GuidePedia

0

Budaya kopi adalah nadi kehidupan di dataran tinggi Gayo, Aceh. Kebun-kebun kopi mengelilingi lereng perbukitan. Penyajiannya berlapis dengan beragam metode.


Seorang pengunjung mencium aroma kopi (Syafrizaldi)


Bagi para penikmat kopi, tentunya sudah tak asing dengan cara penyajian kalista. Sebuah bejana kaca transparan, mirip dengan jam pasir. Di bibir atas bejana, terdapat lekukan tempat menuang air. Sementara bagian tengah bejana menyempit membentuk pinggang yang ramping. Bagian pinggang itu, dilapisi dengan pegangan dari bahan plastik.

Saya serasa berada dalam ruang laboratorium kimia ketika alat itu digunakan Erwin Prasetya, pemilik kedai kopi Asli Reje Bukit, ARB. Dia menempatkan wadah lain berbentuk kerucut terbalik dengan pinggiran yang diikat dengan kawat untuk pegangan. Di dalam kerucut itu, Erwin menempatkan kertas saring yang juga lancip dengan lekukan-lekukan yang rapi dibagian luarnya.

Erwin menyilakan saya memilih sendiri bubuk kopi mana yang akan diseduh. Dia menerangkan, ada dua jenis bubuk. Bubuk kopi, kata Erwin, dibedakan dari cara biji kopi itu diroasting. Proses roasting, merupakan proses sangrai biji kopi kering menjadi biji kopi yang siap ditumbuk halus.

Saya mencium aroma tajam di salah satu pilihan yang dia suguhkan. “Aroma harum kopi berasal dari proses roasting yang cukup lama. Bubuk ini diroasting hingga warna biji berubah dari cokelat menjadi agak kehitaman,” katanya.

Satu jenis lagi, Erwin menyodorkan bubuk berbeda. Berwarna cokelat lebih muda dari bubuk sebelumnya. Saya mencium bubuk itu agak dalam, tapi saya tidak menemukan aroma seperti aroma bubuk kopi sebelumnya. Pilihan saya jatuh pada bubuk ini.

Seorang pelanggan lain justru memilih bubuk kopi dengan aroma yang lebih tajam dan warna yang lebih gelap. Erwin tersenyum, dia mengatakan pilihan saya tepat.

Wadah berbentuk mug dengan bagian terpisah di dalamnya untuk menempatkan kopi di dasar mug dan air menekan bagian itu. Bagian bawah vietnam drip memiliki lubang-lubang kecil untuk melewatkan tetesan air.

Dia menempatkan wadah itu diatas sebuah cangkir. Saya meminum kopi langsung dari cangkir itu ketika malam sudah mulai mengendapkan embun.

Pencarian saya untuk secangkir kopi nikmat belum berakhir. Sebuah kedai kopi yang cukup ternama di Takengon memanggil-manggil. Kedai itu menyediakan kopi arabika dari kebun sendiri. Sebagian bahan baku kopi, disediakan oleh para petani yang sudah menjalin kerjasama dengan kedai kopi yang mereka beri nama Bergendaal. “Itu nama belanda,” kata Fitra, barista di warung kopi itu.


Cara penyajian kopi dengan metode Kalista. (Syafrizaldi)

Fitra menyuguhkan secangkir kopi hitam arabika menggunakan mesin pembuat kopi. Aromanya menyengat saat asap mengepul dari cangkir. Saya menyeruput lewat pinggiran cangkir yang dipenuhi krema.

“Kalu pakai mesin, kremanya bisa keluar. Kalau tidak, sulit mengeluarkan krema kecuali memakai alat penekan yang bagus,” kata Fitra.

Krema adalah buih halus yang dikeluarkan kopi ketika mengalami tekanan dan suhu panas dari air. Banyak barista memanfaatkan ini untuk dijadikan penghias. Biasanya, krema dicampur dengan susu murni yang hangat guna menghasilkan hiasan pada bagian atas minuman.

Dibanyak tempat, kata Fitra, banyak barista yang mengkhususkan dirinya belajar membuat hiasan. Saya terbayang sebuah tayangan televisi yang menampilkan hiasan wajah Obama, Presiden Amerika Serikat. Mungkin suatu saat, saya akan meminta barista untuk membuat hiasan berlogo National Geographics.

(Syafrizaldi)




Post a Comment Blogger

Beli yuk ?