Jika
kita mau mengamati sedikit lebih detail, khususnya di negeri ini, maka
para ustadz yang membawa Islam ke ranah 'dunia', pasti akan berhadapan
dengan konspirasi yang tak bertepi. Uniknya, konspirasi ini dirancang
sedemikian rupa sehingga nampak apa adanya. Meskipun, bagi kalangan yang
melek intelektual, dan sedikit mau memakai hatinya dengan kaca mata
kearifan, nampak sekali bahwa hal tersebut tidak normal. Dibuat-buat, di
lebay-lebay-kan.
Hal tersebut berlaku sebaliknya. Para Ulama'
yang (maaf) hanya sibuk dengan 'akhirat' tanpa mau menyentuh 'dunia',
maka dia akan aman. Sepi dari makar. Bahkan, disuburkan.
Kita
mulai dari sebuah contoh. Aa Gym. Ingat awal dakwah beliau? Sukses Luar
Biasa. Bahkan sempat diwacanakan, ada yang mencalonkan beliau menjadi
kandidat Presiden di Negeri ini. Beliau tidak hanya ceramah. Tidak hanya
ngurus 'akhirat'. Beliau nulis buku, punya bisnis yang menasional.
Mulai dari air minum, penerbitan, travel, radio, tv, dan seterusnya.
Video ceramah-ceramah beliau juga marak di dunia maya.
Tampilannya
pun necis. Tidak melulu bersarung. Bahkan, saya tidak pernah melihat
beliah bergamis layaknya syeikh-syeikh di Timur Tengah sana. Beliau
lebih suka bersarung dipasangkan dengan jas atau baju taqwa dihiasai
penutup kepala berupa peci yang diikat dengan surban. Karena beliau
terjun juga ke urusan 'dunia', beliau tak jarang nampak berjas,
bercelana, dan pakaian khas eksekutif lainnya. Beliau juga hobi berkuda
dan aneka hobi ekstrim lainyya.
Singkatnya, beliau berhasil
membangun sebuah kerajaan baru di negeri ini. Dan tidak sejengkalpun
tanah di negeri ini yang belum beliau jejaki. Baik dengan ceramah,
tulisan maupun produk beliau.
Saya sangat yakin, jika ketika itu
beliau benar-benar maju menjadi kandidat calon Presiden di negeri ini,
Insya Allah beliau akan terpilih.
Nah, musuh-musuh Islam inilah
yang tidak akan tenang dengan gerakan beliau. Sehingga disusunlah makar.
Jahat. Tapi begitulah perjuangan. Kerajaan yang beliau bangun
sedemikian kuat, kokoh itu, dihancurleburkan melalui sebuah konspirasi :
Poligami.
Sangat aneh kawan-kawanku sekalian. Media serentak
menyerang beliau. Habis-habisan. Hingga masalah yang dianjurkan oleh
agama ini, nampak tabu karena pemberitaan. Bahkan, tak sedikit jama'ah
yang berbalik membenci beliau. Padahal, sang istri pertama pun ikhlas
menerima pernikahan beliau yang kedua. Meski sempat cerai, tapi akhirnya
mereka kembali dalam sebuah keluarga yang
sakinah,
mawaddah dan
rahmah, aamiin. Insya Allah.
Andai
kita mau bertanya, "Kenapa Poligami yang dilakukan Aa Gym dihukumi
"haram" oleh media? Sehingga mereka bersatu padu memberitakan ini agar
nampak seperti kesalahan?" Jawabannya sederhana : media mengikuti mau
pemodal. Siapa punya modal, dia bisa dengan suka hati menurunkan berita.
Lantas, siapakah insan pemilik media itu? Panjang kalau pertanyaan ini kita bahas.
Satu
pertanyaan lagi, "Kenapa pernikahan Aa Gym dipermasalahkan? Sementara
banyak sekali ustadz, kiyai, anggota DPR, dan orang biasa yang melakukan
pligami serupa? Bahkan, ketika Ustadz Arifin Ilham Poligami-pun, tidak
ada pemberitaan sama sekali. Padahal, Jama'ah ustadz Arifin Ilham juga
jutaan? Tak jauh beda dengan jama'ah Aa Gym kala itu?"
Saya hanya bisa menjawab, "Saya tidak jauh lebih tahu dari anda."
Itu satu contoh.
Contoh
kedua. Ustadz Sedekah. Yusuf Mansyur. Pola dakwahnya mirip Aa Gym.
Gaul. Beliua juga gak pernah terlihat memakai gamis. Hanya celana dan
baju panjang. Bajunya-pun bukan koko. Kadang, cuma kemeja biasa. Saya
pernah menyaksikan beliau mengimami shalat Maghrib ketika bulan Ramadhan
sekitar dua tahun yang lalu di salah satu Masjid di Komplek Pabuaran
Indah - Bogor. Beliau mampir. Sahabat tahu? Celana yang beliau pakai,
bagian ujungnya robek. Beliau nampak enjoy. Padahal, harta beliau sudah
milyaran.
Nah, beliau juga terjun ngurusi 'dunia'. Mulai
investasi, sawah, hotel, dll. Rumah Penghafal Qur'an yang beliau gagas
saja, tersebar di seluruh Indonesia dengan
brand yang sama. Ceramah beliau juga tersebar luas di
you tube.
Dakwah beliau biasa disiarkan di televisi nasional Kita. Bahkan,
Ramadhan tahun lalu, beliau rutin mengisi kajian selepas tarawih, setiap
malam dan disiarkan di televisi nasional kita.
Gagasan yang beliau bawa sederhana,
Mari Beli Ulang Indonesia.
merupakan sebentuk cinta anak negeri kepada bangsanya. Nasionalisme
beliau bukan sekedar buta. Bukan lantaran suku. Tapi cinta kepada
ngerinya. Karena kesadaran penuh bahwa negeri ini adalah amanah yang
harus dijaga. Bahwa negeri ini hanya bisa dimakmurkan dengan iman dan
taqwa seluruh penghuninya.
Mimpi beliau sangat mulia. Membeli
televisi nasional, membeli bank syari’ah yang kini asetnya dikuasai
asing, mempunyai hoyel syari'ah, mendirikan Rumah Penghafal Qur'an di
setiap jengkal negeri ini, dan seterusnya.
Saya berpendapat,
beliau satu-satunya ustadz yang hanya modal 'ceramah', bisa mengumpulkan
jutaan bahkan puluhan milyar rupiah. Ingat, hanya ceramah. Ini, tak
bisa dilakukan oleh banyak orang. Benar-benar tidak ada duanya.
Berdasarkan cerita salah satu murid beliau, ketika mengundang beliau,
hanya modal 4-5 juta. Nah, dalam kajian tersebut, beliau akan meminta
jama'ah untuk berinfaq. Dari infaq tersebut diberikan untuk pengurus
masjid setempat atau untuk dakwah. Dalam sekali 'sulap', hanya dengan
modal 4-5 juta itu, terkumpullah uang 15-20 juta. Luar Biasa, bukan?
Berapa kali lipat? Modalnya cuma ceramah!
Dalam kasus terbaru,
dengan konsep Patungan Usaha (PU) dan Patungan Asset (PA), beliau
berhasil menarik puluhan milyar rupiah ke dalam rekening beliau. Ingat
ya, modalnya hanya ceramah. Bahkan PA dan PU itu, hanya disosialisasikan
lewat Internet. Di website dan akun twitter beliau. Dimana paket infaq
mulanya hanya 1 juta perorang, kini sudah dipatok menjadi 12 juta. Bisa
perorang, rombongan atau atas nama majlis taklim.
Nah, musuh Islam ini
keder
melihat orang seperti beliau. Hanya modal ceramah saja, bisa
mengumpulkan puluhan milyar dalam waktu dekat. Jika dibiarkan, maka
puluhan milyar itu bisa menjadi puluhan triliun. Jika pulhan, ratusan
dan ribuan triliun sudah terkumpul, bisa jadi kita akan lunasi hutang
negeri ini dengan uang tersebut. Dan ini, benar-benar membuat musuh
Islam berpikir setengah mati untuk menghentikan langkah beliau.
Sekarang
ini, konspirasi-konspirasi jahat yang dialamatkan kepada beliau mulai
dilancarkan. Dengan beragam cara dan sudut pandang. Saya ingat majalah
yang pertama kali mengusik dakwah beliau dan media-media yang kemudian
menyerang beliau secara membabi buta.
Bahkan, ada diantara mereka yang bertanya, "Bagaimana kalau ada jama'ah yang minta uangnya dikembalikan?"
Ini
pertanyaan bodoh. Sangat bodoh. Karena sampai sekarang, tidak ada
jama’ah yang datang menarik investasi yang sudah diititipkan dalam PA
dan PU yang beliau gagas itu. Bahkan, di luar sana, banyak sekali
jama’ah yang ingin bergabung. Tapi belum kesampaian. Baik karena uangnya
terpakai untuk kebutuhan lain, atau yang memang sedang mengumpulkan
uang sejumlah itu.
Oya, jangan cerita ke siapa-siapa ya? Beliau
ini, berdasarkan sumber yang tidak mau disebut namanya, didatangi oleh
beberapa orang yang hendak mencalonkan diri menjadi calon Presiden di
pemilu mendatang. Dan, ustadz YM ini ditawari untuk menjadi wakilnya.
Dengan tegas, ustadz yang masih muda dan tampan itu menolak. Dan
penolakan beliau, berujung pada konspirasi jahat yang tengah terjadi
saat ini.
Akhirnya, kita sepakati perkataan Ustadz M Natsir. Sang
pendahulu dakwah di negeri ini pernah berpesan. Bahwa orang Islam yang
mengurusi ekonomi, politik dan hal-hal 'duniawi' lainnya, tidaklah
mungkin dibiarkan. Beliau kemudian melanjutkan, jika tidak mau diganggu,
maka berislamlah hanya di masjid saja. Sholat, dzikir, baca Qur'an,
istighotsah dan ibadah-ibadah ritual lainnya.
Lantas, apa yang
bisa kita lakukan? Kita doakan ustadz-ustadz kita itu. Terlebih lagi,
beliau-beliau terjun ke rimba raya politik dan ekonomi. Agar Allah
menolong mereka, Agar Allah menguatkan mereka. Dan kita, menjadi bagian
dari mereka.
Para musuh Islam memang membuat makar. Tapi ingatlah, Bahwa Allahlah sebaik-sebaik pembuat makar.
Karena
kita punya Allah, maka kita punya berjuta harapan. Karena kita punya
Allah, maka musuh hanyalah kerikil yang akan kita tendang ketika
menghalangi jalan Kita. Karena kita punya Allah, maka tak ada alasan
untuk mundur dari peperangan ini. Karena Islam, akan tetap menang.
Dengan atau tanpa kita.
Tetaplah bertahan dan Bersiap-siagalah.[]

Penulis :
PirmanPenulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi
dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak