GuidePedia

0

Mahasiswa asal Pante Garot, Pidie, alumnus Ummul Ayman Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

INI tahun pertama bagi saya menjalani ibadah puasa Ramadhan di Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman. Seperti wilayah-wilayah Yaman lainnya, Tarim juga termasuk daerah yang suhu hariannya berkisar antara 45-60 derajat Celcius. Dengan panas yang sedemikian, maka tidaklah heran, apabila kebanyakan rumah warga Tarim dibuat dari tanah liat, agar lebih enjoy ketika puncak musim panas tiba.

Menjalani puasa di wilayah tandus dengan cuaca seperti ini juga dapat menyurutkan niat kita, warga asing, beraktivitas. Tak terkecuali masyarakat pribuminya. Pada siang hari, jalanan utama kota yang dijuluki "Kota Seribu Wali" ini terlihat sepi dari lalu lalang warga. Mereka lebih memilih berdiam diri di rumah atau hanya sekadar beriktikaf di masjid-masjid yang tersebar di seluruh pelosok distriknya. Pendeknya, pada siang hari, Tarim seperti kota mati.

Aktivitas masyarakat kembali normal justru setelah shalat Ashar. Mereka mulai sibuk mempersiapkan iftar (menu berbuka). Dalam hal ini, pengurus masjid juga ikut andil dalam memfasilitasi jamaahnya dengan penganan seadanya. Menu yang sering disuguhkan saat berbuka puasa adalah kurma, rutab (kurma basah), bakhoumry, sambousa, dan segelas jus mangga. Tentu saja di sini kita tak akan pernah menjumpai menu berbuka berupa boh romrom, timphan srikaya, lemang, atau makanan khas Aceh lainnya.

Pada malam hari, ketika azan Isya dikumandangkan, tanpa harus ada aba-aba dari polisi syariah (wilayatul hisbah), sebagian masjid-masjid sudah mulai dikerumuni warga untuk melaksanakan shalat Isya serta Tarawih secara berjamaah.

Terlepas dari kontradiksi jumlah rakaat shalat Tarawih 8, 20, atau bilangan lainnya. Yang jelas, sama halnya dengan di Aceh, masyarakat Tarim juga sangat terbiasa memuliakan tamu (peumulia jamee). Nah, yang namanya tamu (jamee) Ramadhan mereka muliakan dengan cara mengisinya dengan amalan-amalan, baik fardu maupun sunat, juga dengan hal-hal yang bermanfaat lainnya.

Terkait amalan di bulan puasa, hal yang membuat saya takjub di Tarim ini adalah kebiasaaan warganya melaksanakan shalat Tarawih dengan format waktu yang berbeda-beda. Pendeknya, shalat tersebut dilaksanakan mulai dari masuknya waktu Isya hingga waktu sahur tiba. Sebut saja Masjid Ahlu Kisa' yang bilangan Tarawihnya 20 rakaat. Shalat Tarawih di masjid ini baru dimulai pukul 20.45 hingga berakhir pukul 22.30. Kemudian dilanjutkan di Masjid Ba 'Alawi yang dimulai dari pukul 23.00 hingga pukul 00.00. Tak jauh dari Masjid Ba 'Alawi, barulah giliran Masjid Almuhdhar menunaikan shalat. Dimulai sejak pukul 00.05 hingga pukul 01.05.

Hanya berjarak 100 meter dari Masjid Almuhdhar, terdapat Masjid Jamik Tarim. Di sini Tarawihnya dimulai pukul 01.15. Karena berstatus masjid jamik, masjid ini merupakan kebanggaan masyarakat Tarim. Terakhir adalah Masjid Wa'al. Di masjid yang dibangun oleh seorang tabi'in (masa setelah berakhirnya masa sahabat Rasulullah) ini shalat Tarawihnya dimulai pukul 02.00 hingga berakhir pukul 03.00 atau bertepatan dengan tibanya waktu sahur.

Nah, Anda boleh saja heran dengan pelaksanaan Tarawih yang tidak serempak antarmasjid tersebut. Tapi bagi penduduk Tarim, pembedaan waktu shalat Tarawih yang seperti itu bertujuan agar para warganya bisa menunaikan Tarawih kapan dan di mana saja.

Bahkan yang mencengangkan, dengan spirit ibadahnya yang kuat, masyarakat di sini biasanya mengikuti semua pelaksanaan Tarawih di semua masjid yang saya sebutkan tadi. Dengan demikian, dalam satu malam adalah hal yang biasa bagi masyarakat Tarim melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 100 rakaat, karena ia shalat di lima buah masjid yang masing-masing menunaikan Tarawih dengan 20 rakaat.

Demikianlah, antara lain, "tamu Ramadhan" disambut dengan gegap gempita dan diisi warga Tarim dengan ibadah sepanjang malam, tanpa cekcok, tanpa beda pendapat. Semoga bermanfaat bagi saudara-saudara saya seiman di Aceh.



Post a Comment Blogger

Beli yuk ?