GuidePedia

0


Sejak kecil, pemilik nama asli Titiana ini terlahir dari keluarga besar Kristen Ortodok. Ia dibiasakan pergi ke Gereja Ortodoks Rusia oleh neneknya. Gadis itu juga aktif dalam paduan suara gereja. Ia biasa diundang untuk menyanyikan lagu-lagu Kristiani.

Titiana mengaku senang. Kendati, tak dimungkiri ada banyak pertanyaan mengendap di benaknya. Setiap kali pergi ke gereja, gadis itu tidak bisa mengerti mengapa orang-orang berdoa di depan gambar dan patung. Itu adalah konflik besar dalam hati dan jiwa Tasnim.

Sempat dalam beberapa kali kesempatan, gadis asal sebuah kota sekitar 60 kilometer dari Bishkek, ibu kota Kirgistan, ini bertanya kepada neneknya. "Mengapa orang hanya berdoa di depan gambar?" ungkap Tasnim, mengenang pertanyaannya semasa kecil. Tidak ada yang bisa memberinya jawaban yang benar. Sayangnya, ia juga masih terlalu kecil untuk bisa mengerti.

Ke mana pun berlari, ia terus-menerus terantuk pada pertanyaan masa kecilnya. Mengapa orang berdoa di hadapan gambar atau patung? Atas dasar ini, ia terus melanjutkan pencarian spiritualnya. Titiana ingin menemukan agama yang benar-benar memuaskan jiwa. Ia mencoba melihat berbagai agama yang berbeda.

Titiana mulai bersikap kritis ketika berusia sekitar 19 atau 20 tahun. Layaknya generasi muda era digital, ia menyusuri agama-agama yang berbeda di seluruh dunia lewat buku-buku, perpustakaan, dan internet. Gadis itu mengaku sempat tertarik pada agama Hindu dan Buddha. Meski, menurut dia, sebatas mengenali konsep agama itu.

Titiana juga mulai membaca Alkitab dengan lebih teliti. Pertanyaan-pertanyaan seputar eksistensi menggelitik gadis itu. Seperti, mengapa kita di sini? Mengapa Tuhan menciptakan manusia?
Apa yang kita lakukan di sini, di bumi ini? Bagaimana dengan bintang gemintang, alam semesta, dan segala sesuatu?

Gadis Kirgistan itu menelusuri ayat-ayat Perjanjian Lama di Alkitab. Namun, semua informasi yang muncul sangat berbeda ketika ia membaca Perjanjian Baru. Itu menimbulkan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban bagi Titiana. Tak ada pretensi apa pun, Titiana ha nya ingin mene mukan kebenaran.

Di tengah ke gelisahan itu, dia menemukan sebuah komunitas yang mendakwahkan Islam. Islam bukan agama yang asing bagi Titiana. Mayoritas penduduk negara republik di Asia Tengah ini memeluk Islam.
Pemeluk Gereja Ortodoks Rusia di wilayah yang pernah dikuasai Uni Soviet ini berada di urutan kedua.
Titiana mulai mendapatkan berbagai pengetahuan keislaman.

Mereka menjelaskan banyak hal tentang prinsip-prinsip Islam. Mereka juga mengajari wudhu dan shalat. Ia takjub mendengar hadis Nabi Muhammad tentang kehidupan. "Apa yang harus kita lakukan dan apa yang seharusnya tidak kita lakukan," ucap Titiana.

Kesadaran beragama Titiana tumbuh sangat perlahan, langkah demi langkah. Tidak ada paksaan. Setiap hari, Titiana belajar sesuatu yang baru. Ada fakta-fakta sederhana yang menarik dalam Islam.

Yang paling menarik, kata Titiana, dalam Islam tidak perlu ada perantara antara kita dan Allah SWT. Setiap Muslim dapat meminta langsung kepada Allah, tidak perlu me minta lewat Bapa Pendeta di gereja atau otoritas keagamaan semacam itu. Muslim bebas memanjatkan doa kepada-Nya, kapan pun.

Keyakinan itu bertambah kuat dari hari ke hari. Menurut Titiana, Allah telah membukakan hati, mata, dan telinganya. Ia pun memutuskan untuk mengikrarkan syahadat. Memulai menempuh kehidupan baru. "Saya tidak akan lupa hari indah ini. Alhamdulillah," ucap Titiana penuh syukur.

Kini, gadis itu tampak cantik dengan tampilan gamis dan jilbab lebar berwarna cerah yang selalu ia kenakan. Setelah berikrar syahadat, Titiana pun berganti nama menjadi Tasnim. Nama indah yang berarti air terjun atau mata air di surga.

Sekarang, Tasnim pindah ke Dubai dari Kirgistan. Ia telah tinggal di sana kira- kira sembilan bulan. Tantangan Hidayah datang, cobaan pun datang. Keislaman Titiana mendapat penolakan keras dari keluarga. Terutama, dari kedua orang tua dan nenek yang selalu mencintainya. Titiana pantang menyerah, meski beroleh protes dari keluarga. Ia belajar mendirikan shalat lima waktu.

Setahun yang lalu, gadis itu malah sudah mulai memakai jilbab. "Saya berdoa, ya Allah, jadikan hamba-Mu ini lebih kuat lagi, lebih kuat lagi," tutur Titiana.

Titiana Gadis itu mengajar di sebuah universitas. Setiap hari, ia bertemu koleganya sesama dosen dan profesor. Ada lebih dari 2.500 orang di kampus. Setiap waktu, ada saja orang datang kepadanya dan bertanya alasan dia berjilbab.

Tidak semudah menjawab pertanyaan rekan kerja, persoalan hijab menjadi konflik besar di tengah keluarga. Mereka menggugat. Mengapa dia harus menutupi wajah? Mengapa dia mengenakan jilbab? Mengapa dia mengenakan pakaian yang berbeda?

Suatu kali, Titiana meminta saran ibunya ketika hendak berangkat ke universitas. "Warna jilbab apa yang cocok dikenakan dengan pakaianku hari ini?" Ibunya menjawab singkat, "Tidak ada. Kamu jauh lebih baik tanpa jilbab." Ia hanya bisa diam dan bersabar.

Kesabaran Titiana membuahkan hasil. Selang sebulan kemudian, ibunya mulai memahami dan memberikan hadiah pada gadis itu. Ketika dibuka, ternyata sehelai jilbab berwarna hijau! Bagi Titiana, ini pertanda besar dari-Nya bahwa sang ibu mulai memahami pilihan si buah hatinya dalam berislam.

"Itu perubahan yang sangat serius bagi saya," ungkap Titiana. [yy/republika]

Sumberlanjutin di sini !

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?