GuidePedia


Jadi Mualaf, Michael Barradine Siarkan Islam di SinagogAkhir musim panas, satu keputusan besar diambil Michael Barradine. Tidak mudah memang, karena Barradine lebih memilih untuk lebih dahulu meyakinkan hatinya 100 persen sebelum mengucapkan syahadat. Momentum itu akhirnya datang.

“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang, seperti dinukil dari onislam.net.

Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.

Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.

Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya. [yy/
republika.co.id]
Terkesan dengan Keaslian Al Quran
Michael Barradine mengaku terkesan dengan panggilan adzan. Kesan itu rupanya sangat mendalam. Baraddine pun coba untuk mencari tahu tentang ajaran Islam. Itu yang kemudian ia dapatkan ketika ke AS. Di sana, ia melahap literatur tentang Islam, termasuk Alquran.

Selanjutnya, Barradine mulai mempelajari bahasa Arab. Bahasa ini dianggap penting olehnya lantaran membuka jembatan informasi yang lebih luas soal Islam.

“Sepanjang musim panas di AS, saya banyak berbicara dengan Muslim. Kesimpulan yang saya dapat, agama saya sekarang ini sama seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” katanya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).

Seiring perjalanan waktu, banyak yang menanyakannya mengapa tidak menjadi Muslim. Namun, Barradine tidak memiliki jawabannya. “Saat itu, saya hanya terkesan dengan fakta keaslian Alquran. Berbeda dengan Injil,” akunya.

Akhir musim panas, satu keputusan besar diambilnya. Tidak mudah memang, karena Barradine lebih memilih untuk lebih dahulu meyakinkan hatinya 100 persen sebelum mengucapkan syahadat. Momentum itu akhirnya datang.

“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang.

Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.

Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.

Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya. [yy/
republika.co.id]

Panggilan Adzan Membuatku Terkesan
Michael Barradine telah melakukan pengembaran spritual lebih dari 30 tahun. Ia memulainya dari mempelajari Katolik, Agnostik, hingga akhirnya Islam menjadi pelabuhan terakhirnya.

“Hanya dalam Islam, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaanku,” ungkapnya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).

Perjalanan spiritual Barradine dimulai ketika ia menempuh pendidikan S3 di Universitas Arizona. Di sana, ia pelajari studi Timur Tengah dan sejarah kerajaan Inggris. Sebelum itu, ia lebih dekat dengan tradisi Kristen. Karena, ia bersekolah di Kodaikanal Internasional School.

Namun, orang tuanya yang seorang pimpinan California-Texas Oil Company (Caltex), membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Bahrain merupakan negara pertama yang ia singgahi. Lalu berlanjut ke India. Di India, Barradine mendalami ajaran Kristen, karena ia bersekolah di sekolah Kristen.

Selesai sekolah, ia merasa tertarik dengan Kristen sehingga ia mendalami ajaran itu dengan memasuki sekolah Notre Dame Internasional School, Roma. “Di kota ini, saya mempelajari lebih lanjut tentang Kristen. Saya belajar dengan uskup secara langsung,” katanya menjelaskan.

Selama di Roma, Barradine begitu terpesona dengan iman Katolik. Ia pun berencana menjadi seorang Imam. Namun, di antara sekian negara tempat yang ia singgahi Bahrain merupakan yang paling berkesan. Di sana ia mendengar panggilan adzan dan melihat Muslim melaksanakan shalat. “Ini membuatku begitu terkesan. Saya suka mendengarnnya,” katanya. [yy/
republika.co.id]

Dapatkan Wisbenbae versi Android,GRATIS di SINI ! 
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?

 
Top