GuidePedia

1


Sumanto dan Tidur Sebagai Perlawanan

Saya kira, kita seharusnya mulai berhenti mencemooh Sumanto karena kelakuan ndeso-nya dan stop juga mengungkit-ngungkit kembali masa lalunya. Sudah 15 tahun berlalu, Sumanto membuktikan bahwa ia memang sudah sembuh. Menurut Supono selaku pengasuhnya selama ini, Sumanto telah mendekatkan diri ke agama dan bahkan sudah pernah diundang ceramah ke Hongkong.




Dengan mengutip salah seorang filsuf Yunani, Soe Hok Gie pernah bilang: nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Kedua, hidup tapi mati muda. Oke, lalu bagaimana dengan nasib tersial? Tentu ada banyak sekali contohnya. Tetapi, jika boleh menduga, saya kira salah satunya adalah berada satu ruangan dengan seorang mantan kanibal yang tertidur dalam sebuah acara siaran langsung di televisi.

Ya, kita sedang membicarakan Sumanto.

Kemarin, Senin (21/3/2016), dalam sebuah acara talk show di TV One yang bertajuk ‘Makna dan Peristiwa’, Sumanto hadir sebagai tamu bersama Supono Mustajab (pengasuh Sumanto) dan Erlinda dari KPAI. Acara yang dipandu Teuku Wisnu tersebut membahas topik ‘Bijak Memilih Mainan untuk Anak’ dan, ya, disiarkan secara langsung.

Perlu diketahui sebelumnya, Sumanto diundang terkait dirinya yang pernah dijadikan bonekaaction figure. Selain Sumanto, sebetulnya juga ada dua tokoh lain yang pernah dijadikan action figure yakni Robot Gedek dan Ryan Jombang. Tiga mainan action figure itupun sempat menjadi pro dan kontra di masyarakat. Ada yang menyambutnya, namun tak sedikit pula yang mencibirnya.

Pada mulanya Sumanto sempat aktif berbicara sesuai topik yang diangkat. Akan tetapi, karena keruwetannya dalam berbicara yang membuat sukar ditangkap maksudnya, Teuku Wisnu mengalihkan obrolan ke narasumber lain.

Hingga kemudian acara tersebut memulai sesi keduanya, scene maha dahsyat dalam sejarah acara talk show di Indonesia itu pun muncul: Seorang kanibal tertidur di acara live televisi.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Sumanto dan acara terkait, sangat sulit rasanya untuk tidak tertawa melihat adegan tersebut. Terlebih membayangkan bagaimana peliknya situasi dalam tim acara itu ketika berembuk menentukan siapa yang harus membangunkan Sumanto.

Serius, dengan nalar paling kokoh sekalipun, membangunkan tidur seseorang yang memiliki reputasi sebagai kanibal tentu butuh nyali super.

Salah membangunkan, jari bisa hilang. Mending kalau sekali gigit langsung raib. Lha kalau ternyata jarinya mesti dimasak dulu bagaimana? Masaknya harus pakai andaliman pula, buah yang cuma ada di pinggiran Danau Toba. Lalu setelah dimasak ternyata blio juga kepengen icip-icip bagian tubuh Anda yang lain, kan belangsak banget.

Hingga derajat tertentu, saya kira kesialan orang yang terpilih untuk membangunkan Sumanto sama levelnya dengan orang yang diminta mendengarkan album SBY. Jika ada pilihan untuk kabur ke hamparan Kutub Selatan atau bertarung dengan beruang seperti Leonardo diCaprio di The Revenant, saya kira mereka semua akan lebih memilih opsi tersebut.

“Mmm… Mmm… Mas Sum… Mas Sumanto… Bang… Bangu…”

“Haarrgghhh… Ada apa, sih?!”

“Ndak, Mas. Harga tiket pesawat ke Uganda berapa, ya?”

Terlepas dari kekonyolan tersebut, saya kok yakin bahwa sesungguhnya Sumanto memang sengaja tidur dan bukan ketiduran sebagaimana yang diberitakan. Dugaan saya, tidurnya Sumanto merupakan bentuk subversifisme diam-diam, atau semacam sarkasme terselubung, kepada para anggota DPR yang memang juga suka terlelap di saat rapat membahas nasib rakyat.

Sumanto seolah menyampaikan pesan kepada mereka: “Dalam tidur, saya mengawasi kalian.”

Lho, siapa yang tahu bahwa ternyata setelah sembuh Sumanto kini menjadi aktivis politik dan memimpin sejumlah pasukan klandestin yang fokus memantau isu-isu sosial? Jangan-janganaction figure dirinya itu juga merupakan simbol perlawanan ala Sumanto sebagaimana Guy Fawkes dengan topeng tertawanya?

Perlawanan simbolik terhadap kesewenang-wenangan toh bukan hal yang asing-asing amat di negeri ini.

Warkop DKI, misalnya, yang memiliki jargon “Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang”, mewartawakan sikap kritis melalui sederet humor yang mengocok perut. Bertahun sebelumnya, para seniman Lekra menginisiasi “seni sebagai kesadaran politik” lewat pendekatan realisme sosialis.

Wiji Thukul, yang belakangan kena fitnah oleh salah seorang jurnalis senior, lahir dari rahim “genre” seni tersebut dan menjadikannya sebagai alat perlawanan melalui berbagai gugatan di syair-syairnya.

Sementara Sumanto, jika benar ia memang menjadikan tidurnya sebagai aksi politik, saya kira telah melampaui sejarah para pembangkang tak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Lho iya, buat apa repot-repot menulis buku, membuat film, merilis lagu, merangkai syair, atau menggelar demonstrasi sebagai bentuk perlawanan, jika semua cukup dilakukan hanya dengan tidur?

Tidur adalah sebenar-benarnya resistensi paling menohok dari sekian aksi politik, sebab ia meniadakan segala bentuk kepedulian apapun. Tidur merupakan golput dari segala golput. Penolakan atas penolakan. Tidur sebagai aksi perlawanan adalah representasi paling tepat dari apa yang sempat dilantangkan Subcomandante Marcos: “I shit on all the revolutionary vanguards of this planet!”

Lagi pula, ketika semua elemen yang diharapkan dapat membuat negeri ini menjadi lebih baik ternyata sama busuknya, ketika perlawanan lebih sering muncul karena dorongan reaksioner buli membuli di linimasa, sepertinya aksi politik yang paling masuk akal saat ini hanyalah tidur.

Anda tak suka dengan dosen di kelas? Tidur saja.
Anda benci dengan khotbah motivator? Tidur saja.
Anda malas ke TPS saat masa pencoblosan? Tidur saja.
Anda tidak senang dengan bos di kantor? Tidur saja.
Anda malas bercinta dengan pasangan? Tidur saja.
Anda mengantuk saat berkendara? Jangan tidur, tapi coba lakukan aerobik saat kecepatan tinggi.

Gotthold Ephraim Lessing, salah satu penulis Jerman yang paling berpengaruh pada Abad Pencerahan, pernah berujar: “Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan.”

Sumanto, saya yakin–ya, ini memang bentuk arogansi khas intelektual menara gading seperti saya–tidak pernah membaca atau mendengar nama Lessing, bahkan untuk satu kali pun. Akan tetapi, justru ketidaktahuannya itulah yang membuat perlawanan Sumanto melalui tidurnya menjadi amat berkesan, naluriah, dan menggugah sekaligus.

Tak ada rumusuan Marxisma atau Anarkisma atau Ndasma di sana. Yang ada hanya tidur, sesederhana itu.

Saya kira, kita seharusnya mulai berhenti mencemooh Sumanto karena kelakuan ndeso-nya dan stop juga mengungkit-ngungkit kembali masa lalunya. Sudah 15 tahun berlalu, Sumanto membuktikan bahwa ia memang sudah sembuh. Menurut Supono selaku pengasuhnya selama ini, Sumanto telah mendekatkan diri ke agama dan bahkan sudah pernah diundang ceramah ke Hongkong.

Anda boleh cek seluruh buku tentang sejarah peradaban, tak ada satu pun mantan kanibal yang mampu melakukan hal seperti Sumanto. Tak akan pernah ada.

Untuk itu, demi menghormati Sumanto, saya kira hari di mana ia tidur di acara televisi tersebut mestinya dijadikan sebagai Hari Tidur Nasional atau bahkan Hari Tidur Sedunia. Ini warisan perlawanan yang harus dipelihara hingga akhir hayat.

Salam sayang selalu dari saya, Bapak Sumanto. Terima kasih telah menjadi inspirasi.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?