GuidePedia

1
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiB0BH7_uVcGMmicdNFaIjIoWtdNU4DUyIoUqNzeDvkJIr7JRRgvTvnfpwxQjWYMJUwPutM6FbRI8eTdyzMxXMFSGrk7YoM-yRQpuVOVw10iasnWIX5prC3KJguR1Lsf5r9WUHOxg/s1600/Pengusung+Jokowi.jpg

by Arie M. Prasetyo 
Jadi tadi sore saya berbincang dengan seorang teman di salah satu media sosial. Dia berkata, semula ia hendak memilih Jokowi, tetapi karena kesal pada kelakuan para pendukung beliau di media sosial, dia justru akan memilih Prabowo. Bukan karena dia percaya pada visi Prabowo, bukan karena dia tidak menyukai program-program Jokowi; sekedar karena kesal (dan ingin membuat kesal) para pendukung Jokowi.

Ini bukan kali pertama seseorang menyampaikan hal seperti itu kepada saya. Beberapa orang pernah menyampaikan hal yang sama. Warga negara Indonesia dewasa dengan latar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan dengan alasan kuat atas pendapatnya. Inti ucapan mereka sama, mereka adalah pendukung Jokowi yang terdorong untuk memilih Prabowo akibat kesal pada kelakuan fans garis keras Jokowi. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang berpendapat seperti mereka di luar sana.
Saya pun pernah sampai di suatu titik di mana saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi. Saya di sini akan terbuka, semenjak pengumuman resmi Capres-Cawapres saya cenderung lebih mendukung Jokowi. Tapi saya tidak pernah memandang sosok beliau sebagai sosok yang 100% sempurna.

Sebagai contoh: blusukan. Kebiasaan beliau untuk blusukan memang inovatif dan merakyat. Tapi apakah cuma itu kegiatan seorang pemimpin. Apakah tidak bisa diwakili? Apakah nanti beliau akan blusukan terus menerus ke seluruh pelosok negeri yang luas ini? Lalu kapan ia akan duduk di meja merumuskan strategi dalam rangka menindaklanjuti hasil blusukan-nya? Saya rasa wajar jika kubu lawan menilai blusukan ini hanya sebagai upaya pencitraan. Tapi kalian, para penggembira militan Jokowi, selalu menganggap kritikan terhadap blusukan ini sebagai kritikan tak berarti dan tanpa isi.

Masalah HAM adalah masalah yang selalu digembar-gemborkan oleh kalian untuk menyerang pihak lawan. Tolong lah, jangan terlalu naif. Ada perwira-perwira tinggi yang tangannya berlumuran darah di kubu Jokowi. Jenderal Hendropriyono dan pembantaiannya di bumi Lampung. Lalu ada Jenderal Wiranto yang keterlibatannya di Mei ’98 sama misteriusnya dengan Prabowo.

Retorika kalian yang hanya mengungkit-ungkit pelanggaran HAM terus-menerus itu menyedihkan dan memalukan. Apa tidak ada hal lain, yang lebih cerdas, yang bisa diungkapkan? Bahkan Pius Lustrilanang, aktivis korban penculikan di 1998, merasa tersinggung karena masalah HAM ini seolah-olah “dikomersialisasi” demi meraih suara pemilih.

Jokowi kerap disindir oleh pihak lawan akan kemampuannya berorasi di khalayak ramai. Tapi bukannya menyokong tim sukses Jokowi agar meningkatkan kemampuan beliau, kalian justru menganggap sindiran tim lawan itu hanya bagaikan angin lalu. Sindiran tak berdasar yang dibuat-buat.

Apa kalian tahu bahwa kandidat calon Presiden Amerika Serikat memiliki tim khusus yang bertugas menjamin sang kandidat menyajikan yang terbaik dalam pidato dan debatnya? Apakah kalian tahu bahwa kemampuan orasi dapat memengaruhi segmen pemilih yang belum menentukan pilihan? Atau kalian berpikir bahwa karisma dan wibawa seorang pemimpin saat berbicara di depan rakyatnya, kemampuannya untuk membakar semangat bangsanya, itu bukan sebuah kelebihan? Coba dibuka lagi buku sejarahnya.

Ini adalah kekurangan-kekurangan yang bisa diperbaiki. Tapi kalian begitu terbutakan sehingga setiap kritik justru dianggap sebagai serangan. Buruk muka cermin dibelah.

Beberapa dari kalian kerap menyebut dukungan terhadap FPI sebagai faktor kekurangan Prabowo. FPI yang tidak menghargai perbedaan, yang menganggap kaum berbeda sebagai musuh, yang menanggapi kritikan terhadap mereka sebagai sikap bermusuhan. Kok, terdengar seperti kalian ya, wahai penggembira militan Jokowi?

Orang yang mengritik kalian tertawakan. Orang yang tidak mendukung Jokowi kalian anggap bodoh. Yang tidak memihak, kalian anggap mendukung penindas. Kalian begitu terpolarisasi. Semuanya menjadi us versus them. Ini kan bibit-bibit fasisme, teman. Atau jangan-jangan jargon “stand on the right” itu maksudnya adalah kalian telah menjelma bagai FPI, sebuah kelompok fasis, kelompok sayap kanan?

Lucu sekali jika membayangkan tingkah kalian sudah seperti kelompok yang hendak kalian perangi.
Jujur saya ikut mentertawakan Hatta Rajasa saat ia berbicara mengenai kepastian hukum. Tapi lucu sekali bila yang mentertawakan adalah orang yang membela seorang sastrawan tertuduh pemerkosa. Yang korbannya adalah seorang perempuan yang lebih cocok jadi anaknya. Hatta membela keluarga, kamu membela teman. Okay, I get it.

Lalu ada seorang figur publik, yang entah sedang menggunakan majas hiperbola atau memang kurang informasi, mengatakan bahwa Orde Baru itu seperti Korea Utara saat ini. Come fucking on…. Usia kita cuma terpaut dua tahun, dan seingat saya Orde Baru sama sekali tidak seburuk Korea Utara. Bahkan di zaman Orde Baru, negara ini adalah sahabat karib Amerika Serikat. Were you high, dude?
Ada juga yang menyebarkan video-video kejadian Mei 1998 untuk menggiring pemilih muda menjauh dari Prabowo. Saya yang berada di jalanan saat itu, bahkan hingga saat ini tidak tahu persis apa yang terjadi. Apakah kalian memberi tahu para pemilih muda tersebut mengenai kedekatan Wiranto dengan Soeharto dan Mbak Tutut. Jauh lebih dekat dibanding Prabowo yang merupakan menantu Soeharto dan adik ipar Mbak Tutut? Sejauh mana keterlibatan Pam Swakarsa di kerusuhan saat itu. Pam Swakarsa yang diprakarsai pembentukannya oleh Panglima ABRI, Jenderal Wiranto.

Apakah kalian juga menginformasikan kepada para pemilih muda ini keberadaan teori yang menyebutkan bahwa Prabowo cuma pion yang dikorbankan para atasannya? Kalian bahkan dengan bangga memamerkan dokumen rahasia negara di internet demi mendorong kemenangan Jokowi. Kalian tidak tahu atau tidak tahu malu, saat mengelu-elukan tindakan melanggar hukum seperti pembocoran dokumen negara? Memang mudah kehilangan objektivitas bila kalian hanya memikirkan kemenangan.

Beberapa dari kalian ada yang menertawakan Prabowo saat ia menjawab “tanya atasan saya” di debat tadi malam. Kaum kelas menengah yang nyaman bekerja di gedung bertingkat ber-pendingin, dengan kopi mahal kalian, mungkin tidak akan pernah mengerti cara berpikir para perwira militer. Di dalam situasi perang, melawan perintah atasan dapat dihukum dengan eksekusi di tempat. Daripada menertawakannya, coba kalian berpikir. Wiranto, atasan Prabowo saat itu, sekarang ada di kubu Jokowi.

Tentu, masih banyak pendukung Jokowi yang santun. Yang tidak pernah peduli dengan retorika lawan dan lebih peduli pada visi misi yang diusung Jokowi. Yang tidak pernah terlibat perang mulut di media sosial dengan pendukung lawan. Yang tidak memandang Jokowi sebagai sosok nabi yang tidak mungkin berbuat salah. Yang lebih fokus pada kelebihan Jokowi daripada kekurangan Prabowo.
Saya menghormati mereka, sebagai mana saya menghormati para pendukung Prabowo yang santun.

And with that said, kalian para pendukung fanatik Jokowi yang kelakuannya serupa kelompok fasis, sejujurnya saya tidak terlalu peduli. Saya tahu tulisan ini kemungkinan tidak akan merubah perilaku kalian. Tapi setidaknya tulisan ini dapat mengekspos standar ganda dan perilaku hipokrit kalian.

Saya cuma berharap bila Jokowi menang nanti, ia tidak dikelilingi orang-orang seperti kalian, pendukung fanatiknya yang terbutakan. Yang menganggap Jokowi selalu benar. Yang menganggap kemenangan Jokowi sebagai Presiden adalah tujuan yang lebih penting dibandingkan hal-hal lain. Orang-orang yang menganggap para pengritik Jokowi dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan beliau adalah musuh. Musuh yang harus dibungkam dan diserang.

Karena saya pernah hidup di zaman seperti itu. Namanya zaman Orde Baru.

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top