GuidePedia

0
Senja di Raja Ampat

Berawal dari iseng-iseng meramaikan kuis dadakan berhadiah tiket Jakarta —Sorong pulang pergi yang diadakan seorang teman, keberuntungan membawa saya pada kesempatan untuk mengunjungi satu tempat istimewa di Indonesia bagian timur. Adit, si pembuat kuis sekaligus mitra liburan saya kali ini, pada awalnya membuat saya sedikit was-was karena Indonesia bagian timur adalah sesuatu yang asing bagi saya. Saya akan mengunjungi Raja Ampat, surga dunia bagi para penyelam di seluruh dunia, bermodalkan mental petualang dengan sebuah kalimat yang terus terekam dalam otak: the plan is no plan. Tanpa paket, tanpa pemesanan di awal. Tak ada rencana. Hanya sebuah tiket pesawat!


Bandara Domine Eduard Osok, Sorong


Dimulai dari keberangkatan ke Sorong, Papua dari Jakarta, kami tiba di bandara Domine Eduard Osok setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama enam jam. Dari semua bandar udara yang pernah saya singgahi, inilah yang paling sederhana. Kami pun segera mencari informasi tentang bagaimana menuju Raja Ampat. Dari informasi yang didapat, kami diharuskan untuk pergi ke pelabuhan. Dengan menghabiskan Rp175.000 per orang, kami menaiki kapal feri Getsemani dengan biaya tiket Rp100.000. Karena feri ini baru berangkat tiga jam kemudian, kami beristirahat di kamar anak buah kapal (Rp150.000 dengan fasilitas pendingin ruangan dan tempat tidur bertingkat).


Jadwal Kapal


Kapal ke Waigeo
Kapal ini membawa kami ke Pulau Waigeo, tepatnya ke ibukota Waisai.

Perjalanan ke Waisai ini kami habiskan dengan berbincang-bincang bersama Elon, pemuda asli Biak, Papua yang memberikan informasi seputar pulau-pulau yang kami lewati, sambil kami sempatkan untuk beristirahat. Tidak lupa tentunya kami nikmati keindahan matahari terbenam yang larut dalam hamparan laut. Kemunculan segerombol lumba-lumba mengejutkan kami. Ada yang meloncat, ada yang hanya menyembulkan siripnya saja. Sebuah awal yang indah dari perjalanan menuju Raja Ampat.


Sesampainya di pelabuhan Waisai kami bertanya ke sana-sini untuk mencari penginapan karena hari sudah senja. Kami akhirnya naik truk untuk diantarkan ke sebuah penginapan. Keramahan orang Papua membuat kami serasa di rumah sendiri. Penginapan yang kami singgahi tidak punya nama. Tarifnya? Rp170.000 per kamar per malam. Luasnya 4m x 4m, dengan fasilitas kasur dan kipas angin. Sederhana memang, tapi untuk malam itu, kami dapat cukup beristirahat.


Waisai


Pembangunan kota Waisai sendiri baru berkembang empat tahun belakangan ini, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Untuk bisa berwisata menyelam ternyata kami harus pergi ke RajaAmpat Dive Resort di Pantai Waiwo yang membutuhkan 20 menit menumpang sepeda motor dari Waisai. Kami memutuskan untuk pergi menggunakan ojek ke Pantai Waiwo. Rupanya, untuk ke pantai ini, kami harus membelah hutan, dan melewati jalan yang cukup besar, namun (tentu saja) belum beraspal dan masih berupa tanah, jadi cukup menyulitkan kalau hujan turun. Di sepanjang jalan saya melihat rimbunnya hutan tropis, terkadang di sela-sela hijaunya daun, ada sedikit pemandangan lautan yang bersembunyi.


Dermaga di Raja Ampat


Rasa heran muncul ketika bapak tukang ojek bilang, “Sudah sampai, dik”. Sepeda motor pun berhenti di tengah hutan!


Ternyata, ada jalan setapak yang rimbun dengan tanaman rambat, dan Pantai Waiwo yang indah menunggu di ujung jalan. Pantai dengan lautnya yang terhampar luas dan pasirnya yang putih, menyambut saya yang langsung tersenyum puas melihatnya. RajaAmpat Dive Resort adalah satu-satunya resor yang diurus oleh orang Indonesia, dimana resor lainnya milik warga Swedia, Hongaria, Belanda, dan warga-warga Eropa lainnya. Konon, ini juga yang termurah (walaupun harga “termurah” untuk warga negara Indonesia ini masih di luar anggaran kami). Untungnya, walaupun tidak menginap di sana, kami masih bisa ikut menyelam, dengan catatan kami harus mengikuti jadwal yang mereka tetapkan. Setelah mendapatkan makan siang gratis, akhirnya kami dijadwalkan untuk menyelam sore itu. Tidak sabar rasanya!


Pulau Saurek Monde adalah tempat pertama kami “mengasinkan” badan di Raja Ampat. Pengalaman pertama yang luar biasa pada wisata menyelam ini adalah penampakan berbagai macam anemon, karang lunak atau karang keras dengan berbagai jenis dan bentuk, ikan gerot-gerot, ikan buntal, serta jenis-jenis ikan lain yang baru saya lihat pertama kali. Benar-benar luar biasa keindahannya! Wisata menyelam pertama hari itu diakhiri dengan menyempatkan diri untuk menikmati matahari tenggelam di Raja Ampat, sebelum kembali ke Waisai.


Malam kedua kami pindah ke penginapan yang lebih mahal, dengan pertimbangan kebersihannya yang memang lebih terjamin, serta fasilitasnya yang lebih memadai (air panas, TV, pendingin udara, handuk bersih). Ternyata, di hotel ini ada sekelompok anak muda Sorong yang juga sedang berlibur. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang, kami berhasil membujuk mereka untuk tinggal sehari lagi dan melakukan tur keliling Pulau Waigeo dengan menyewa perahu mesin bersama-sama untuk menekan harga per orang.


Rombongan di Perahu Mesin


Pagi keesokan harinya, pukul 10 pagi di Pantai Waiwo, berangkatlah kami sepuluh orang menjelajahi Pulau Waigeo dengan perahu yang sudah dijanjikan. Tempat yang kami tuju adalah Selat Kabui karena dengar kata perjalanan tersebut punya pemandangan istimewa. Benar, sepanjang perjalanan, pulau-pulau karang tidak ada habisnya, kadang ikan-ikan melompat dari air, seakan hanya ingin menyapa sinar matahari. Kami juga kadang berhenti di jalan untuk memancing. Tinggal berhenti di mana saja, lemparkan nilon, pasti dapat ikan. Ya, semudah itu! Banyaknya pulau-pulau juga membuat kami penasaran sehingga kami meminta Pak Ones untuk membawa kami melewati sela-sela pulau tersebut. Airnya jernih luar biasa, kita bisa melihat kehidupan bawah lautnya dengan mata telanjang. Godaan ini tak tertahankan ketika kami menemukan lautan yang amat sangat tenang, sehingga permukaannya seperti cermin. Ini pertama kalinya saya liat permukaan laut setenang ini, dan kami meminta Pak Ones untuk menghentikan perahunya dan kami pun langsung terjun ke bawah air.


Setelah bermain sejenak, menikmati pemandangan bawah laut yang indah dengan snorkeling, berfoto-foto, akhirnya kami naik kembali ke dalam perahu dan melanjutkan perjalanan. Kami juga melewati perkampungan nelayan Buton. Tadinya ingin berhenti, tapi niat itu diurungkan setelah mereka dari jauh menyoraki kami, atau lebih tepatnya kepada wanita-wanita di perahu kami!


Biota Laut Raja Ampat


Sampai tengah perjalanan, kami berhenti karena Pak Ones harus mengisi bahan bakar. Tepat di tempat kami berhenti, ada pulau yang menurut Pak Ones keramat. Menurut legenda, Raja Ampat berasal dari tujuh telur. Empat telur menetas menjadi pangeran yang menguasai empat pulau (Waigeo, Salawati, Misool Barat, Misool Timur), sementara satu telur menjadi wanita, satu lagi menjadi hantu, dan yang terakhir menjadi batu. Katanya, yang batu ini ada di pulau sebelahnya. Kami ditawari untuk melihat, tapi mengingat harus dengan ritual dan ijin terlebih dahulu, akhirnya niat kami urungkan. Setelah satu jam lebih akhirnya kami tiba di Selat Kabui, atau yang sering dikenal dengan nama “The Passage” oleh para penyelam. Selatnya sempit. Setelah menembus selat, kami pun kembali lagi, tapi sebelum itu Pak Ones berhenti dan mengajak kami kembali snorkeling.


Dalam perjalanan pulang kami sempatkan ke sebuah “air terjun”, maksudnya adalah air tawar yang terjun langsung ke laut. Kami sempat bertemu dengan dua orang nelayan Buton yang sedang mengambil air kurang lebih 500 liter, sebagai persediaan air bersih satu minggu ke depan. Walau lokasinya yang terpencil, air terjun ini adalah satu-satunya sumber mata air untuk penduduk di pulau sekitarnya. Berbekal sedikit rasa penasaran untuk melihat gua yang ada di atas air terjun, saya bersama beberapa teman lainnya akhirnya memanjat ke atas untuk melihat apa isinya. Tidak perlu masuk lebih jauh untuk menyimpulkan bahwa gua itu merupakan sumber air terjun, yang dipenuhi stalaktit yang beberapa diantaranya masih meneteskan air.


Setelah puas kami pun kembali ke perahu yang ternyata sudah menunggu. Hujan sedikit mewarnai perjalanan pulang, tapi tidak menghentikan Pak Ones untuk (lagi-lagi) berhenti. Pemberhentian kali ini Ruambobere untuk sekedar memancing dasar (sebuah teknik memancing dimana nilon ditenggelamkan menggunakan pemberat hingga dasar). Setelah kurang lebih enam sampai delapan ikan kami dapatkan, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Saurek Monde untuk membakar hasil pancingan sebagai penutup hari. Total biaya per orang yang harus kami keluarkan untuk ekskursi ini? Rp150.000 per orang!


Berhubung malam itu adalah pertandingan final Piala Asian Football Federation (AFF) Leg ke-2, kami segera bersiap menyaksikan pertandingan. Malam itu menjadi malam yang menyenangkan, dengan keriuhan warga Waisai yang berkumpul, berbincang dan menonton bersama di ruang TV hotel, diakhiri dengan perpisahan dengan rombongan pemuda Sorong.


Menyelam di Raja Ampat


Hari-hari berikutnya kami lewati dengan menyelam (lagi!) di perairan Raja Ampat. Kami mendatangi setidaknya 12 titik selam yang masing-masing memiliki keistimewaannya tersendiri. Sebutlah Mios Kon, Five Rocks, Saurek Monde, Friwen Bonda, Manta’s Point Sandy, Mike’s Point, Sardine Reef, Chicken Reef, Blue Magic, Koh Island, Kiss Miss, Cape Kri. Tidak salah memang jika Raja Ampat dijuluki ekosistem karang dengan keragaman hayati yang paling tinggi di dunia. Kekayaannya berupa 540 spesies karang keras (75% dari spesies karang di dunia ada di Raja Ampat) dan 1.320 spesies ikan (masih terus bertambah). Kekayaan itu bisa dibuktikan dari 13 penyelaman yang saya lakukan. Setiap titik penyelaman menawarkan keindahan yang berbeda-beda. Ada yang berarus kencang, lembut, atau bahkan tidak berarus. Begitu pula dengan gerombolan ikan yang sangat beragam, seperti cakalang, gerot-gerot, barakuda dan masih banyak lagi yang saya sendiri sampai tidak tahu namanya. Selain itu, adapula berbagai hewan tak bertulang-belakang seperti siput air, cacing pipih dan cacing pohon natal yang bertebaran. Belum lagi ditambah dengan gurita, kuda laut pygmy, ikan kakatua, ikan belut Moray, dan tentunya ikan hiu Wobegong. Saya belum pernah melihat ikan laut sebanyak ini dalam hidup saya sebelumnya.


Satu lagi pengalaman yang paling berkesan adalah melihat ikan pari besar Manta Ray untuk pertama kalinya di Manta’s Point Sandy. Walaupun pada penyelaman ini saya hanya diam untuk melihat Manta selama hampir satu jam, rasa bosan tak pernah mampir. Melihat Manta berenang seperti melihat burung besar yang mengepakkan sayapnya, memperhatikan keunikan tanda yang ada di perut Manta merupakan tontonan tersendiri (setiap Manta memiliki tanda unik yang berbeda-beda di perutnya).


Dua Anak Papua Berpose


Akhirnya, tidak terasa tanggal 4 Januari tiba, dan saatnya saya dan Adit meninggalkan Raja Ampat. Kami tahu baru melihat sedikit dari banyak keindahan kepulauan Raja Ampat namun banyak pengalaman dan keindahan alam yang kami nikmati selama delapan hari kami di Raja Ampat. Yang pasti, kami akan selalu rindu semua keindahannya, di samping keramahan masyarakat Papua itu sendiri. Perjalanan Raja Ampat adalah salah satu perjalanan terbaik saya sejauh ini!

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top