GuidePedia

0
Antrean truk kontainer di Jalan Cakung-Cilincing (Foto: Awaluddin)

KECELAKAAN menjadi momok menakutkan untuk setiap orang karena dapat terjadi di mana dan kapan saja, tanpa dapat diprediksi. Penyebab kecelakaan juga berbeda–beda, seperti yang terjadi di Jalan Cakung– Cilincing (Cacing). Jalan Cacing, demikian dikenal masyarakat juga dijuluki sebagai jalur tengkoraknya di Jakarta, lantaran banyak meminta korban jiwa.

Kecelakaan yang menimpa keluarga Haerudin pada Kamis, 14 Juli 2011, merenggut dua anaknya. Peristiwa tragis Jalan Cacing ini terjadi ketika Haerudin yang menjemput anaknya pulang sekolah dari SDN 02, Semper. Kejadian tersebut juga kian memperdalam duka warga RT 06 RW 03 No.21 Kecamatan Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, ini karena sebelumnya anak mereka yang satunya juga meregang nyawa di jalan itu.

Ternyata, kesedihan mendalam tak hanya milik pasangan Haerudin dan Nurhasanah, tapi masih banyak keluarga lainnya merasakan hal yang sama. Kecelakaan di Jalan Cacing ini dari mulai Januari hingga April 2011 tercatat ada 280 kasus, menewaskan 42 orang dan 238 orang lainnya luka. Memang sudah ada penanganan dari pihak terkait mengenai masalah ini.

Namun pertanyaannya apakah penanganan kecelakaan lalu lintas sudah tepat dan maksimal, atau justru asal-asalan? Pemerintah dan aparat polisi tidak cukup sekedar pasang spanduk dan baliho untuk mengkampanyekan tertib lalu-lintas. Namun yang pasti harus ada rencana aksi dalam perbaikan tertib lalu lintas di Indonesia. Jika tidak, "pembunuhan massal" di jalanan terus berlangsung.

Pengamat Trasnportasi Darmaningtyas mengatakan tidak ada tindakan serius dari pemerintah untuk menangani kecelakaan yang sering terjadi. Kecelakaan bisa disebabkan kerusakan jalan dan masih rendahnya kedisiplinan pengendara dalam berlalu-lintas. “Kerugian yang paling dirasakan adalah anggota kelurga yang ditinggalkan, karena korban tersebut dapat saja tulang punggung keluarga. Dan ini dapat menjadi awal proses kemiskinan,” ungkapnya saat berbincang dengan okezone, baru-baru ini.

Jika kecelakaan di Jalan Cacing disebabkan truk–truk besar yang berlalu-lalang menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok, maka pemerintah harus memberikan solusi konkret. "Mungkin merencanakan membangun pelabuhan kering, dan menggunakan akses kereta api," ungkapnya.

Sedikit berbeda dalam pandangan Edie Toet Hendratno, ahli hukum, sosial dan trasnportasi dari Universitas Indonesia. Pemerintah sudah bertindak serius dalam menyikapi masalah kecelakaan lalu lintas. Setiap terjadi kecelakaan maka kepolisian datang membantu. Kalaupun ada korban maka pelaku ditindak sesuai aturan, sedangkan korban segera ditangani rumah sakit.

“Sanksi yang diberikan juga tergantung kasus per kasus karena setiap kasus memiliki penyebab berbeda–beda. Dalam kecelakaan di Jalan Cacing juga tergantung pada penyebabnya. Jika ada yang meninggal, maka pihak kepolisian berhak menjadikan truk sebagai jaminan. Tetapi jika luka berat berakhir pada negosiasi, lain halnya dengan luka ringan yang dapat diselesaikan dengan cara damai,” paparnya.

Menurut Edie, penyebab utama kecelakaan umumnya karena human error dibanding kerusakan jalan. Persentase kecelakaan selalu berhubungan dengan kemacetan. Penyebab kemacetan juga beragam, seperti jumlah kendaraan yang meningkat atau pada saat ada kecelakaan, kendaraan akan memperlambat laju untuk melihat kejadian itu walau sebentar.

Ternyata kemacetan yang terjadi juga memiliki kerugian bagi para pengendara baik disadari ataupun tanpa disadari. “Kerugian yang diperoleh, seperti borosnya bahan bakar, kehilangan waktu serta stres yang ada,” kata Edie.

Ancaman maut di Jalan Cakung-Cilincing menjadi wajah transportasi di Jakarta yang masih menyeramkan. Jalanan di Ibu Kota ibarat ladang "pembantaian" manusia. Nyaris setiap hari tiga nyawa melayang akibat kecelakaan di jalan raya. Ironisnya, korban kecelakaan mayoritas kaum Adam berusia produktif antara 25-40 tahun.

Hal ini tak aneh. Ikhwalnya, Jakarta harus menanggung beban penduduk 9,5 juta jiwa, belum termasuk warga daerah penyangga. Sementara jumlah kendaraan di Jakarta jika siang hari bisa mencapai 9 juta lebih, termasuk angkutan umum. Sebanyak 57 persen lebih adalah kendaraan milik warga luar Jakarta.

Kecelakaan lalu lintas bisa`disebut sebagai mesin pembunuh nomor satu. Sayangnya, kematian akibat kelalaian di berkendaraan ini nyaris luput dari perhatian. Meregang nyawa karena kecelakaan lalu lintas adalah insiden biasa, sebagai takdir yang tak bisa dipungkiri. Beda halnya dengan bencana alam, semisal gunung meletus, banjir bandang, atau gempa bumi. Semua mata tertuju pada fenomena alam yang menewaskan penduduk yang tinggal di kaki gunung itu.

Masyarakat pun nyaris tak ada reaksi untuk "keras" menuntut pemerintah benahi sistem transportasi yang masih amburadul. Paling-paling, warga spontan mengejar lalu menghakimi ramai-ramai sopir mikrolet, kopaja atau truk kontainer yang menggilas pengendara motor hingga tewas. Setelah itu, warga pun lupa akan peristiwa tragis tersebut sampai terjadi peristiwa yang sama di lain waktu.

Parahnya lagi, para pengguna jalan tidak jera, meski kecelakaan maut terjadi di depan mata. Tetap saja ugal-ugalan, saling serobot, dan kejar-kejaran dengan dalih dikejar waktu. Problem transportasi di Jakarta memang kompleks. Bukan sebatas kemacetan yang kini kian menjadi-jadi dan fatalnya berujung kecelakaan maut.

Sampai detik ini transportasi di Jakarta belum nyaman, aman, bahkan cenderung membahayakan jiwa. Padahal isu transportasi sangat serius. Transporatsi adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Sektor transportasi juga menyita korban jiwa, harta-benda yang tak sedikit, dan cerita pilu sepanjang waktu.

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top