GuidePedia

0


Wisbenbae.blogspot.com - Jaya di masa muda, sejahtera di hari tua. Ungkapan itu cocok ditujukan kepada pasangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma.

Pada masa jayanya di era 1990‑an, prestasi kedua mantan atlet bulutangkis tersebut tersohor di tingkat nasional hingga internasional.

Puncaknya, keduanya menyabet medali emas pada Olimpiade Barcelona 1992. Kini, pasangan tersebut telah dikaruniai tiga anak, yakni Laurencia Averina (20), Albertus Edward (19) dan Sebastianus Frederick (13).

Susi dan Alan mempunyai bisnis peralatan olahraga dengan brand Alan Susi Technology atau Astech serta membuka usaha pusat refleksi dan pijat khusus olahraga bernama Fontana (bersama Elizabeth Latief).

"Omzet dari Astec lumayan. Tapi, dengan situasi ekonomi seperti sekarang ini, terkadang justru kami nombok. Untung ada tambahan dari pemasukan usaha reflexology and sport massage, ada tujuh gerai di Jabodetabek," ujarnya.

Pemilik nama Lucia Francisca Susi Susanti kelahiran Tasikmalaya yang menginjak usia 45 tahun pada 11 Februari lalu itu mengaku kesibukannya saat ini terus bertambah.

Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berbagi waktu untuk bisnis, tugas sebagai staf ahli bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI (Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia), coaching clinic hingga menjadi komentator pertandingan bulutangkis. Pun demikian dengan kesibukan suaminya.

Ia bersyukur atas semua yang telah diperolehnya bersama Alan pada saat ini. "Kesibukan kami sekarang ini lebih kurang sama. Cuma kadang‑kadang Alan jadi motivator," ujarnya.

Menurut Susi, kesuksesan dirinya dan Alan dalam bisnis pasca‑menggantung raket tidak diperoleh dengan mudah.

Apalagi, jika ada penilaian kesuksesan tersebut karena asal‑usul orangtuanya yang kaya.

Menurutnya, semua kesuksesan itu diperoleh dirintis dari nol dan dari hasil kerja keras hingga keringat.

"Orangtua saya bukan orang kaya. Semua yang kami dapat dari kerja keras dan dimulai benar‑benar dari nol," ungkapnya.

Ia menceritakan, orangtuanya memang memotivasi agar dirinya sejak kecil untuk menjadi atlet bulutangkis berprestasi.

Bahkan, orangtuanya rela mengeluarkan dana hingga ratusan juta rupiah selama beberapa tahun agar dirinya bisa berlatih dan menimba ilmu di tempat pelatihan bulutangkis.

Prestasi sebagai juara di beberapa kejuaraan saat masih usia muda membuatnya memperoleh beasiswa pendidikan dan latihan secara gratis.

Hingga akhirnya Susi terpilih menjadi atlet bulutangkis nasional yang mewakili Indonesia di beberapa event internasional.

Sanjungan hingga pujian didapat kala masa jayanya itu. Guyuran dana segar atau fresh money sebagai juara dalam beberapa kejuaraan pun dikantonginya.

"Waktu zaman saya, kalau juara dapat dana segar, uangnya suka dipotong 25 persen sampai 50 persen. Kalau sekarang enak, dananya tidak dipotong. Kalau uang bonus juga biasa suka nggak sampai ke atlet karena bentuknya kolektif sehingga pengurus yang menentukan," kenang Susi.

Susi mengaku mulai berpikir tentang masa depan keluarganya setelah menikah dengan Allan Budikusuma pada 1997 dan pensiun dari bulutangkis pada 1998.

Saat itu, ia pun teringat pada nasihat orangtuanya agar mengandalkan diri sendiri atau berdikari dalam menjalani hidup.

"Saya selalu ingat nasihat orangtua saya. Bahwa, kita hidup harus mengandalkan diri sendiri, jangan mengandalkan orang lain," kata Susi.

Setelah pensiun sebagai atlet bulutangkis, mulanya Susi belum mempunyai ide usaha apa yang akan dilakoninya.

Ada beberapa usaha dijajakinya bersama Alan sebelum terjun ke bisnis peralatan olahraga bulutangkis.

Alan pernah mencoba berbisnis jual beli mobil. Namun, bisnis itu tidak bertahan lama. Mereka juga pernah mencoba menjadi agen raket asal Jepang.

Namun, usaha itu juga tidak bertahan lama mengingat minat pasar serta adanya keluhan dari konsumen.

Susi dan Alan melihat kondisi seperti itu sebagai peluang bisnis. Pada 2002, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat peralatan bulu tangkis dengan label sendiri, Astec.

Sumberlanjutin di sini !



Mau KAOS di bawah ? Klik ajah !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?