GuidePedia

0

Setelah kegagalan saya sebelumnya, mendaki Gunung Arjuno, terus terang saya membutuhkan sebuah pencapaian yang ‘lebih’ sebagai sarana memperbaiki ego saya yang ‘terluka’. Dan kata kunci ‘jalur pendakian tersulit di gunung tertinggi jawa barat’ menghasilkan Jalur Linggarjati di Gunung Ciremai. Dan ke sanalah tujuan pendakian saya selanjutnya :D Namun berhubung Jalur Linggarjati sudah ditutup (karena sering terjadi kecelakaan), maka saya menggunakan jalur penggantinya, Jalur Linggasana. Dalam setiap pendakian, saya selalu menggunakan jalur resmi… Bukan apa-apa, hobi hiking adalah hobi yang beresiko. Sehingga status terdaftar adalah salah satu syarat yang selalu saya pegang teguh sebagai sarana kontigensi plan saya

Setelah selama sebulan sebelumnya saya mengirimkan undangan ke seluruh teman saya, hasilnya ada 2 orang teman kantor yang ikut pendakian kali ini. Amri Luthfi dan Yurdian Jumhari. Selain itu, tentunya istri saya ikut :D Seperti moto istri saya: “Ke gunung, aku ikut… ke laut, aku turut… (mengikuti lirik lagu jadul :D )” Anggota lainnya adalah kenalan saya dari MyQuran, Zakiya. Namun sayang, pada hari terakhir, beliau terkendala tugas kantor, sehingga batal ikut.

Jadilah hanya kami berempat (saya, istri saya, Amri, dan Yurdian) yang berangkat.

Berangkat hari Jumat, tanggal 1 April 2011, tepat setelah pulang kantor, saya dari awal pergi kantor sudah menggendong tas carrier (tas hiking) seberat 15 kilogram punya saya. Dari kantor saya di daerah Thamrin, kami naik kereta arah Bogor di Stasiun Sudirman. Kereta jadwal 17.40 yang cukup padat, terpaksa menerima 3 orang ‘aneh’ yang menggondol tas-tas segede ‘gaban’ :D Kami naik kereta menuju Bogor dengan rencana naik bus Depok-Kuningan jadwal 19.30 di Terminal Depok.

Setelah sholat magrib di Stasiun Depok Baru, kami mulai berjalan ke pool bus antar kota di Terminal Depok. Ketemu istri di sana, kami langsung makan malam karena takut tidak keburu di jalan. Maklum, katanya sih, perjalanan Depok-Kuningan bisa menghabiskan waktu 6 jam. Jadi harus stock makanan dulu dari awal ;). Tapi ternyata, tindakan makan dulu baru beli karcis, adalah kesalahan pertama kami dalam perjalanan itu. Karena ternyata, setelah makan kami ke loket karcis Depok-Kuningan, bus jadwal 19.30 sudah penuh! Paling banter, kami bisa naik di tengah bus dengan menggunakan ‘kursi baso’. Prospek 6 jam duduk di kursi baso dengan membawa tas-tas besar, cukup membuat jiper juga akhirnya.

Salah seorang kenek/sopir bus akhirnya menyarankan kami untuk naik bus selanjutnya yang sudah terparkir di sebelah dan masih kosong melompong. Setelah diyakinkan bahwa bus selanjutnya akan jalan sebentar lagi, kami akhirnya menerima tawaran tersebut. Kesalahan kedua!

Tepat setelah bus jadwal 19.30 jalan, kami disuruh beli karcis. Di situ tertera: keberangkatan bus yang kami tumpangi adalah 21.30!!! lesson learnt, jangan pernah percaya sopir/kenek di terminal :D jadilah 2 jam kami luntang-lantung di dalam bus…

Akhirnya, tepat pukul 21.30 (dua jam setelahnya!), bus berangkat dalam keadaan tidak begitu penuh. Hal yang cukup mengherankan, sebenarnya, buat saya. Karena setahu saya, biasanya bus ekonomi seperti ini, tidak akan jalan sebelum benar-benar padat. Awalnya sih, senang banget, dapat bus kosong seperti ini… kebayang kami bisa guling-gulingan sepanjang perjalanan 6 jam ke Kuningan :D

Namun sayangnya, seperti kecurigaan awal saya, di banyak titik bus tersebut berhenti menarik penumpang. Sampai FULL!!! Tahu rasanya naik kereta ekonomi Jakarta-Bogor pada ‘rush hour’? nah, sepenuh itu juga, bus ini pada akhirnya…. :’(

Untungnya, perjalanan yang tadinya diperkirakan 6 jam, ternyata tidak selama itu. Perjalanan ‘hanya’ memakan waktu 5 jam untuk mencapai pertigaan Cilimus-Cirebon. Tempat kami diturunkan di dini hari, untuk dipindahkan… :’( Untungnya (lagi), si supir lumayan tanggung jawab, jadi dia mencarikan dulu kendaraan yang kami butuhkan untuk mencapai Linggarjati, sebelum meninggalkan kami. Jadinya, dari pertiggaan tersebut, kami meneruskan perjalanan menggunakan mobil colt.

Sampai di Pertigaan Linggarjati, kami meneruskan perjalanan dengan menggunakan ojek. Tarif ojek Rp 10.000,- sampai ke pos pendaftaran Linggasana. Sampai di pos 1 pendakian (pos pendaftaran Linggasana)pukul 04.00, ternyata pos-nya masih tutup. Dan di depan pos sudah ada rombongan lain yang sudah buka tenda. Menurut mereka, mereka sudah datang dari pukul 02.00, dan berencana mendaki pukul 06.30. asyiik… dapet teman rombongan! Dan melihat perlengkapan mereka (tas carrier gede-gede), sepertinya mereka sudah sering mendaki, jadi saya senang-senang saja berencana naik bareng.

Merasa tanggung untuk buka tenda, akhirnya kami duduk-duduk saja di emperan pos 1. Menunggu pagi menjelang, dan petualangan dimulai :D


Pukul 05.00, pos pendaftaran akhirnya dibuka. Asyiknya lagi, ternyata di pos tersebut kita bisa memesan makanan dan minuman! Ibu penjaga pos ramah sekali… jadilah kami sarapan n ngopi-ngopi dulu di pos pendaftaran.

Setelah ngopi, numpang ke kamar mandi :D, nanya-nanya tentang jalur pendakian (konon, ada larangan bersiul selama pendakian), sarapan, lalu mendaftarkan data rombongan, kami pun mulai berangkat sekitar pukul 06.30 (dari rencana keberangkatan pukul 05.00 :D ).



Kami berangkat berbarengan dengan rombongan lain yang kami temui sebelumnya. Namun karena ternyata masa istirahat kami berbeda (maksudnya, pas dia masih semangat, kami sudah perlu istirahat :D ), akhirnya kami berpisah jalan. Walaupun pada akhirnya kami susul-susulan juga di jalan (karena ternyata mereka juga perlu istirahat juga :D :D )


Berangkat dari pos 1, perjalanan kami diawali dengan melewati tower listrik guedhe… di bawah tower listrik, ada gerbang tanda masuk jalur pendakian Gunung Ciremai. Nah, jalannya Cuma satu, jadi gak bakal nyasar. Terus mengikuti jalur yang cukup landai tersebut, kami akhirnya sampai ke pos 2 (pos Ki Kuwu). Di sini, ada semacam air mancur yang berasal dari mata air gunung. Sangat disarankan mengisi ulang perbekalan air di sini, karena mata air selanjutnya ada di sebelum pos 3 (Condang Amis), yang walaupun tidak jauh dari pos 2, namun perlu masuk ke jalur lain (di luar jalur utama pendakian) yang cukup terjal dan jauh untuk mencapainya Berhubung kami belum tahu, jadinya kami tidak mengisi ulang air di sini.

Sejauh ini, perjalanan masih mudah, jalan masih landai dan lebar, kualitas jalan juga sudah baik karena memang melewati perkebunan kopi, jadi kemungkinan besar, jalan sering dilewati mobil pengangkut kopi. Melewati kebun kopi, jalan mulai bersemak dan cukup terjal. Tepat sebelum pos Condang Amis, ada pertigaan menuju mata air, sementara jalan satunya adalah jalan utama pendakian. Di sini, kegirangan menemukan mata air, kami langsung menghabiskan air yang kami bawa dari bawah agar bisa diisi ulang. Satu liter air langsung habis saya teguk :D

Amri n Yurdian jadi utusan rombongan untuk mengisi air. Sementara saya dan istri jaga barang di pertigaan. Tidak berapa lama, rombongan satu lagi tiba, mereka juga beristirahat dan mengambil air. Melihat dari jumlah keringat n gaya napas yang samangos2annya, sepertinya sih, mereka juga sama aja amatirnya dengan kami :D :D

Setelah Amri n Yurdian tiba, kami melanjutkan perjalanan. Tapi ternyata, tidak berapa lama, kami menemukan hambatan pertama kami… Tidak jauh dari pertigaan mata air, sebuah pohon berukuran ‘raksasa’ tumbang menghalangi jalan kami. Kami terpaksa melewati semak belukar untuk mengitari dahan-dahan dan batang pohon tersebut. Walaupun akhirnya, tidak berapa lama, kami bisa kembali ke jalur yang normal.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?