GuidePedia



KEJADIAN pemeriksaan oleh tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jalan Sei Asahan Medan, Sumut, merupakan puncak dari penyelidikan KPK selama tiga hari. Disusul Rabu (15/5), Bupati Mandailing Natal (Madina), Sumut, Hidayat Batubara, si pemilik rumah di jalan tersebut, ditangkap tim lembaga antirasuah itu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepling 4, Kelurahan Padang Bulan Selayang I, Kecamatan Medan Selayang, Usman (65).

“Sudah 3 hari mereka di sini. Hanya saja, mobilnya beda-beda letaknya. Kadang dekat rumah saya, kadang dekat gereja,” ujarnya, seperti diberitakan Sumut Pos (Grup JPNN).

Biasanya, ada 2 mobil yang selalu datang ke kawasan tersebut. Dan orang yang dari mobil tersebut selalu menuju rumah Bupati Madina, Hidayat Batubara. “Saya selalu lihat, rumahnya kan dekat. Hanya terpisah satu rumah saja,” lanjutnya.

Kejadian ini membuat dirinya tersinggung karena para pendatang tersebut tidak melaporkan kepadanya selaku Kepling. Karena itu, dirinya menolak saat diajak ikut serta ke rumah pribadi bupati tersebut.

“Seharusnya mereka kasih tahu dulu. Jangan begitu sudah kejadian, baru saya diajak. Mbok ya, kasih surat dulu. Fotokopi juga boleh. Setidaknya saya dikasih tahu ada apa ini,” tambahnya.

Karena itu, saat dirinya dijemput oleh Polsek Medan Baru dirinya menolak untuk ikut. Tetapi, dirinya bersedia ikut saat dijemput bersama dengan pihak penyidik KPK.

Di matanya dan keluarga, sosok Hidayat Batubara termasuk orang yang punya kepedulian sosial. Setidaknya, dia  turut mengaspal jalan Sei Asahan menuju rumahnya. “Awalnya yang aspal jalan ini Pak Hidayat. Tetapi diaspal kembali sama Pemko,” ungkapnya.

Terkadang, saat acara gotong royong, Hidayat juga turut menyumbang. Walau kadang dia tidak ikut hadir, setidaknya dia memberikan bantuan secara finansial. “Kalau dia tidak ikut serta, biasanya dia diwakilkan orang suruhannya,” lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh istri sang Kepling, Sri Winarti (53). Dijelaskannya, sang bupati berasal dari keluarga yang berada sehingga sangat sulit percaya  bila dia diduga menerima suap. “Rasanya aneh. Tapi entahlah. Soalnya, bapak itukan kaya. Banyak sawitnya,” ujarnya.

Dirinya mengaku tidak terlalu sering melakukan komunikasi dengan keluarga tersebut. “Saya hanya mengaku mereka kaya. Karena keluar masuk mereka naik mobil. Banyak mobil mereka. Tapi gimanapun mereka orang yang saya kenal,” tambahnya.

Saat dicek di rumah tersebut, ada beberapa mobil di rumah tersebut. Seperti Alphard, mobil sedan sport, dan lainnya.

Diprediksi, ada dua mobil rental yang digunakan oleh anggota KPK ini. Yaitu Daihatsu Xenia warna hitam BK 1619 JF dan Toyota Avanza warna susu BK 1414 JS. Sopir mobil Xenia yang mengaku bernama Amran mengaku bahwa dirinya adalah sopir rental dari mobil yang dikendarainya.

“Saya hanya menjemput dari Polonia sekitar pukul 13.00 WIB. Langsung kemari (Sei Asahan, Red). Tidak kemana-mana. Saya hanya bertugas untuk mengantar bapak tadi,” ujarnya.

“Saya juga tidak tahu sampai kapan dirental. Karena itu urusan ketua. Saya hanya disuruh ikuti bapak ini,” lanjutnya.

Selama masa pemeriksaan di rumah bercat abu-abu tersebut, terlihat anggota KPK yang berbada tegap yang menggunakan baju kaos berkerah warna coklat dipadu dengan jeans ini terlihat mondar-mandir.

Pria berbadan tegap yang diketahui sebagai penyidik KPK ini memang terlihat mondar mandir keluar masuk rumah. Saat keluar rumah, pria dengan rambut hampir plontos ini selalu menutupi wajahnya dengan menggunakan sapu tangan.

“Iya, ada pemeriksaan. Kasus suap tertangkap tangan. Tanya sama Pak Johan saja ya,” ujarnya.

Tercatat, ada 3 kali pria yang selalu bungkam saat ditanya identitasnya ini keluar masuk rumah. Pertama kali saat menjemput atau mencari tukang kunci. Kedua untuk foto kopi berkas dan ketiga saat menjemput Kepling. (ram/far/gus)

Dapatkan Wisbenbae versi Android,GRATIS di SINI !
 Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?

 
Top