga tepuk tangan membahana di stadion mengiringi konser berdurasi dua jam itu. Jon komunikatif dengan kerap menyapa penonton. Dalam beberapa sapaannya, terselip bahasa Indonesia seperti "Apa kabar?" dan "Terima kasih".

Secara umum konser berjalan dengan sukses; tiket terjual ludes, jalannya konser tanpa kendala teknis yang berarti dan penonton meninggalkan stadion dengan aman.

Ada beberapa kisah menarik lainnya mewarnai konser yang disaksikan sekitar 40 ribu penonton dari berbagai rentang usia itu, mulai dari anak-anak, remaja, hingga separuh baya. Berikut lima di antaranya.

Nostalgia


Salah seorang penonton konser Bon Jovi di Jakarta yang tak lagi muda© Bismo Agung 

Sebagai band yang populer sejak era 80-an, tidak mengherankan jika kebanyakan penonton yang memadati SUGB adalah mereka yang telah berumur di atas 30 tahun. Meski usia tak lagi remaja, mereka masih bergerak rancak mengikuti setiap lagu.

Beberapa tembang lawas dengan fasih dan lantang mereka nyanyikan. "Konser yang menyenangkan. Ini seperti reuni," ujar seorang penonton bernama Evita (38) yang datang bersama suami dan kedua anaknya.

Evita mengaku menggemari Bon Jovi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dan mendengarkan kembali Jon Bon Jovi membawakan hits mereka yang populer di era 80-an dan 90-an membuatnya serasa kembali ke masa saat masih mengenakan kostum putih abu-abu.

Phil X pengganti sepadan Richie Sambora


Phil Xenidis (kiri) dan Jon Bon Jovi sukses menggantikan tempat Richie Sambora© Mast Irham/EPA

Konser kedua Bon Jovi di Jakarta, pertama di Ancol (6/5/1995), sempat diwarnai skeptisisme oleh sebagian orang. Terutama ketiadaan Richie Sambora (56), gitaris ikonik yang bergabung sejak periode awal Bon Jovi hingga hengkang 2013.

Namun ketiadaan itu mampu diisi dengan baik oleh Philip Xenidis. Gitaris asal Kanada yang ngetop dengan nama Phil X berulang kali mengimpresi penonton lewat aksi dan kepiawaiannnya memetik senar gitar.

Bagian solo gitar dalam lagu diisinya dengan presisi tanpa harus terdengar sama persis dengan versi Sambora. Tepuk tangan senantiasa membahana kelar gitaris yang sudah sempat masuk pada 2011 kala Sambora direhabilitasi menyelesaikanpart solo.

Puncaknya terjadi kala dia dan Matt O'Ree, gitaris khusus tur yang baru direkrut, berduel gitar dalam lagu Keep the Faith. Aksi unjuk kemampuan teknik bergitar itu mendapat histeria dan riuh tepuk tangan penonton.

Beberapa penonton yang ditemui Aing mengaku salut dengan permainan Phil X, juga tandemnnya O'Ree, yang menyuguhkan permainan apik. "Phil X cukup mumpuni sebagai pengganti Sambora. Saya terhibur dengan penampilannya," ungkap Jaya (45) yang turut menyaksikan konser pertama Bon Jovi, 20 tahun silam.

Tak ada gading yang tak retak


Jon Bon Jovi kesulitan menjangkau nada tinggi© Andika Wahyu/Antara

Laiknya perhelatan musik lain yang melibatkan skala produksi dan melibatkan orang dalam skala besar, konser bertajuk "Bon Jovi Live" juga tak lepas dari beberapa hal yang cukup "mengganggu".

Aing menyaksikan banyak sampah yang berserak di area SUGBK yang hanya bisa dimasuki oleh penonton yang telah membeli tiket. Kesadaran penonton tak terusik sedikitpun meski panitia telah menyediakan banyak tong sampah berdasarkan klasifikasi jenis sampah.

Pun tayangan video berisi ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya dan seruan untuk menjadi penonton yang peduli sampah oleh Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Arian 13 (vokalis Seringai), Gilang Ramadhan (drummer) dan Judika (penyanyi) seolah jadi angin lalu. Video tersebut diputar berulang-ulang di luar dan dalam stadion.

Hal lainnya adalah sistem keamanan yang longgar. Meski Polda Metro Jaya mengaku menurunkan 3.098 personel gabungan untuk mengamankan jalannya konser, para penonton bebas melenggang langsung ke dalam stadion tanpa melalui body detector.

Beberapa penonton juga mengkritisi aspek teknis. Salah satunya perihal tata suara yang dianggap kurang maksimal untuk ukuran konser band sekelas Bon Jovi yang honornya di luar AS berkisar USD1 juta hingga USD1,9 juta (Rp14,2 miliar - Rp27 miliar).

Perkara lain, tapi masih termaaafkan oleh sebagai penonton, adalah kualitas suara Jon Bon Jovi yang sudah menurun. Selain uban yang mulai banyak, usianya yang mencapai 53 membuat Jon juga kesulitan ketika harus menyanyikan nada-nada tinggi.

Alhasil setiap lagu dimainkan dengan setengah hingga satu nada lebih rendah dari aransemen musik aslinya. Mengubah lagu yang aslinya butuh tarikan vokal tinggi menjadi versi akustikan seperti pada lagu Someday I'll Be Saturday Night juga dipraktikkan.

Mengais rezeki


Edi (kiri) salah satu pedagang kaos Bon Jovi© Bismo Agung/

Konser "Bon Jovi Live" yang menjadi pestanya para penggemar musik, khususnya Bon Jovi, juga dimanfaatkan oleh puluhan pedagang suvenir yang menggelar lapak di sekitar area SUGBK. Mulai dari kaos, topi, syal, bendera, gantungan kunci dan stiker bertema Bon Jovi dijajakan. Harganya bervariasi mulai yang termurah Rp5 ribu (stiker) serta item termahal sebesar Rp80 ribu (kaos)

Para pedagang berasal dari Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) hingga Bandung. Kepada Aing sebagian pedagang mengaku membayar Rp50 ribu untuk satu hari agar bisa berlapak di area konser.

Biaya tersebut tidak menjadi masalah bagi para pedagang karena berjualan suvenir dengan tema konser yang sedang berlangsung cukup mendatangkan laba. Adi (34), pedagang asal Bekasi, yang telah berjualan sehari sebelum konser mengaku rata-rata keuntungan dari menjual di acara konser mencapai 20 persen dari modal awal.

"Sekarang sudah dapat dua juta," tutur Jamaluddin (46) yang mulai menggelar lapak jualannya sejak jam enam pagi. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 17.00 WIB.

Angga dan istrinya yang datang dari Bandung mengaku membeli kaos Bon Jovi dari lapak pedagang untuk kenang-kenangan. Beberapa penonton berdalih karena harga kaos yang dijual Rp350 ribu di tenda penjualan official merchandise terlalu mahal.

Arena lamaran


Salah satu momen menarik yang cukup menyita perhatian penonton yang berada di area Festival B terjadi tidak lama setelah Bon Jovi mengakhiri lagu Someday I'll Be Saturday Night yang dibawakan dalam aransemen akustik.

Seorang pria asal Belanda bernama Huib Kleinhout (36) tiba-tiba berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin. Ternyata ia sedang melakukan aksi melamar kekasihnya, Wuri Rostandy (33).

Lamaran diterima, keduanya berpelukan. Kepada sejumlah wartawan Wuri mengaku bahwa kekasihnya itu tinggal di Norwegia. "Kami sudah pacaran dua tahun dan laguSomeday I'll Be Saturday Night adalah lagu spesial kami," kata Wuri yang kerja dan menetap di Jakarta dengan sumringah.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?