GuidePedia

Anak Menyebarkan Islam, Cucu Konsisten Berdakwah

Jejak Keluarga KH Ahmad Dahlan Di Thailand
Siapa sangka, bila penyebaran Islam di Thailand, yang mayoritas penduduknya beragama Budha, ternyata ada andil keturunan KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas Islam terbesar Muhammadiyah yang juga pahlawan nasional Indonesia. Jawa Pos National Network (JPNN) beberapa waktu lalu bertemu dengan salah satu cucu KH Ahmad Dahlan di Bangkok, Thailand, yang kemudian mengungkap kisah perjalanan keluarganya dan perjuangan mereka menyebarkan Islam di Thailand hingga saat ini.
Setelah berkomunikasi sejak pagi, barulah menjelang sore waktu Thailand, JPNN bertemu dengan Amphom Dahlan (60) di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok.
Perawakannya sedang, pembawaannya ramah dan wajahnya sangat khas Indonesia. Namun begitu mengajaknya berbicara, barulah diketahui bahwa ia warga asli Thailand. Bahasa Inggrisnya lancar, begitu juga bahasa Thai (bahasa nasional Thailand). Namun sesekali, ia juga bisa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
“Soal bahasa, nanti ada ceritanya sendiri. Kita masih punya waktu panjang untuk bercerita hari ini,” kata Amphom dalam bahasa Indonesia yang fasih. Dengan bahasa ‘gado-gado’ campuran Inggris dan Indonesia, Amphom Dahlan yang merupakan cucu dari KH Ahmad Dahlan, mulai berbagi kisah tentang keluarganya.
“Ayah saya bernama Erfan Dahlan (dalam sejarahnya tertulis Irfan Dahlan) atau dikenal di Thailand dengan nama Jumhan Dahlan. Merupakan anak kandung dari KH Ahmad Dahlan,” kata Amphom yang ingin disapa dengan nama Mina.
Dalam catatan sejarahnya, kakek Mina, KH Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah yang tak lain adalah sepupunya sendiri yang juga anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah kelak dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah (organisasi perempuan Muhammadiyah).
Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan memiliki enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.
Oleh Ayahnya KH Ahmad Dahlan, Irfan Dahlan dikirim belajar ke luar negeri sejak masih muda. Sepulang dari belajar di Pakistan dan India, sekitar 1930-an, Irfan tidak dapat masuk ke Indonesia karena situasi politik yang kian memanas. Selain itu lautan Hindia juga tengah menjadi medan tempur Perang Dunia II antara sekutu dan Jepang. Ervan (ejaan versi Mina) akhirnya memilih menetap di Thailand sekitar tahun 1930 dan membangun keluarga di sana.
“Namun Ayah tidak mau bercerita apapun soal politik di Indonesia pada anak-anaknya. Dia hanya selalu mengingatkan, bahwa kami adalah keturunan KH Ahmad Dahlan, berasal dari Indonesia dan memiliki banyak saudara di sana. Hanya itu saja,” kata Mina.
Meski meninggalkan tanah air dan menetap di negeri orang, darah pejuang Islam layaknya sang Ayah, sepertinya tak bisa hilang begitu saja dari Erfan Dahlan dan keturunannya kelak di Thailand. Bisa dikatakan mereka memperjuangkan Islam di negeri Gajah Putih selama hampir 83 tahun, hingga hari ini.
Dimulai sekitar tahun 1930. Setelah menyelesaikan pendidikan di India, atas restu kedua orang tuanya, Erfan Dahlan tinggal dan bekerja dengan seorang Doktor keturunan India di Thailand Selatan. Sekitar tahun 1932, Erfan memilih berhenti bekerja dan pergi ke Bangkok. Di Ibukota negara ini, ia bekerja sekaligus berdakwah. Ketika itu Islam masih belum terlalu dikenal di Thailand karena mayoritas agamanya adalah Budha.
Erfan mengajarkan Islam dengan cara baru. Saat itu muslim di Thailand mempelajari Islam hanya dengan membaca Al Quran tanpa memahami apapun artinya. Karena tidak ada satupun terjemahan Al Quran dalam bahasa Thailand. Erfan yang dikenal cerdas sejak masih belia dan menguasai 9 bahasa dengan lancar (Bahasa Indonesia, Jawa, Belanda, Inggris, India, Urdu , Arab, Thailand dan  Jepang) mulai menerjemahkan dan mengajarkan isi Al Quran dalam bahasa Thailand kepada murid-muridnya.
Ia juga berdakwah tentang ajaran Islam dengan konsep baru dan mengajarkan gaya hidup seorang muslim yang penuh kasih sayang. Konsep berdakwah Erfan Dahlan, berbeda dengan konsep dakwah pendahulunya yang membawa ajaran Islam ke Thailand. Karena itu pula, murid Erfan Dahlan kian hari bertambah banyak. Baik dari pendatang maupun penduduk lokal.
“Saat itu sebenarnya sudah ada pemukiman muslim, namanya kampung Jawa. Penduduknya mayoritas pedagang dari Indonesia yang menetap di Thailand. Namun ajaran Islam mereka sudah bercampur kepercayaan, melenceng dari ajaran Al Quran dan Hadist. Karena itu murid Erfan Dahlan tidak banyak dari kampung Jawa,” ungkap Mina.
Berhadapan dengan penganut Islam bercampur kepercayaan seperti di kampung Jawa, bukan berarti Erfan Dahlan menyerah begitu saja. Ia tetap mendakwahkan Islam dengan berpedoman pada ajaran Al Quran dan Hadist di pemukiman ini. Pada tahun 1932, Erfan Dahlan bertemu dengan Zahrah yang dikenal dengan nama Thailand, Yupha.
Ia merupakan anak Imam Masjid Jawa, (Alm) Sukaimi, seorang pedagang asal Kendal, Jawa Tengah yang kemudian menetap di Thailand. Zahrah juga cucu dari pimpinan orang Jawa di Thailand, (Alm) Haji Mohamad Soleh, yang memberikan tanahnya (wakaf) untuk membangun Masjid Jawa.
Setelah menikah, Erfan kemudian pindah ke kampung Jawa. Mereka memiliki 10 orang anak, 7 laki-laki dan 3 perempuan. Usai menikah, Erfan Dahlan tercatat pernah bekerja di Kedutaan Besar Pakistan di Bangkok. Namun aktifitas dakwahnya tak pernah berhenti. Bersama temannya, ia memiliki perusahaan percetakan buku-buku Islam seperti ajaran sholat dan doa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand.
Bersama sang istri Zahrah, Erfan juga membantu pendidikan anak-anak yatim. Suami istri ini pun menjadi aktivitas muslim yang menyiarkan Islam di Thailand. Andil keduanya mendakwahkan ajaran Islam begitu terasa. Zahrah bahkan tercatat sebagai salah satu pendiri Muslim Women Association of Thailand (Assosiasi Perempuan Muslim Thailand) yang khusus memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim. Organisasi tersebut masih eksis hingga saat ini dan telah diakui keberadaannya oleh pemerintah Thailand.
Setelah Meninggalnya Sang Ayah
Erfan Dahlan meninggal dunia pada tahun 1967 di Thailand. Meski ia menetap dan memiliki keluarga di Thailand, namun hingga akhir hayatnya ia menolak berganti kewarganegaraan.
“Kecintaannya pada Indonesia, dibawanya sampai mati. Ia meninggal tercatat sebagai WNI. Beliau mendapatkan paspor istimewa dari pemerintah Thailand. Sementara Ibu dan kami anak-anaknya, sudah berkewarganegaraan Thailand, karena lahir dan besar di sini,” kata Mina mengenang rasa cinta Ayahnya pada Indonesia.
Saat meninggal, Erfan Dahlan meninggalkan 10 orang anak yang tidak begitu banyak tahu tentang sejarah leluhur ayah mereka. Meski pernah diceritakan tentang KH Ahmad Dahlan, namun Mina dan saudara-saudaranya tak pernah sekalipun bertemu sang Kakek. “Ayah begitu tertutup tentang cerita keluarganya dan kami tidak mau bertanya terlalu jauh,” ujar Mina diplomatis.
Mina hanya mengenang, sepeninggal Ayahnya, kehidupan mereka sempat mengalami pasang surut. Dari 10 anaknya, hanya kakak tertuanya yang sudah bekerja dan berpenghasilan tetap. Namun Zahrah mengajarkan anak-anaknya untuk tetap sabar dan tegar meski sudah menjadi anak yatim. Sementara berusaha menghidupi anak-anaknya, Zahrah tetap aktif di organisasi dakwah muslim dan tetap membantu anak-anak yatim lainnya.
Zahrah meninggal dunia pada tahun 1992. Meninggalkan putri putri yang kesemuanya berhasil meraih gelar Sarjana. Bahkan tiga diantaranya, pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat.
Keberhasilan ini ungkap Mina, diraih saudara-saudaranya dengan susah payah. Tak jarang mereka yang ditinggal sang Ayah saat berusia masih begitu belia, terpaksa harus berjualan kue olahan Ibu mereka Zahrah, demi mendapatkan uang sekolah. Di depan rumah, keluarga Erfan Dahlan juga pernah membuka warung kecil demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Saudara saya Dr Winai Dahlan, dulu pernah menjadi pembuat roti di rumah temannya. Untuk pendidikan, bila ada saudara yang sudah bekerja, ia akan membantu adik-adiknya untuk sekolah. Hingga akhirnya semua menjadi sarjana,” ungkap Mina dengan penuh rasa bangga.
Selain itu, menjadi keluarga pendakwah sepertinya juga sudah mengalir di keturunan KH Ahmad Dahlan di Thailand ini. Terbukti hingga kini, beberapa cucu pendiri Muhammadiyah ini masih melakukan dakwah bahkan memegang beberapa organisasi penting berbasis Islam di Thailand.
Anak ke 5 Erfan Dahlan bernama Dr Winai Dahlan. Sosoknya sangat dikenal sebagai aktivis Muslim besar di Thailand. Ia juga dikenal sebagai pendakwah yang diundang ke beberapa negara, dosen tetap di Universitas Chulalongkorn Thailand dan saat ini menjabat sebagai Direktur Halal Science Center, sebuah pusat penelitian sertifikasi halal di Thailand (diceritakan pada tulisan selanjutnya).
Anak ke 4 bernama Dahlan Ahmad Dahlan. Saat ini tercatat sebagai salah satu pendakwah terkenal di Propinsi Thailand Selatan. Ia mengusung metode dakwah dengan tema ‘Kekuatan Muslim’. Dahlan Ahmad Dahlan, mengajarkan tentang konsep sesungguhnya kehidupan muslim yang mandiri dan cinta damai.
“Konsep dakwah ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Thailand untuk dikembangkan di Thailand Selatan. Organisasi dakwah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik. Perihal konflik di sana, saudara saya memandangnya bukan karena konflik agama melainkan konflik politik. Kami sangat menghindari berbicara tentang politik,” tegas Mina.
Sementara anak ke 7, bernama Adnan Dahlan atau dikenal dengan nama Thailand, Arthorn Dahlan. Menetap di Propinsi Krabi, Thailand Selatan, Adnan saat ini bekerja sama dengan Majelis Ulama berbagai Propinsi lainnya di Thailand untuk mengembangkan sistem koperasi Syariah.
“Alhamdulillah, ajaran Kakek KH Ahmad Dahlan selalu disampaikan Ayah Erfan dan Ibu Zahrah kepada kami anak-anaknya. Banyak pesan baik yang selalu kami kenang. Mereka mengatakan bahwa warisan terbaik bagi anak cucu adalah pendidikan yang baik. Janganlah pernah malu pada kemiskinan tapi malulah ketika berbuat hal yang salah.
Jangan malas bekerja dan harus ikhlas saat membantu orang lain. Jangan pernah menghina yang kecil, karena suatu ketika, mereka bisa saja diangkat derajatnya dan menjadi orang besar. Jangan pernah meminta belas kasihan dan tetap menjaga iman,” ungkap Mina dengan suara tegas.

Sadar Jadi Cucu Pahlawan Setelah ke Indonesia

Keturunan Erfan Dahlan (dalam sejarah tertulis dengan nama Irfan Dahlan), putra KH Ahmad Dahlan yang hijrah dan menetap di Thailand sejak 1930, tak banyak tahu tentang sosok besar kakek mereka, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga Pahlawan Nasional Indonesia.



Hingga akhirnya mereka mengunjungi Indonesia yang diakui mengubah banyak hal setelahnya.



Saat JPNN bertanya, sejauh mana pemahaman cucu KH Ahmad Dahlan tentang kakek mereka, Mina (anak ke-6 Erfan Dahlan) mengaku tak banyak tahu tentang tokoh sentral Muhammadiyah asal Jogjakarta itu.



Meski pernah diceritakan sang ayah, namun Mina dan saudara-saudaranya tak pernah mendapatkan cerita utuh tentang sepak terjang sang kakek hingga dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional.



‘’Ayah sangat tertutup soal itu. Tidak banyak hal yang kami tahu soal KH Ahmad Dahlan atau pun Muhammadiyah. Kami juga tidak pernah mengunjungi Indonesia sebelumnya,’’ kata Mina.



Besarnya dampak menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan, baru dirasakan Mina dan saudara-saudaranya sepeninggal ayahnya.



Banyak orang dari Indonesia, selain mengunjungi Masjid Jawa (yang juga didirikan oleh keluarga Zahrah, ibu Mina), kemudian datang berkunjung ke rumah mereka di Bangkok. Tujuannya sekadar bersilaturahmi dengan keturunan KH Ahmad Dahlan.



‘’Abang saya Dr Winai, pernah bertemu dengan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin. Namun kami tidak banyak tahu soal Muhammadiyah karena yang datang kemari hanya masyarakat biasa saja. Mereka mengunjungi Masjid Jawa dan bersilahturahmi,’’ kata Mina dalam Bahasa Inggris bercampur Bahasa Indonesia.



Ketidaktahuan mereka tentang sosok KH Ahmad Dahlan terasa wajar. Meski ayah mereka, Erfan Dahlan, meninggal dengan status Warga Negara Indonesia (WNI), namun ibu mereka Zahra, tercatat sebagai warga negara Thailand.



Begitu pula dengan Mina dan 9 saudara lainnya yang lahir dan besar di Thailand. Sebelumnya mereka juga tak pernah berkomunikasi dengan keluarga besar KH Ahmad Dahlan di Indonesia.



Namun demikian Mina mengatakan, Indonesia baginya bukan negara asing. Mereka banyak diceritakan tentang negara asal ayah dan keluarga ibu mereka itu. Bahkan Zahra sekitar 1986 pernah mengunjungi saudaranya di Jawa Tengah.



‘’Mungkin karena terlalu sayangnya, sampai 3 bulan ditahan untuk tinggal bersama keluarga di Indonesia,’’ kata Mina sambil tertawa.



Setelah itu beberapa kali Mina dan saudara-saudaranya mulai mengunjungi Indonesia terutama Jogjakarta.



Salah satu kunjungan yang paling berkesan, ketika mereka diundang menghadiri 1 Abad Muhammdiyah. Kunjungan itulah, kata Mina, yang mengubah banyak hal pemahaman dan rasa cinta mereka pada sang kakek, KH Ahmad Dahlan.



‘’Kami para cucu, merasa kaget sekali melihat banyak orang datang mengusung poster KH Ahmad Dahlan. Stadion hanya dalam waktu singkat sudah diisi ribuan orang. Kami baru sadar ternyata kakek kami orang besar di Indonesia. Saya sendiri sampai merinding melihat lautan massa Muhammadiyah yang hadir ketika itu,’’ kata Mina mengungkap rasa bangganya.



Setelah kunjungan itu, rasa bangga menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan ditularkan Mina dan saudara-saudaranya kepada putra putri mereka (cicit atau generasi ketiga KH Ahmad Dahlan) yang tersebar di Thailand hingga Amerika Serikat.



Tidak hanya sekadar rasa bangga, mereka pun menjadikan nama Dahlan, sebagai nama resmi garis keturunan keluarga.



Keluarga besarnya di Thailand mulai memikirkan bahwa sejarah tak boleh terhapus begitu saja. Apalagi salah satu amanat ayah mereka, adalah untuk tetap mengingat KH Ahmad Dahlan dan tanah leluhur bernama Indonesia.



‘’Karena kami ini generasi berikutnya, merasa bertanggungjawab untuk meneruskan cerita sejarah pada cucu dan cicit KH Ahmad Dahlan. Bagaimanapun, kami memiliki darah Indonesia dan harus menghormati para leluhur,’’ kata Mina.



Akhirnya pada April 2013, dipimpin Dr Winai Dahlan, keluarga besar KH Ahmad Dahlan yang terdiri dari 22 orang cucu dan cicit dari Bangkok dan AS melakukan perjalanan ke Indonesia. Selain ziarah makam, mereka juga bertemu dengan keturunan KH Ahmad Dahlan lainnya di Jakarta dan Jogjakarta.



Mereka juga mengunjungi Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII). Tujuannya agar cucu dan cicit KH Ahmad Dahlan mengetahui tentang asal usul leluhur mereka. Bersama keluarga lainnya yang baru bertemu setelah puluhan tahun, kini sudah mulai terjalin kembali tali persaudaraan yang semula tak saling mengenal satu sama lain.



‘’Kini sudah tercipta hubungan baru antarmereka di generasinya. Dengan berkunjung ke Indonesia, rasa bangga menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan begitu terasa. Indonesia kini menjadi negara asal leluhur atau negara kedua (second home town) buat kami,’’ ungkap Mina.



Apakah punya rencana untuk kembali ke Indonesia? Mendapat pertanyaan ini, Mina hanya tertawa lepas. Dia mengatakan, bahwa Thailand adalah tanah kelahirannya, namun Indonesia akan selalu tetap di hati dan saudara-saudaranya.



Suatu ketika, ungkap Mina, saat KH Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, ada utusan pemerintah Indonesia yang datang ke keluarganya menyampaikan hadiah berupa satu unit rumah yang disebutnya terletak di Jakarta.



‘’Kami tidak tahu persis letaknya. Tapi rumah itu pada akhirnya kami tolak dan diserahkan kepada organisasi di sana (Muhammadiyah) untuk dijadikan pustaka atau museum KH Ahmad Dahlan saja. Karena lebih bermanfaat demi melanjutkan perjuangan beliau. Saya tidak tahu bagaimana nasib rumah tersebut,’’ kata Mina.



Bagi Mina dan saudara-saudaranya, menyandang status sebagai keturunan pejuang besar sekelas KH Ahmad Dahlan sudah menjadi penghargaan tersendiri.



Dia mengatakan, bahwa garis keturunan KH Ahmad Dahlan di Thailand awalnya malah tak mengerti tentang siapa sosok besar pendiri Muhammadiyah tersebut. Namun mereka sekeluarga telah memiliki semangat juang yang sama dengan sang kakek.



‘’Allah SWT Maha Pengatur. Ia menjadikan keturunan KH Ahmad Dahlan di Thailand juga melakukan dakwah dan menyiarkan Islam, meski mereka tak tahu apapun tentang beliau sebelumnya,’’ kata Mina.



Sama seperti semangat yang ditularkan KH Ahmad Dahlan, yang menjadikan Muhammdiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan, begitu pula dengan keturunannya di Thailand. Jauh sebelum mereka tahu siapa kakek mereka, Erfan Dahlan dan anak-anaknya sudah menjalankan berbagai kegiatan dakwah dan sosial.



Erfan Dahlan memimpin dakwah Islam di Thailand hingga akhir hayatnya. Begitu pula dengan istrinya Zahrah yang mendirikan Women Association of Thailand atau Asosiasi Perempuan Muslim Thailand.



Sepeninggal keduanya, anak-anak mereka (cucu KH Ahmad Dahlan) mendirikan Yayasan bernama Erfan-Yupha Dahlan untuk tetap mendukung kegiatan Muslim Women Association yang berkonsentrasi membantu pendidikan anak-anak miskin dan anak yatim.



‘’Yayasan ini didanai murni oleh keluarga besar Erfan Dahlan di Thailand. Konsentrasinya untuk kegiatan sosial dan dananya berasal dari penghasilan kami sendiri,’’ kata Mina.



Bolehkah minta foto kegiatan yayasannya? ‘’O, jangan. Kami tidak pernah mendokumentasikan kegiatan yayasan. Kata ayah, kakek mengajarkan bahwa berbuat baik itu cukuplah Allah saja yang tahu. Kalau perlu ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu mengetahui,’’ kata Mina menjelaskan alasannya menolak permintaan JPNN.

Mendirikan Lembaga Riset Halal Terbesar Di Dunia

“Tidak masalah apakah harus jadi orang Thailand atau Indonesia, apapun bisa kita dilakukan semampu kita demi kemaslahatan umat muslim dunia”. Itulah pesan Erfan Dahlan pada anak-anaknya. Erfan (dalam sejarah tertulis Irfan Dahlan) adalah putra KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas Muhammadiyah sekaligus pahlawan nasional Indonesia, yang memilih berkeluarga dan menetap di Thailand. Kini nasehat itu menjadi landasan perjuangan salah satu putranya, Prof Dr Winai Dahlan.
Awalnya JPNN bertemu dengan Amphom Dahlan atau yang akrab disapa Mina. Ia anak ke 6 dari 10 bersaudara, putra putri Erfan Dahlan yang juga berarti cucu KH Ahmad Dahlan. Mina merekomendasikan JPNN untuk bertemu dengan saudaranya, Winai Dahlan yang saat ini tercatat sebagai Direktur Halal Science Center di kampus Chulalongkorn University. Lembaga ini merupakan laboratorium pemeriksaan makanan halal yang juga memberikan pendidikan tentang halal kepada mahasiswa, pebisnis dan masyarakat.
“Ini merupakan satu-satunya lembaga riset halal dan terbesar di dunia. Menjadi pusat kajian terkemuka dan karenanya Dr Winai sering dipanggil keliling dunia untuk memaparkan tentang konsep halal secara ilmiah,” terang Mina.
Namun sayang ketika dihubungi, Dr Winai sedang berada di provinsi lainnya di Selatan Thailand dan baru kembali dua hari kemudian ke Bangkok. Untuk tetap dapat melanjutkan wawancara, melalui pembicaraan telepon, Dr Winai meminta JPNN mengirimkan daftar pertanyaan yang akan dijawabnya melalui email. Sementara Mina tetap diminta mewakili untuk menceritakan kembali perjuangan kakaknya mendirikan HSC yang terkenal di dunia tersebut.
Mina menjelaskan bahwa HSC bukan lembaga yang mengeluarkan sertifikat halal, namun membantu The Central Islamic Council Of Thailand (MUI-nya Thailand) mengeluarkan sertifikat hasil pengecekan secara random.



“Semuanya berawal dari rasa mencintai Islam. Di Thailand perkembangan Islam kian meningkat, namun kepastian soal halal masih kurang,” kata Mina.

Pada tahun 1994, Dr Winai Dahlan yang saat itu tercatat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Chulalongkorn University (Universitas pertama dan terbesar di Thailand), dengan inisiasi sendiri menggunakan laboratorium di Fakultas kampusnya mengecek makanan yang sengaja dibawanya dari pasar tradisional.



“Ketika itu ia mengecek satu sosis ayam dengan logo halal (versi MUI-nya Thailand). Namun setelah dicek lab, ternyata sosis itu bercampur dengan daging babi,” ungkap Mina.



Melalui balasan email beberapa hari kemudian, Dr Winai pun menerangkan bahwa temuannya tentang sosis bercampur babi telah menghebohkan kalangan muslim di Thailand ketika itu. Sadar bahwa jaminan mengkonsumsi yang halal adalah wajib hukumnya bagi seorang muslim, Dr Winai mulai mendapatkan banyak sponsor untuk membangun laboratorium yang lebih besar lagi. Fokusnya tidak hanya soal halal, tapi juga jaminan bahwa makanan itu layak untuk dikonsumsi.



Bahkan pada tahun 2004, Dr. Winai mendapat dukungan dana penuh dari Pemerintah Thailand membangun Halal Science Centre (HSC) di Universitas Chulalongkorn dimana Dr. Winai menjadi Direkturnya hingga saat ini. HSC membantu Central Islamic Council Of Thailand mengecek makanan yang telah terdapat logo Halal secara random.



“Peran HSC tidak hanya mengecek makanan halal saja, tapi juga menganalisa halal secara ilmiah dengan menggunakan tekhnologi dan inovasi. Apa yang sudah dilakukan ini telah berbuah banyak penghargaan di tingkat nasional dan juga internasional,” terang Dr Winai melalui email.

Berkat dukungan dari pemerintah Thailand, kini HSC telah berkembang menjadi satu lembaga riset halal terbesar di dunia. Di Laboratorium HSC terdapat berbagai peralatan modern dan canggih yang berguna untuk mengidentifikasi status makanan apakah layak mendapat lisensi halal atau tidak.



Alat-alat laboratorium di HSC juga terbilang cukup mahal. Nilainya bisa mencapai ratusan juta hingga puluhah miliar rupiah. Ada alat bernama Gas Chromatography Coupled with Mass Spectrometry (GC-MS). Alat ini dapat mendeteksi kandungan lemak babi hingga spesifik di ukuran milimikron.



Ada pula alat bernama Gas-Liquid Chromatography (GLC) yang mampu mengetahui kandungan alkohol dalam makanan. Sedangkan alat bernama Real Time Polymerase Chain Reaction, disebut mampu menganalisis DNA binatang yang terkandung dalam produk makanan olahan.



Tidak hanya meneliti kandungan haram pada makanan dan minuman, HSC yang digawangi Dr Winai, juga mempelajari kandungan zat yang haram pada alat kosmetik dan alat kesehatan. Salah satu nama alat yang digunakan adalah Inductively Coupled Plasma Spectrometry.

“HSC menjadi berkembang berkat dukungan penuh dana dari pemerintah kerajaan Thailand,” tegas Dr Winai



Dengan lembaga riset ilmiah yang dipimpinnya saat ini, Dr Winai menginginkan agar HSC menjadi pelopor terciptanya sistim dan proses  produksi  makanan halal di seluruh dunia (Halal Assurance and Liability quality System) atau dikenal dengan istilah HAL-Q.



“Sistim Hal-Q kini telah dikenal seluruh dunia dan HSC menginginkan agar Hal-Q bisa menjadi standard dunia. Sehingga seorang muslim, benar-benar mendapatkan pengetahuan soal halal dan haramnya makanan atau apapun yang mereka konsumsi atau gunakan,” terang Dr Winai.



Dengan nama besarnya kini di Thailand, bukan berarti Dr Winai melupakan tentang tanah leluhurnya, Indonesia. Ia kini sudah mewujudkan pesan sang Ayah yang diwarisi dari nasehat sang kakek, KH Ahmad Dahlan. Bahwa dimanapun, asalkan ada kemauan dan rasa cinta pada Islam, pasti akan diberikan jalan untuk memberi kontribusi besar bagi agama dan juga bangsa.



“Dr Winai telah menjalin kerjasama juga dengan beberapa Universitas di Indonesia. Ia sudah beberapa kali diundang datang. Dengan populasi muslim terbesar di dunia, harusnya Indonesia juga memiliki lembaga riset seperti HSC. Mungkin memang sudah ditakdirkan Tuhan, cucu KH Ahmad Dahlan yang menjadi pelopornya lebih dulu,” ujar Mina tentang keinginan saudaranya merintis semangat halal di dunia.

“Dr Winai sangat menginginkan terjalinnya kerjasama yang baik antara HSC dengan berbagai negara lainnya, tujuan utamanya untuk melindungi muslim,” kata Wina.



Bangga Menguasai Bahasa Indonesia



Hari sudah beranjak malam. Tak terasa sudah hampir 4,5 jam pembicaraan JPNN dengan Mina, cucu KH Ahmad Dahlan. Diakhir pertemuan, karena rasa penasaran, JPNN pun bertanya, bagaimana Mina bisa menguasai banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia. Sementara saudara lainnya tidak bisa lagi berbahasa asal leluhur mereka itu.



Mina akhirnya menjawab bahwa ia saat ini bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok.”Saya sudah bekerja sejak tahun 1977, artinya sekitar 35 tahun,” jawabnya.



“Semua tidak direncanakan. Saat saya diterima bekerja di KBRI Bangkok, keluarga sempat berdiskusi. Akhirnya kami mengembalikan semua ini adalah keinginan Allah. Di keluarga kami,  hanya ada dua yang bisa berbicara bahasa Indonesia,” kata Mina.



“Pertama kakak saya bernama Rambhai atau Marifah (anak tertua Erfan Dahlan) karena ia juga bekerja di kedutaan dan saya sendiri. Saya bangga bisa berbicara bahasa Indonesia dan saat ini mengajar bahasa Indonesia dasar. Murid saya kebanyakan para pebisnis Thailand yang membutuhkan penerjemah untuk pebisnis di Indonesia.  Mungkin ini salah satu jalan, agar kami tetap dekat dengan tanah leluhur kami. Salam dari kami untuk rakyat Indonesia,” kata Mina menitip pesan
Laporan: Afni Zulkifli, Bangkok
yy/jpnn.com/foto jpnn.com

Dapatkan Wisbenbae versi Android,GRATIS di SINI ! 
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?

 
Top