GuidePedia

0

Gelar juara lomba lari 100 m pada Kejuaraan dunia Atletik tahun ini yang finalnya berlangsung akhir pekan ini akan dimenangkan oleh seorang pelari kulit hitam. 

Pemenang sebelumnya dari nomor 100 m sejak kejuaraan ini diselenggarakan tahun1983 juga berkulit hitam, karena semua peserta di final pada 10 kejuaraan terakhir berkulit hitam, dengan perkecualian Matic Osovnikar dari Slovakia, yang hanya finis di posisi tujuh tahun 2007.


Kalau ini diasumsikan lebih karena faktor genetik ketimbang faktor lingkungan, maka muncul kesimpulan bahwa orang kulit hitam adalah pelari yang lebih handal dibanding kulit putih. Secara umum, inilah keyakinan yang dianut banyak orang, meskipun secara politis pandangan membedakan warna kulit dianggap salah.

Cacat logika

Wartawan dan komentator olahraga Inggris, Matthew Syed, mengatakan ini pandangan tidak tepat.

Menyimpulkan kulit hitam lebih jago lari ketimbang kulit putih bukan cuma keliru, tetapi juga cacat logika. Kesimpulan yang salah ini juga akhirnya punya dampak bukan hanya pada dunia atletik, tetapi juga keseluruhan hubungan antarras di tengah Abad 21.

Bagaimana ini dijelaskan?

Kita bisa lihat bahwa sukses besar pelari kulit hitam bukan cuma di nomor lari cepat tapi juga lari jarak jauh, yang juga didominasi warga kulit hitam. Kenya memenangkan 63 medali dari Olimpiade untuk nomor 800 m dan di atasnya, 21 di antaranya emas, sejak 1968. Tak heran kemudian komentator atletik sering kali menyebut lari jarak jauh sebagai "monopoli Kenya".

Namun sesungguhnya bukan Kenya yang memonopoli medali, melainkan orang-orang dari sebuah wilayah kecil di Lembah Rift yang dinamai Nandi. Seperti dikatakan seorang penulis: "Sebagian besar pelari Kenya adalah warga Nandi."

Dengan melihat latar belakang ini, maka menyimpulkan orang kulit hitam sebagai pelari jagoan terlihat aneh. Alih-alih jadi fenomena "kulit hitam", atau fenomena Kenya, ternyata nomor lari jarak jauh merupakan fenomena Nandi. Atau dengan kata lain, kesuksesan pelari jarak jauh "kulit hitam" terpusat pada sebuah titik kecil di tengah peta Afrika, yang sama sekali tidak menggambarkan keseluruhan wajah benua itu.

Begitu pula di nomor lari cepat, yang sukses didominasi oleh pelari berdarah Jamaika dan warga kulit hitam Amerika. Afrika, sebagai sebuah benua, hampir tak ada wakil dalam nomor ini. Wajah Afrika antara lain meliputi Mauritania, Guinea-Bissau, Sierra Leone, Republik Guinea, Liberia, Pantai Gading, Togo, Niger, Benin, Mali, Gambia, Guinea Khatulistiwa, Ghana, Gabon, Senegal, Congo serta Angola yang sama sekali belum pernah memenangkan medali lari cepat di dalam kejuaraan dunia maupun olimpiade.

Karena itu penyimpulan yang salah ini sebenarnya sederhana saja. Cuma karena sebagian warga kulit hitam unggul dalam sesuatu tidak berarti warga kulit hitam umumnya handal dalam hal itu.

Kotak label

Kecenderungan untuk memukul rata kemampuan manusia berdasarkan warna kulitnya menurut studi menunjukkan bahwa manusia cenderung meletakkan orang kulit gelap dalam sebuah kotak berlabel hitam dan mengasumsikan bahwa seluruh populasinya punya sifat yang sama.

Padahal sesungguhnya tidak begitu. Ada banyak variasi genetis dalam satu kelompok ras (sekitar 85%) dibandingkan dengan yang berbeda kelompok ras (justru cuma 15%). Yang terang, penampakan permukaan justru dipakai sebagai cara menaksir bakat genetis seseorang dalam sebuah populasi, dan cara ini terbukti keliru.

Soal pelari kulit hitam tadi sudah menggambarkan kesalahan generalisasi ini.

Namun ada lagi studi yang menunjukkan bahwa asumsi bawah sadar tentang ras berdampak lebih luas dari sekadar implikasi olah raga.

Sebuah eksperimen dilakukan dua ahli ekonomi AS, Marianne Bertrand dan Sendhil Mullainathan. Mereka mengumpulkan 5.000 riwayat hidup (CV) untuk melamar pekerjaan dan menggunakan nama yang khas warga kulit hitam seperti Tyrone atau Latoya pada separuh CV itu, dan kemudian menggunakan nama "kulit putih" seperti Brendan atau Alison untuk separuh CV lainnya. Kemudian CV "putih" dibagi dalam kategori kualitas tinggi dan rendah begitu juga CV "hitam"-nya.

Beberapa pekan kemudian muncul surat tawaran kerja, dan apa yang terjadi?

Kandidat "hitam" kemungkinan 50% lebih kecil peluangnya untuk diwawancara. Ini terjadi karena calon majikan menggunakan warna kulit sebagai potensi penanda pegawai, meskipun kualitas CV keduanya identik.

Bukan itu saja. Peneliti juga melihat bahwa meski kandidat kualitas tinggi dari kelompok "putih" lebih disukai ketimbang kualitas rendahnya, tetapi untuk kandidat "hitam" CV-nya dianggap sama meskipun ada yang berkualitas tinggi dan rendah.

Pengkotakan dengan label menunjukkan bahwa calon majikan hanya melihat CV dalam tiga kategori: putih kualitas tinggi, putih kualitas rendah, dan hitam dalam satu kualitas.

Dengan kata lain, kalau kita menggunakan asumsi yang kemudian membuat kita menyimpulkan bahwa orang kulit hitam semuanya sama membawa konsekuensi dampak yang sangat nyata di dunia.

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top