GuidePedia

0

Saat dibuang ke Ende tahun 1934, Bung Karno membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi), dan Ibu Amsi (mertua). Omi adalah keponakan Ibu Inggit. Karena itu, dalam banyak lembar sejarah banyak yang melupakan nama Sukarti atau Kartika, sebagai anak angkat Bung Karno (juga).

Bisa dimaklumi. Sebab, tidak seperti anggota rombongan buangan pemerintah Kolonial Belanda lainnya, Sukarti atau Kartika memang “diangkat” di Ende. Benar. Dia adalah putri sulung keluarga Atmo Sudirdjo, seorang juru ukur yang bekerja pada dinas pekerjaan umum pemerintahan Kolonial Belanda. Atmo sendiri asli Purwokerto.

Pertemuan pertama kali Sukarti atau Kartika itu sendiri terjadi tahun 1934, saat usianya baru menginjak enam tahun. Ia diajak serta oleh kedua orangtuanya, menuju pelabuhan untuk menjemput “tokoh besar” yang namanya sudah begitu semerbak di seantero Hindia Belanda sebagai “pejuang kemerdekaan”. Ya, Sukarti atau Kartika ikut ke pelabuhan bersama para pribumi lain dalam rangka menjemput Bung Karno dan rombongannya.

Ia tidak memiliki kesan mendalam, kecuali sebuah tanda tanya di benak otak seorang anak usia enam tahun. Mengapa begitu banyak orang Ende menjemput tokoh ini? Siapa gerangan dia? Lebih penasaran manakala ia melihat bahwa tokoh yang disambut itu berkulit sawo matang, bukan lelaki bule berambut jagung.

Sekanjutnya, Sukarti atau Kartika sering diajak ibudanya, Chotimah yang kelahiran Purworejo, mengikuti pengajian yang diadakan di kediaman Bung Karno. Dari sekali ke dua kali… dari dua kali ke tiga kali… lama kelamaan Sukarti atau Kartika semakin akrab dengan keluarga Bung Karno, khususnya dengan Ratna Djuami alias Omi.

Omi sangat merindukan adik. Sementara, sebagai putri sulung, Sukarti juga merindukan sosok kakak. Klop-lah mereka. Demi melihat keakraban di antara keduanya, Bung Karno berinisiatif mengangkat Sukarti atau Kartika sebagai anak angkatnya. Bung Karno pun memintanya kepada keuarga Atmo Sudirdjo.

Keluarga Atmo Sudirdjo sangat ikhlas… bahkan sangat senang dan bangga demi melihat tokoh perjuangan kemerdekaan itu sudi dan berkena mengangkat anaknya menjadi putrinya. Alhasil, lengkaplan anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami dan Sukarti. Oleh Bung Karno, nama itu kemudian diubah menjadi Kartika.

Hingga kini, Sukarti pun dikenal sebagai Kartika. Nyonya Kartika. Dia masih tampak segar saat dijumpai di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Terakhir saya tinggal di Cibinong. Tetapi sejak suami saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya. Kadang di Jagakarsa, kadang di tempat anak saya yang lainnya,” tutur Kartika.

Untuk perempuan usia 82 tahun, Kartika masih tampak bugar. Daya ingatnya masih sangat tajam. Bicaranya jelas dan lugas. Ini berbeda dengan “kakak angkat”-nya, Ratna Djuami yang juga masih hidup dan tinggal di Bandung. Omi sepuh kini sudah mulai pikun. Hanya kepada orang-orang tertentu dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Syahdan, Kartika adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Bung Karno yang masih hidup. Ia pun memiliki begitu banyak kenangan menjadi “anak angkat” Bung Karno. (roso daras)

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top