
Tanpa terasa hari sudah mulai sore saat saya masih berkeliling kota Pematang Siantar di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Pusat kota yang terletak di kedua ruas jalan itu membuat Pematang Siantar sangat mudah dihafal hanya dalam beberapa jam saja. Maghrib sudah semakin dekat, saya harus segera mencari makanan untuk membatalkan puasa saya. Berbagai jenis makanan memang tersedia di Pematang Siantar, baik yang berupa warung pinggir jalan di sepanjang Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka ataupun food court yang terletak di Siantar Plaza. Namun sepertinya hari ini saya tidak melirik sedikitpun aneka makanan tersebut. Kenapa? Saya melihat duren! Hoho..
Yup duren adalah salah satu buah yang menjadi favorit saya. Bahkan yang paling saya sukai. Saya rela kok nggak mengisi perut saya dengan nasi sekalipun dan menggantinya dengan duren. Terlahir dan pernah besar di Sumatera membuat saya sangat menggemari buah yang satu ini. Apalagi kan Sumatera terkenal dengan penghasil duren di Indonesia. Bahkan kalau di rumah (Lampung), keluarga saya sudah sangat terbiasa sarapan duren. Pagi-pagi bukan sarapan dengan nasi atau sejenisnya melainkan sarapan duren. Bagi yang belum terbiasa memang sangat tidak direkomendasikan, bisa mabuk nanti apalagi kalau terlalu banyak. Hoho.. Nah kalau sedang musim duren, ibu saya yang paling rajin beli. Sekali beli bisa 10 buah, itupun dilakukan hampir setiap hari. Ya karena kalau pas lagi musim, duren di Sumatera itu lumayan murah, hanya 7.000-15.000 per buah tergantung dari besar kecilnya. Kalau di Jawa sih jangan tanya harganya… Mahalll…

Nggak perlu pikir panjang, saya membeli dua buah duren ukuran sedang. Saya meminta si ibu penjual untuk memilihkan buah yang matang. Karena waktu maghrib sudah tiba, saya meminta untuk membukanya sekalian. Rupanya ada dua jenis duren yang dijual. Saya tidak paham jenisnya karena si ibu terus berbicara dengan bahasa batak yang tidak saya mengerti. Mungkin dikiranya saya orang batak. Yang jelas perbedaan jenisnya ada pada daging buah duren itu. Jenis pertama berdaging warna putih dengan rasa manis agak cenderung pahit, sementara yang satunya lagi daging buahnya berwarna kuning dengan rasa manis biasa. Bagi penggemar duren sejati pastinya akan jauh menyukai yang rasanya cenderung pahit. Duren yang seperti inilah yang benar-benar mantap. Dagingnya sih seperti kebanyakan duren lokal, nggak terlalu tebal. Tapi untuk rasa, duren montong sekalipun akan kalah jauuuh..

Tiga buah duren terdiri dari dua buah ukuran sedang dan sebuah ukuran kecil yang saya makan cuma dihargai 25.000. Murah banget kan ya.. Bisa betah deh saya lama-lama di Pematang Siantar kalau banyak duren dengan harga murah gini.. Hehe.. Perut kenyang, hatipun tenang. Tapi lama-lama kok dada terasa agak panas. Mungkin sedikit efek makan duren tadi. Hari sudah malam, saya kembali ke penginapan naik becak motor BSA lagi. :)
http://www.wijanarko.net/2011/10/kalap-makan-duren-di-pematang-siantar.html
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !
Post a Comment Blogger Facebook
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.