GuidePedia

1


Wisbenbae.blogspot.com - Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam saat Wisbenbae melintas di Jalan Pantai Utara, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin pekan lalu. Di sebelah kiri jalan, puluhan truk tronton terparkir tanpa pengemudi. Suasana malam itu hujan deras. Namun warung remang-remang tepat di seberang jalan menuju arah Indramayu itu tak pernah sepi pengunjung.

Indramayu bisa dibilang, memang memiliki magnet bagi para sopir-sopir truk pengangkut barang kerap melintas di Jalur Pantura. Tak terkecuali para pemburu syahwat. Di kota tersohor penghasil Tenaga Kerja Indonesia nomor wahid itu juga dikenal dengan kehidupan malam para pelacur Pantura.

Hanya sekitar sejam dari Indramayu, kehidupan malam Pantura juga terasa ketika memasuki wilayah Subang, Jawa Barat. Di daerah penghasil buah rambutan itu juga berjejer kafe remang-remang. Kafe-kafe itu dihiasi lampu warna warni. Di bagian luar, rumah disulap jadi sarang prostitusi itu juga duduk wanita penghibur berpakaian serba seksi.

Mereka menggoda setiap pengendara yang melewati jalur Pantura. "Ayang ayo mampir," ujar seorang wanita berpakaian seksi meminta Wisbenbae untuk singgah di kafe itu. Kata-kata itu umum digunakan untuk menggaet pelanggan.

Udara memang cukup dingin malam itu. Guyuran hujan baru berhenti sekitar pukul sepuluh malam. Di Pantura memang bukan hanya berjejer kafe remang-remang. Di sepanjang jalur itu juga berjejer panti pijat. Di Subang salah satunya. Di sini, ada panti pijat sehat. Isinya kebanyakan janda dari Cianjur.

AM menyapa dengan senyuman ketika Wisbenbae singgah. Wajahnya manis. Dia memakai kaos putih dan celana hot pants. Umurnya baru 21 tahun, namun dia sudah menjanda. "Pijat A, tinggal saya aja nih yang ada" katanya dengan centil menawarkan. Aa merupakan panggilan abang dalam bahasa Sunda.

Di panti pijat tempat AM bekerja ada lima pemijat. Dua dari Subang dan tiga orang asli Cianjur. Ketiganya menyandang status janda. Belakangan Panti pijat memang menjamur di Pantura. Bukan tanpa sebab, tujuannya ialah menjamu para sopir meregangkan urat.

Seperti penuturan AM, dia mengakui jika kebanyakan pelanggannya yang datang ialah para sopir-sopir truk. Meski tak melayani syahwat, namun panti pijat tempatnya bekerja tak pernah sepi pengunjung. "Ada juga sopir truk antar kota yang sengaja mampir," ujar AM. Bahkan kata AM, para sopir-sopir itu meminta pelayanan lebih.

"Sering banget yang habis pijet malah minta tambah yang lain, saya kasih tau kalo di sini peraturannya emang enggak boleh," ujarnya menegaskan.

Bagi AM, berkah rezeki di Pantura memang luar biasa. Penghasilannya jauh lebih besar ketimbang dulu waktu masih bekerja sebagai pegawai pabrik di Cianjur. Meskipun uang ditawarkan para sopir truk nakal itu cukup menggiurkan, namun baginya, tak ada niatan untuk melayani syahwat. "Alhamdulillah sudah cukup," ujarnya.

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top