GuidePedia



Luwak Pandan, salah satu dari 60 hewan Luwak peliharaan Hj Yekti Murih Wiyati (37), pemilik usaha kopi Luwak "Luwakmas" di Kampung Luwak, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Nama kopi luwak dari Indonesia mencapai kepopulerannya beberapa tahun belakangan ini. Meski diketahui asal mulanya berasal dari kotoran luwak yang memakan biji kopi, pecinta minuman hitam ini (terkadang putih) tidak mundur.

Ketenaran kopi luwak membuat harganya melambung. Bahkan salah satu situs internasional penjual kopi ini mematok harga hingga US$280 (Rp2,7 juta-an) per 0,45 kilogram. Namun, yang paling terdampak dari semua popularitas ini adalah si luwak itu sendiri.

Banyak produsen yang kemudian menangkap luwak di alam liar, menangkar, dan memaksanya memakan biji kopi. Kondisi penangkaran jauh dari kata layak, seperti dilaporkan oleh Chris Shepherd sebagai Direktur Deputi Regional LSM antiperdagangan hewan liar, TRAFFIC.

Shepherd mengunjungi penangkaran luwak pada tahun 2010 dan 2012 di Jakarta. Ia mendokumentasikan penjualan 30 luwak dari tiga spesies; Viverricula indica, Paradoxurus hermaphroditus, dan Arctogalidia trivirgata.

Meski secara teori ketiganya tidak dalam status terancam, perdagangan ini berdampak hebat pada populasinya. "Semakin tinggi permintaan, dilaporkan adanya luwak spesies lain yang ditangkap dan ditambahkan ke penangkaran luwak penghasil kopi," ujar Shepherd seperti dilansir dari Mongabay, Selasa (16/4/2013).

Banyaknya "luwak palsu" ini membuat kopi luwak dianggap sebagai tipuan saja atau barang favorit baru semata. Specialty Coffee Association of America (SCAA) menegaskan, "Ada konsesus umum dalam industri kopi bahwa rasanya sangat tidak enak".

SCAA juga mengklaim bahwa nyaris semua kopi luwak yang ada di pasaran adalah palsu. Mengingat ada 50 kali jumlah kopi yang ditawarkan dibanding yang dihasilkan.

"Beberapa spesies luwak sudah lebih dulu terancam karena hilangnya habitat dan perburuan. Dan ini (produksi kopi) hanya menambah satu tekanan lagi," kata Shepherd. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)

sains.kompas.com

Beli yuk ?