GuidePedia

1


Saya tak tahu apa faedah yang didapat dari meributkan seorang penjaja nasionalisme seperti Pandji. Bahwa ternyata guyonannya tempo hari tersebut cenderung salah kaprah, ya apa boleh buat, Pandji bukanlah seorang komedian secerdas George Carlin atau Louis CK.



Ketika Front Pembela Islam (FPI) giat melakukan indoktrinasi, gencar memperkuat rantai ekonomi, dan tanpa jeda terus mengkonsolidasi jaringannya hingga turba ke masyarakat, kelas menengah intelektual kita justru sibuk meributkan guyonan Pandji Pragiwaksono tentang FPI. Oh, betapa radikalnya.

Kejadian ini berlangsung sekitar minggu lalu, ketika sebuah meme dengan kutipan guyonan Pandji berseliweran di media sosial. Begini tulisannya:

“FPI jangan pernah dibubarkan dan harus tetap ada. Biar kita tau kalo orang yang gak pernah sekolah jadinya kaya apa.”

Saya tak tahu apa faedah yang didapat dari meributkan seorang penjaja nasionalisme seperti Pandji. Bahwa ternyata guyonannya tempo hari tersebut cenderung salah kaprah, ya apa boleh buat, Pandji bukanlah seorang komedian secerdas George Carlin atau Louis CK. Jangan pernah pula berharap ia akan mampu membuat materi seperti Euphemisms atau The Opposite of A Pedophile.

Pandji mungkin akan bilang: “Coba tonton pentas gue yang off air!”

Saya seringkali berharap bisa mendengarkan khotbah Pandji soal persatuan dan kebangsaan yang dipoles sedemikian jayusnya itu dengan khusyuk dan riang gembira. Akan tetapi, saya selalu gagal.

Ketika menulis artikel ini tadi malam, saya juga sempat memutar video di Youtube yang berjudul‘Pandji Pragiwaksono – Mesakke Bangsaku part 1-3’ sebagai observasi ringkas bagaimana korelasi antara selera humor saya dengan materi komedi Pandji. Harapannya, semoga penilaian saya tidak sepenuhnya didasari atas sentimen pribadi.

Tapi, lagi-lagi saya gagal menemukan apa yang lucu dari lawakan Pandji.

Bagi saya, Pandji hanyalah motivator cum nasionalis yang berusaha amat keras untuk menyajikan materinya dengan teknik ala komika. Betapa tidak lucunya Pandji membuat saya ingat kembali dialog singkat antara Mia (Uma Thurman) dan Vincent (John Travolta) di Pulp Fiction.

Mia: Vincent, do you still want to hear my Fox Force Five joke?

Vincent: Sure, but I think I’m still too petrified to laugh.

Kembali ke topik kutipan guyonan Pandji di atas. Jika Anda berkenan mencari, sebetulnya bukan kali ini saja Pandji mengeluarkan guyonan jayus atau pernyataan yang dangkal logika.

Sekira tiga tahun lalu, dalam sebuah artikel berjudul ‘Let’s Move It’ yang ditulis di situsweb pribadinya, Pandji yang bukan manusia milenium ini juga pernah dengan begitu cerdasnya menganalisis: setiap acara televisi katrok hanya ditonton masyarakat kelas bawah. Pendapatnya itu bisa diartikan kurang lebih menjadi: selera masyarakat bawah yang buruk adalah penyebab dari bobroknya kualitas siaran televisi yang ada.

Wuih, kak Pandji pasti nontonnya Programa Dua terus, ya?

Yang lucu dari pernyataan Pandji tersebut adalah: film yang dibintanginya pada 2014 ternyata mengiklankan diri di salah satu acara yang dianggap tontonan masyarakat kelas bawah tadi. Pandji sih memang tak muncul di acara tersebut. Mungkin ia khawatir nanti bakal lebihmesakke bangsaku.

Tapi, mari lupakan Pandji. Sudahlah cukup ia dengan ketidaklucuannya tersebut dan mari doakan saja supaya Pandji bisa menjadi Anies Baswedan selanjutnya atau tur stand up keliling Nepal. Atau apa sajalah yang penting ia tak kembali menjadi presenter acara televisi yang suka ngerjain orang sambil cengar-cengir bilang: “Kenaaaaa Deeeeehhhhhh…!!!”

Hal lain yang lebih mengkhawatirkan dari Pandji dan patut disorot adalah: mengapa kelas menengah intelektual kita lebih suka meributkan hal-hal remeh macam guyonan tadi ketimbang fokus terhadap isu yang lebih konkrit?

Buat apa mereka memuncratkan berbuih-buih argumen bahwa tak semua orang yang tak sekolah akan berperilaku seperti FPI? Maksud saya: semua itu tak perlu diperdebatkan lagi karena siapa saja sudah paham bahwa overgeneralisir Pandji memang jelas salah kaprah.

Agus Mulyadi, misalnya. Ia “cuma” lulusan SMA—dan bahkan kabarnya sempat tak sengaja terkena mutasi genetis saat hendak memasang behel—namun tak pernah satu kalipun Agus ngemplangin orang sambil teriak “Allahuakbar”.

Sebab apa? Sebab Agus orang baik. Jadilah seperti Agus.

Adam Malik hanya satu setengah tahun mengecap bangku Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Tapi ia bahkan pernah menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden semasa hidup. Apa pernah Adam Malik membubarkan kegiatan keagamaan pihak lain?

Contoh lainnya, encang-encing sekalian, tentu masih bisa diperpanjang lagi. Albert Einstein, Buya Hamka, dan jangan lupakan Bapak Pembangunan Kita: Soeharto.

Pak Harto tercinta kita itu pendidikannya cetek, sebatas tamatan SMP, sebelum akhirnya mendaftar KNIL. Tapi blio bisa ‘tuh bertahan menjadi Presiden NKRI selama 32 tahun. Dan kalau bukan karena sikap lapang dadanya, Pak Harto pasti jadi presiden seumur hidup.

Dengan fakta tersebut, apa lantas kemudian blio suka membedil orang yang berbeda dengan sikapnya? Sembarangan. Ya mana pernah. Mana pernah sekali.

Eh, mboten, Mbah. Penak jamane jenengan kok.

Begitulah. Melihat kegenitan kelas menengah intelektual kita yang seperti tadi, saya jadi paham mengapa setiap FPI atau ormas-ormas intoleran lainnya bertingkah, satu-satunya serangan yang didapat mereka hanyalah kutukan terhadap negara atau aparat. Seolah-olah negara ini memang begitu lugu dan lemahnya hingga tak tahu bagaimana membendung kedegilan ormas macam FPI.

Saya kira, selama kegenitan macam tadi tetap dipelihara, Anda tak perlu berharap kelas menengah intelektual kita dapat turba ke masyarakat—seperti Rizieq Syihab cs. yang gencar melakukan propaganda—atau menggerakan aksi massa untuk membangun front tandingan FPI.

Itu semua, kawanku, adalah harapan yang jauh lebih tidak lucu dari lelucon jayus Pandji.


Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top