GuidePedia

Stasiun Walantaka
Setelah lama tidak gowes di sekitaran Serang bagian timur, akhirnya hari Sabtu tanggal 16 Juni 2012 kemarin, kami sempatkan untuk gowes ke sana. Tidak terlalu jauh, tujuan kami hanya ke Stasiun Walantaka, sebuah stasiun yang sudah berumur, tidak terlalu luas, bersih, dan asri. Dulu, ketika masih ada Kereta Api Merak Jaya, dari Rangkasbitung ke Serang atau sebaliknya, saya sering melewati stasiun ini. Tentu saja hanya bisa memandang ke luar dari kereta tanpa bisa menyelami geliat kehidupan di sekitar stasiun.



Seperti biasa, goweser tidak terlalu banyak di tikum pagi itu. Hanya ada saya, Omars, Om Yopie, ditambah tiga “bintang tamu” yaitu Om Imam dan Tante Rina. Om Andri, “bintang tamu” lainnya bergabung kemudian di Jalan Bhayangkara. Om Imam sendiri terpaksa harus putar balik karena ada keperluan mendadak. 
The New Avengers + satu figuran
Marshall kali ini adalah Om Yopie yang kian piawai menemukan jalan-jalan tembus keluar-masuk komplek perumahan, perkampungan, dan pesawahan! Ternyata, masih banyak sawah yang kami lewati padahal masih di dalam kota. Tak heran kota ini dinamakan SERANG, yang artinya sawah. Gowes ke arah sini, dijamin tidak ada tanjakan-tanjakan curam seperti di Serang bagian barat seperti Cilowong atau Cibangkong atau ke selatan seperti Baros dan Ciomas.
Setelah memasuki jalanan makadam selepas Jalan Bhayangkara, kemunculan pertama di jalan raya selanjutnya adalah di Jalan Raya Syeikh Nawawi Al Bantany. Hanya memotong jalan sebentar, kemudian kami memasuki jalanan makadam kembali sampai ke Stasiun Walantaka.
Stasiun Walantaka! Sebuah stasiun kecil yang bersih dan asri. Boleh dibilang tidak ada calon penumpang kereta ketika kami sampai di sana karena jadwal perjalanan kereta api yang sangat jarang. Ya, jalur rel di sini memang bagian dari jalur Merak s.d. Jakarta Kota yang sangat panjang. Orang-orang di sini yang akan ke Jakarta lebih memilih menggunakan bus karena lebih cepat. Sementara jalur kereta harus memutar terlebih dahulu ke Rangkasbitung. Apalagi kalau bus kan, bisa naik seenaknya dimana pun di tengah-tengah jalan tol, hehehe.....
Stasiun Walantaka
Di stasiun, kami sempatkan sejenak mengabadikan suasana. Sementara, penduduk sekitar mungkin memandang aneh pada kami yang datang ke stasiun dengan menggunakan sepeda dan hanya untuk foto-foto, hehehe......

Setelah beres, karena diniatkan untuk gowes luhlang, kami segera lanjutkan perjalanan kembali ke Serang melewati Jalan Raya Ciruas-Petir sebentar kemudian putar balik melalui Kp. Tegalsari. Tiba di Jalan Raya Syeikh Nawawi Al Bantany, kami ikuti jalanan aspal ini sedikit sampai ke Kota Serang Baru (KSB). Lewat Mapolda Banten, banyak motor gede yang parkir dan siap beraktifitas. Pengen juga punya motor seperti ini tapi belum terbayang. Selainnya badan motornya yang gede sehingga membutuhkan keahlian khusus, juga harus jadi orang “gede” dulu untuk memilikinya.
Menunggu kereta lewat
Tiba di KSB, kami menikmati segarnya es cendol-cingcau di tepi jalan. Nikmat terasa walau murah meriah. Kenikmatan memang tidak selalu identik dengan harga yang mahal.

Akhirnya, sekitar pukul 10, sesuai jadwal, kami tiba di rumah masing-masing dengan selamat. 

Peta perjalanan Google Earth
Peta Perjalalan Gmaps
Data statistik GPS sebagai berikut: 
TRIP ODOM 27,5 KM 
MAX SPEED 29,6 KM/J 
MOVING TIME 2JAM:13MENIT 
TOTAL TIME 3JAM:11MENIT (Kebanyakan foto-foto sih......) 
MOVING AVERAGE 12,4KM/J 
TOTAL ASCEND 105M 
MAX ELEV 73M


SXC2
Serang XC Community
www.sepedaan.com


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?