GuidePedia

0


Minggu (19/7/2015), berita terpopuler (paling banyak dibaca) di Tempo.co berjudul: Rusuh di Tolikara, 'Semua Korban adalah Jemaat GIDI'. (http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/18/058684854/rusuh-di-tolikara-semua-korban-adalah-jemaat-gidi)


Tempo menyajikan berita tersebut dengan mengambil nara sumber Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Ronny Mandang. Poin utama berita tersebut adalah pernyataan Ronny bahwa:


1. Semua warga Tolikara yang jadi korban dalam kerusuhan di Tolikara, Jumat 17 Juli 2015 adalah warga jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI)


2. Mereka tertembak saat mendekati lokasi salat Ied untuk berkoordinasi dengan warga muslim di lapangan Koramil Tolikara


3. Ronny menduga ada aparat yang memprovokasi kejadian tersebut sebab selama warga Tolikara hidup berdampingan dengan rukun, terutama soal agama.


4. Bentrok dan kerusuhan terjadi karena ada tembakan.


Angle Berita

Media-media lain juga menyebutkan bahwa dalam peristiwa tersebut jatuh korban tewas dan luka. Tepatnya 1 orang tewas dan 11 warga terluka. Jika semuanya adalah adalah jemaat GIDI, judul berita tersebut tidak dapat disalahkan. Namun, setiap judul selalu mengandung angle pemberitaan. Membaca judul Rusuh di Tolikara, 'Semua Korban adalah Jemaat GIDI', pembaca terbawa pada framing bahwa jemaat GIDI adalah korban. Posisi sebagai korban, membentuk persepsi bahwa jemaat GIDI-lah yang dizalimi. Padahal berita-berita yang lebih terpercaya yang jumlahnya jauh lebih banyak menunjukkan jemaat GIDI adalah pelaku penyerangan atas jamaah shalat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta puluhan rumah dan kios. Sedangkan tertembaknya mereka merupakan akibat dari penyerangan tersebut, saat mereka tidak bisa diperingatkan oleh aparat. Bukan "korban" dalam arti sesungguhnya.


Istilah

Tempo.co menggunakan istilah "Rusuh Tolikara" dalam pemberitaan, alih-alih menggunakan istilah "Pembakaran Masjid" atau "Teror Tolikara"

Pemilihan istilah untuk menyebut suatu peristiwa juga menggambarkan sudut pandang media dalam sebuah peristiwa dan membentuk persepsi publik ketika membaca berita tersebut.

Istilah yang sama juga dipakai oleh Kompas.com. Sedangkan Republika dan media Islam lainnya lebih memilih istilah "Pembakaran Masjid" dan "Masjid Dibakar"

Tertembak saat hendak koordinasi?

Dalam berita paling populer tersebut, Tempo menguti pernyataan Ketua Umum PGLII bahwa "mereka tertembak saat mendekati lokasi salat Ied untuk berkoordinasi dengan warga muslim di lapangan Koramil Tolikara." Benarkah mereka tertembak saat hendak berkoordinasi dengan warga muslim? Berita-berita di media lain (baik media umum maupun media Islam) menyebutkan bahwa mereka tertembak saat aparat memberikan tembakan peringatan karena mereka menyerang jamaah shalat Idul Fitri.


"Aparat keamanan sempat memberikan tembakan peringatan untuk menghalau warga yang menyerang jamaah Salat Id, di Karubaga, Tolikara, Papua pada Jumat lalu. Namun 1 warga sipil meninggal dunia, 2 luka berat dan 8 luka ringan akibat letupan senapan tersebut," tulis Detik.
"Tiga orang pelaku penyerangan warga yang tengah salat Idul Fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua terluka tembak. Petugas terpaksa melumpuhkan mereka karena tak mengindahkan peringatan petugas," tulis CNN Indonesia.
"Sebenarnya, kata Patrige, di lokasi musala sudah ada anggota Polisi dan TNI yang berjaga untuk pengamanan Salat Id. Namun massa tetap menyerang sehingga ada tindakan dari aparat," tulis Merdeka.
Menyalahkan aparat

Pada poin ketiga dan keempat, pernyataan Ketua Umum PGLII berita tersebut justru menyalahkan aparat keamanan. Menuduh aparat keamanan yang memprovokasi dan tembakan dari aparat keamanan-lah yang menyebabkan mereka menyerang dan membakar masjid. Jika publik percaya pada berita ini, maka persepsi publik akan terbawa pada kesimpulan bahwa pelaku teror yang membakar Masjid tidak bersalah. Publik justru menyalahkan aparat keamanan. Jika demikian, sungguh ini adalah propaganda yang membahayakan. [Ibnu K/Tarbiyah.net]



*NB: 1 Masjid terbakar, 38 rumah dan 63 kios milik umat Islam ludes terbakar. 153 muslim Tolikara masih mengungsi. 


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?