GuidePedia

1

Wisbenbae.blogspot.com - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar Tour De Java selama enam belas hari di empat provinsi. Gelaran ini dilakukan untuk menyerap aspirasi masyarakat daerah jelang Pilkada 2017.

Di tengah blusukan yang dilakukan, tiba-tiba muncul gambar istri SBY, Ani Yudhoyono dengan tulisan capres dari Partai Demokrat 2019. Gambar ini menuai pro dan kontra di publik. Apalagi, Ani juga terlihat mendampingi SBY menyapa masyarakat di Tour De Java.

Ada yang setuju karena pengalaman Ani mendampingi SBY selama 10 tahun di pemerintahan, ada pula yang mempertanyakan kemampuan ibu dari Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) itu.

Sejumlah kader Partai Demokrat pun menyatakan setuju dengan wacana Ani maju sebagai capres di 2019. Namun lawan politiknya juga banyak yang mencibir dengan isu tersebut.

Berikut komentar pro dan kontra Ani Yudhoyono jadi capres di 2019, dihimpun merdeka.com, Kamis (17/3):


1. Syahwat politik Ani Yudhoyono masih tinggi

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menanggapi sinis beredarnya foto Ani Yudhoyono sebagai capres di Pemilu 2019. Meskipun mengakui, jika setiap orang berhak mencalonkan diri sebagai capres setiap pagelaran Pemilu.

Ketua DPP PKS Aboe Bakar Al Habsy menilai, syahwat berkuasa Ani Yudhoyono yang sepuluh tahun mendampingi Presiden ke enam Susilo Bambang Yudhoyono masih tinggi. Karena itu, dia melihat setelah SBY lengser, Ani yang akan dimajukan jadi capres nantinya.

"Ada orang yang syahwatnya masih lama, ada yang baru. Syahwat kekuasaan itu ada di semua pihak. Syahwat tertinggi itu syahwat kekuasaan. Siapa yang ingin berkuasa berhak mengajukan," kata Aboe Bakar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/3).

Anggota komisi III DPR ini juga menyatakan, tak masalah partai membangun dinasti politik. Sebab menurutnya tidak melanggar peraturan.

"Wajar karena emang keluarga itu berkeinginan berkuasa. Wajar saja. It's OK, no problem, selama undang-undang tidak melarang dia. Kekuasaan itu ada di semua pihak kok," tuturnya.

Dia menganggap, Ani memiliki banyak pengalaman mendampingi SBY dalam memimpin pemerintahan. Menurutnya, tak terlalu dini jika Demokrat memunculkan bakal calon presiden.

"Nanti elektabilitas soal masyarakat, soal boleh kan boleh," pungkasnya.


2. Jualan ketika marketnya bagus

NasDem menilai positif wacana Ani Yudhoyono maju sebagai capres Partai Demokrat di Pemilu 2019. Bahkan, isu ini dinilai digulirkan saat momen yang tepat. Sebab, mempersiapkan capres dari jauh hari dianggap penting.

"Ini kan bisa saja, jualan ketika marketnya bagus," kata Sekretaris Fraksi NasDem DPR, Syarif Abdullah Alkadrie saat dihubungi, Rabu (13/3).

Jika memang hal tersebut menjadi keputusan Partai Demokrat, Syarif mengaku menghormatinya. Menurutnya, saat ini masyarakat butuh pemimpin yang bisa merespons keluhannya.

"Saya pikir enggak apa-apa, saya apresiasi. Itu kan dalam rangka mempersiapkan kader terbaik, bangsa ini perlu pemimpin tinggal masyarakat, responsif masyarakat," tuturnya.

Anggota Komisi V DPR ini menjelaskan, mengusung calon tersebut merupakan hak masing-masing partai. Dalam penentuan tersebut ada mekanisme yang berat harus dilalui sang calon.

"Saya enggak bisa menilai, semua bisa menjawab, saya pikir kalau dia bagus ya. Ini tren baru, kan ada di daerah biasanya, kan ini tidak haram, apakah dapat dukungan masyarakat, atau visioner membangun bangsa," pungkasnya.


3. Politik dinasti tak kuat di tingkat nasional
Wisbenbae.blogspot.com - Pengamat politik Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Edi Indrizal menilai langkah yang diambil Partai Demokrat untuk mempersiapkan Ani Yudhoyono sebagai calon presiden 2019 karena partai tersebut krisis figur.

"Berdasarkan sejumlah survei Demokrat kesulitan menampilkan figur yang kuat untuk menjadi calon presiden itulah sebabnya dimunculkan nama Ani Yudhoyono," kata dia di Padang, seperti dikutip dari Antara, kemarin.

Menurutnya tidak ada yang luar biasa dengan langkah yang diambil Partai Demokrat ini, belajar dari pengalaman sebelumnya politik di Tanah Air ditandai dengan adanya beberapa pihak yang mencoba membangun dinasti.

"Akan tetapi tidak semua politik dinasti tersebut dapat terwujud apalagi pada tingkat nasional," ujarnya.

Dia menilai faktor ketokohan seorang figur cukup penting dalam pemilu presiden, namun masih sulit bagi Ani untuk menyaingi tokoh yang pernah ikut pilpres lalu seperti Jokowi dan Prabowo Subianto.

"Apalagi jika hanya mengandalkan nama SBY jelas tidak memadai, pengalaman sebagai pejabat, politisi atau pimpinan pada organisasi sosial tergolong minim untuk jadi modal politik Ani Yudhoyono sebagai calon presiden," lanjut dia.


4. Tak cukup modal jadi istri eks presiden buat nyapres

Wisbenbae.blogspot.com - Ketua Fraksi PKB Ida Fauziah menyebut Ani memang memiliki pengalaman mendampingi SBY selama 10 tahun. Namun menurut dia pengalaman itu belum cukup menjadi calon presiden.

"Cuma pertanyaannya apakah cukup hanya mendampingi itu bisa menyelesaikan persoalan negara. Mungkin Demokrat yang bisa ngukur," kata Ida di Kompleks Parlemen, Senayan,Jakarta, Rabu (16/3).

Namun anggota komisi I DPR ini menilai untuk mengusung Ani merupakan hak sepenuhnya Partai Demokrat. Bahkan dia menghormati dan merasa terwakili.

"Apalagi saya perempuan menghormati ada representasi perempuan yang berani ambil bagian," tuturnya.

Meski diperkirakan Pilpres 2019 mendatang calon presiden harus bersaing dengan lawan yang berat yaitu petahana, PKB enggan terburu-buru mengusung calon. Sejauh ini PKB masih melakukan konsolidasi internal.

"Masing-masing partai punya gayanya sendiri. Kalau PKB yang penting konsolidasi dan penataan struktur. Itu kewajiban dari partai sekarang sudah dilakukan konsolidasi struktural, program, dan pelayanan masyarakat. Itu menurut kita penting. Kalau sudah solid mesinnya dinyalain dikit saja sudah menggelora," ujarnya.


5. Bisa jadi pesaing berat Jokowi
Mantan Politikus Partai Demokrat Gede Pasek Suardika menyambut positif wacana Ani maju di 2019. Menurut dia, pertarungan 2019 akan seru karena Jokowi sebagai petahana akan melawan Ani yang mantan petahana.

"Karena petahana lawan mantan petahana, kita akan disuguhi sebuah kompetisi yang seru," kata Pasek saat dihubungi merdeka.com, Selasa (15/3).

Pasek mengungkapkan, di era pemerintahan SBY, Bu Ani selalu mendampingi. Maka dari itu, ada beberapa keputusan pemerintahan yang bisa dipengaruhi Ani.

"Dulu kan boleh dikatakan secara politis Bu Ani is the real president. Nanti akan bisa jadi presiden real. Maknailah secara politik. Kalau dulu kan beda tipis sama ibu Tien," ujarnya.

Anggota DPD perwakilan Bali ini menganggap bahwa Demokrat harus jauh hari memunculkan calon karena akan melawan petahana. Menurutnya memang SBY sangat ahli dalam merumuskan strategi politik.

"Dengan sistem Pemilu yang akan datang kan memang calon presiden sudah harus jalan lebih dulu. Itu kan menjadi pesaing berat Pak Jokowi nanti, kalau Pak Jokowi tidak hati-hati. Karena Bu Ani kan berpengalaman mendampingi Pak SBY dua periode," ujarnya.

Mantan ketua komisi III DPR ini menjelaskan, jika Demokrat memakai strategi Hillary Clinton maka SBY akan mendukung istrinya untuk maju. Sedangkan strategi Josh Bush yaitu mengusung anaknya sendiri. Atau strategi John F Kennedy untuk mengusung salah satu keluarga juga bisa dipakai.

"Kritik muncul terus kan biar kelihatan kuat. Pak SBY sekarang kan rajin mengkritik pemerintah. Dari soal PSSI, kabinet yang gaduh, soal ekonomi, macem-macemlah. Sebenarnya itu sudah pelan-pelan Demokrat mengambil posisi oposisi tapi oposisi yang tersirat," ungkapnya.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?