
Bangunan Museum Simalungun yang terletak di Kota Pematang Siantar ini berbentuk rumah adat yang sangat menarik. Namun jangan dikira bentuknya seperti Rumah Bolon (rumah adat Sumatera Utara) yang banyak di temui di sekitaran Pulau Samosir. Bentuknya sangat berbeda dengan Rumah Bolon. Mungkin bentuk bangunan seperti ini adalah ciri khas bangunan asal Simalungun. Hal yang paling membedakan adalah bentuk atapnya. Sedangkan untuk fungsi bangunannya sepertinya sama saja, berupa rumah panggung yang ruang utamanya ada di lantai dua. Selain pada atap, ornamen-ornamen yang menghiasi bangunan rumah adat ini juga sudah sangat berbeda. Namun warna merah, putih, dan hitam masih sangat mendominasi.
Daripada bengong di luar, mending langsung masuk saja ke ruang utama museum di lantai atas dengan naik beberapa anak tangga. Awalnya saya agak bingung juga karena museum ini sangat sepi pengunjung. Sewaktu saya datang, yang berkunjung cuma ada dua orang anak SMP yang sepertinya sedang diberi tugas sekolah. Itupun mereka sudah selesai melakukan kunjungan dan akan segera pulang.

Secara garis besar, koleksi Museum Simalungun terdiri dari peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, peralatan perikanan, alat-alat kesenian, dan perhiasan. Nama-nama peralatan yang menjadi koleksi museum ditulis dalam bahasa batak misalnya hudali (cangkul), pinggan pasu (piring untuk raja), hail (kail), dan lain sebagainya. Dari segi ragam koleksi nggak terlalu banyak jenisnya. Sebagian barangnya ya itu-itu aja walaupun disimpan di tempat yang berbeda.

Kebudayaan Simalungun yang tergambar di Museum Simalungun nggak melulu asli dari wilayah Simalungun. Ada juga beberapa kebudayaan yang mengadopsi dari Jawa. Yang paling terlihat adalah pada alat musik yang menyerupai gamelan. Ada gendang, gong, dan sejenisnya. Saya lupa apa namanya kalau di daerah Simalungun. Namanya benar-benar sulit diingat kalau nggak dicatat. Maklumlah nggak ngerti sama sekali dengan Bahasa Batak.

Sambil berjalan ke ruang bawah, si mbak terus bercerita tentang bangunan museum ini. Dulunya museum full terbuat dari kayu. Bahkan beberapa bagian bangunan menggunakan kayu-kayu utuh gelondongan yang disusun seolah seperti bertumpukan untuk menyangga bangungan di atasnya. Karena semakin lama termakan usia, kayu-kayu itu digantikan oleh semen beton namun sudah dicat menyerupai sebuah kayu alami. Untuk membuktikannya saya ketok deh itu kayu-kayu penyangga, dan memang benar sudah diganti dengan semen. :D

Secara keseluruhan Museum Simalungun cukup menarik. Sayangnya objek wisata sejarah yang satu ini sepertinya sangat tertinggal dan tidak dikenal seperti layaknya Danau Toba di Parapat yang juga masih masuk dalam Kabupaten Simalungun. Perawatan museum sepertinya juga kurang. Ada beberapa koleksi yang rusak, ntah sudah menua atau memang dimakan rayap. Sebagian besar juga berdebu seperti jarang dibersihkan. Lebih miris lagi ketika mendengar cerita mbak yang jaga kalau pengunjungnya sangat minim, bahkan hanya beberapa kunjungan saja perbulan. Kalau diibaratkan Museum Simalungun ini “hidup segan matipun tak mau”. Padahal wisata Museum Simalungun bisa saja dipaketkan dengan wisata Danau Toba di Parapat yang hanya berjarak 50 km kalau saja dikelola dengan baik. Toh sebagian besar pelancong yang mengunjungi Danau Toba akan melalui Pematang Siantar. Apalagi bisa dibilang tiketnya juga murah lho. Cuma 5.000 rupiah saja, kita bisa berwisata sekaligus belajar sejarah dan budaya..
http://www.wijanarko.net/2011/10/nggak-sengaja-ketemu-museum-simalungun.html
Post a Comment Blogger Facebook
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.