GuidePedia

0


Inilah Si Gale-gale 

Samosir - Salah satu atraksi wisata di Pulau Samosir, Sumatera Utara adalah tarian patung Si Gale-gale. Konon ceritanya, di zaman dulu patung ini menari karena dimasuki roh.

Begitu kaki menginjak Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba ini pekan lalu, saya sudah tidak sabar untuk menonton pertunjukan Si Gale-gale. Sudah banyak teman-teman dari tanah Batak yang bilang, wajib nonton Si Gale-gale kalau ke Pulau Samosir.

Tak jauh dari Pelabuhan Wisata Tomok, pintu masuk Pulau Samosir, saya bersama rombongan wartawan dalam sela-sela 'Rakor Tindak Lanjut Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba' diarahkan belok ke kanan. Sudah ada satu patung Si Gale-gale berwarna hitam.


Patung Si Gale-gale 

Kami semua disuruh duduk, yang tak lama pertunjukannya dimulai. Dengan memakai bahasa Batak, patung tersebut menggerakan tangannya seperti orang yang sedang menari!

Tapi tunggu, ternyata ada satu orang di belakang patung Si Gale-gale ini. Dialah yang menggerakan tangan, bahu dan badan dari si patungnya dengan menggunakan tali. Surung Sidabutar namanya.

"Gale-gale itu artinya lemah gemulai. Pertunjukan ini hanya ada di Samosir," katanya.

Surung pun bercerita soal sejarah dan segala hal mengenai Si Gale-gale. Di zaman dulu di Samosir, ketika ada orang yang meninggal, maka sang keluarga akan memanggil pemahat patung. Mereka menyuruh membuat patung yang rupa dan fisiknya mirip anggota keluarganya yang meninggal tersebut.

"Si roh orang yang meninggal itu akan dipanggil dengan mantera. Kemudian, masuklah roh ke dalamnya dan mulai manortor (menari tor-tor yang disajikan dengan musik Gondang-red). Nanti, semua anggota keluarga akan menari bersama," ujar Surung.


Wisatawan yang mengabadikan tarian Si gale-gale

Pertama kali yang memiliki Si gale-gale adalah seorang raja setempat. Surung melanjutkan, sang raja punya anak yang bernama Manggalae dan suatu hari berperang ke dalam hutan. Namun sayang, anak itu tidak turut kembali dalam jangka waktu lama.

Sang raja pun kemudian membuat satu patung yang dibuat sedemikian rupa agar mirip seperti Manggalae. Kemudian, dimasukanlah roh anak tersebut ke dalam patungnya dan mulai menari-nari.

"Intinya sih begini, Si Gale-gale digunakan untuk mengenang seseorang yang sudah meninggal. Sebab zaman dulu belum ada foto dan kamera, sehingga kalau rindu itu tidak bisa melihatnya. Maka dibuatlah Si Gale-gale," terang Surung.

Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke Sumatera Utara, ke Samosir tepatnya, tradisi Si Gale-gale pun mulai dilarang. Sebab, dianggap sebagai suatu kepercayaan kepada hal gaib dan dapat merusak iman.

Tapi bukan berarti Si Gale-gale dihilangkan begitu saja. Si Gale-gale tetap ada, tapi bukan lagi roh yang menari melainkan diganti dengan tali kendali seperti sekarang ini. Walau kadang katanya, masih ada juga yang dimasuki roh!

Saat Si Gale-gale menari, wisatawan pun diizinkan untuk menari bersama dengan menggenakan kain ulos. Biaya untuk menontonnya pun tak mahal-mahal amat, cuma Rp 80 ribu. Namun jika mau satu set lengkap dengan pertunjukan musik, tidak memakai kaset dan ditemani penari tor-tor yang memakai baju adat, bisa lebih mahal biayanya.

"Belum ke Samosir kalau belum nonton Si Gale-gale," tutup Surung sambil tersenyum.


Jangan lupa nonton Si Gale-gale kalau ke Samosir ya!


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?