GuidePedia

0
pangururan

Saya sampai di Pangururan saat waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Ini berarti kurang lebih satu jam lagi matahari akan tenggelam. Sementara itu saat saya browsing-browsing sebelum berangkat ke Sumatera Utara, di Pangururan ini nggak ada objek yang cukup menarik, penginapan juga jarang. Saat browsing penginapan di Pangururan hanya ada kurang lebih tiga penginapan saja yang muncul. Saya tidak tahu persis apakah memang adanya tiga penginapan tersebut atau ada yang lain namun tidak masuk ke mesin pencari.

Jarangnya penginapan di Pangururan menjadikannya agak tricky saat mencari penginapan disana. Ya memang Pangururan bukanlah kota besar, juga bukan sebagai tempat wisata utama di Pulau Samosir. Pangururan hanyalah sebuah kecamatan yang terletak di Pulau Samosir sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Samosir. Objek wisata? Sepertinya juga nggak ada yang cukup menarik disini. Hanya ada beberapa objek saja yaitu Terusan Tano Panggol yang menghubungkan antara daratan Sumatera dengan Pulau Samosir yang tadi sudah saya lewati, pemandian air panas, persangrahan, dan Patung Liberty Malau. Sisanya paling ya melihat keindahan Danau Toba dari sisi Pangururan ini.

Mempertimbangkan sulitnya mencari penginapan di Pangururan, saya mending cari aman saja. Saya lebih baik lanjut ke Tomok mumpung matahari masih bersinar cerah meskipun sudah jam setengah enam sore. Lagipula angkutan ke Tomok juga masih ada. Paling tidak saya nanti sudah bisa berada di Tomok sekitar pukul 19.00. Asumsi saya paling tidak penginapan di Tomok lebih banyak pilihannya dibanding di Pangururan. Kalaupun saya tidak mendapatkan penginapan di Tomok saya bisa bergeser ke Tuk Tuk Siadong yang menjadi pusat turis di Pulau Samosir dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Tomok. Ya beginilah.. Saat traveling saya memang jarang survey penginapan terlebih dahulu apalagi melakukan booking. Yang sering saya lakukan adalah go show. Kalau dapat penginapan ya syukur, nggak dapet ya tidur ngemper dimana gitu. Bisa di masjid atau SPBU. Tapi ya mana ada masjid di Pangururan yang mayoritas memeluk agama nasrani. Kalaupun ada nggak tahu letaknya dimana. Jadi sore itu saya putuskan untuk naik angkutan ke Tomok saja.

Tidak perlu menunggu lama, saya memberhentikan angkutan Sumber Sari tujuan Tomok. Kebetulan angkutan masih kosong. Saya diajak berkeliling Pangururan terlebih dahulu untuk menjemput beberapa penumpang yang sudah janjian dengan si sopir melewati gang-gang sempit. Jalan-jalan di Pangururan ini sungguh sempit didominasi oleh rumah-rumah warga dan beberapa toko yang berjejer di sepanjang jalan. Kebanyakan penduduk Pangururan bekerja dalam bidang petanian dan perikanan. Pertanian yang berkembang disini adalah bertani padi. Sementara untuk perikanan sudah jelas, adanya Danau Toba menjadikan para warga membuat keramba jaring apung untuk budidaya ikan.

Setelah menjemput beberapa penumpang, angkutan Sumber Sari langsung membawa saya ke arah Tomok dengan diiringi hujan yang cukup deras. Air hujan tak tebendung lagi masuk ke dalam mobil karena mobil L300 yang sudah cukup reot, kacanya juga banyak yang bocor. Hasilnya kalau deket-deket jendela bisa basah kuyup. Jalan dari Pengururan ke Tomok ini cukup bagus dan sepi. Mobil terus berjalan melewati tepi Danau Toba yang cukup indah. Kadang-kadang terlihat indahnya Rumah Bolon diselingi dengan makam-makam yang cukup jamak ditemukan di tengah area ladang yang kosong. Sampai detik ini saya sudah mulai lelah dan mengantuk. Saya mencoba memejamkan mata untuk tidur. Tidak lama kemudian beberapa penumpang sudah turun. Sudah sampai daerah Simanindo rupanya. Matahari juga sudah tenggelam, jalanan menjadi gelap tanpa ada penerangan sama sekali kecuali lampu dari mobil. Saya membatalkan puasa dengan air mineral dan roti yang saya beli di Tele tadi. Setelah itu saya kembali tidur karena mata masih saja mengantuk. Beberapa penumpang yang lainnya juga sama saja.

Sepertinya saya belum lama tertidur. Mobil berhenti kemudian sopir membangunkan kami kalau sudah sampai di Pelabuhan Tomok. Wihh.. Pada nyenyak ternyata tidurnya sampe nggak sadar kalau udah di Tomok. Ahahaha.. Kebanyakan para penumpang ini akan lanjut menyeberang ke Parapat. Setelah membayar ongkos sebesar 12.000 saya kemudian berjalan sendirian di Tomok yang masih cukup ramai. Kanan-kiri jalan penuh dengan warung-warung dan toko souvenir. Tidak seperti cerita teman-teman yang baru tiba di Tomok yang langsung diserbu tukang ojek dan lain-lain, rata-rata mereka cuek sama saya. Mungkin mereka tahu kalau saya turun dari angkutan, bukan dari kapal jadi dikiranya bukan turis. Hanya satu sampai dua orang saja yang menawarkan jasa ojeg dengan mengatakan, “Ojek ke Tuk Tuk lae?”. Saya hanya mengelengkan kepala saja dan terus berjalan sampai menemukan warung makan bertuliskan “Warung Islam”. Yah mengisi perut dulu memang suatu hal yang sangat tepat karena sudah seharian puasa. Tidak usah bingung mencari makanan halal di Tomok, cari saja yang bertuliskan Islam, muslim, atau sejenisnya. Alternatif lain bisa makan di warung Padang. Biasanya warung Padang terbebas dari B1 maupun B2 yang banyak dikonsumsi masyarakat Batak. Akhirnya.. Selamat datang di Tomok!!


http://www.wijanarko.net/2011/10/cuma-transit-di-pangururan-lanjut-ke.html
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top