GuidePedia

0
Suka atau tidak, sadar atau belum, yang rugi dalam setiap perang adalah kita sendiri, paling sedikit dari segi material. Para pemenang boleh menghitung dan membagi keuntungan, dan yang kalah menghitung berapa banyak lagi yang harus mereka bayar. Betapapun, baiklah kita tinggalkan semua perang sambil mengutip sabda Isa Al-Masih yang dapat kita temukan juga dalam beberapa literatur agama Islam: Apalah artinya seseorang memperoleh seluruh dunia ini, tetapi jiwanya kosong? (Matius XVI: 26)

Kita tinggalkan perang, guna menghadapi perang lebih dahsyat yang dihadapi oleh umat Islam, yakni jihad akbar. Menurut Nabi Muhammad saw., jihad akbar adalah perang yang bila dimenangkan, dapat menghindari perang dunia. Dengan kata lain, jihad akbar adalah perang yang jika dimenangkan dapat mengendalikan nafsu memperoleh materi tanpa menghabisi lawan ataupun menghancurkan diri sendiri.
Binatang melata pun tidak rela melepaskan kendali nafsunya, bila pelepasan itu membahayakan hidupnya. Bahkan, tulis seorang pakar: ”Singa rela mati daripada memakan bangkai, demi memelihara kehormatan dirinya”. Wajarlah bila Al-Quran mengecam manusia yang lepas kendali bagaikan binatang bahkan lebih sesat (QS 25 [Al-Furqan]: 44).

Jihad Akbar di sulut apinya pada bulan puasa, di sanalah tiap Muslim dituntut berperang menaklukkan hawa nafsunya yang menggebu-gebu. Tetapi, harus disadari bahwa perang ini – sebagaimana halnya semua perang dalam Islam – tidak bertujuan menghabiskan semua potensi lawan, apalagi memusnahkannya. Tujuannya, sekadar mengendalikannya, karena bagaimanapun jeleknya sesuatu, pasti ada segi-segi positif dalam dirinya yang dapat dimanfaatkan, karena itulah titik temu harus dicari. Dalam peperangan apapun, gencatan senjata harus diusahakan, sampai akhirnya lahir perdamaian. Dalam Jihad Akbar itu perdamaian terjadi dalam diri manusia, dan kalau hal itu sudah dapat dicapai oleh banyak orang, mustahil perang dunia akan berkobar.

Mempertahankan kehendak jasmani dan ruhani adalah kehendak Islam, hal tersebut antara lain melalui jihad akbar melawan nafsu selama bulan Ramadhan yang diusahakan agar tetap seperti itu di bulan-bulan lainnya selain Ramadhan. Tapi jangan biarkan peperangan berlanjut secara ekstrim sehingga memusnahkan salah satu pihak, karena pihak mana pun yang punah – jasmani atau ruhani – akibatnya adalah kebinasaan yang juga menimpa pemenang.

Mencapai gencatan senjata, kemudian perdamaian antara kedua belah pihak bukanlah satu hal yang mudah. Bahkan itulah usaha manusia yang paling berat: Bagaimana mempertemukan oksigen dan hidrogen sehingga menghasilkan air, bagaimana mempertemukan keinginan binatang dan kecenderungan malaikat agar lahir manusia. Itu semua membutuhkan perjuangan. Jihad Akbar bukan hanya kekuatan, akal, pikiran dan kesadaran, tetapi juga kebijaksanaan, muslihat dan diplomasi. Upaya itulah yang kita lakukan dengan berpuasa dan sejak dini kita sudah mempersiapkan diri dengan pelbagai amal shaleh, karena kita ingin menang tanpa menghabisi atau memusnahkan.




Lentera Hati: M. Quraish Shihab 

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?