GuidePedia

0

SOSOK lelaki dengan usia yang tak muda lagi itu menyambut kedatangan Aing di rumah anaknya, kawasan Multatuli, Medan, Rabu (25/6). Dengan langkah pelan dia berjalan sembari berpegangan dinding, mempersilakan masuk. Deretan foto saat masih aktif bermain di timnas mulai 1964 sampai 1974 tak menggambarkan kondisi tubuh Anwar Ujang saat ini yang lemah dan tak berdaya. Bahkan, dengan kondisi Ujang sekarang, orang mungkin tak mengira bahwa sosok sepuh itu pernah mengharumkan nama Indonesia lewat sepak bola di kancah dunia internasional. Penyakit gula dan hati yang diderita membuat Ujang harus benar-benar menjaga kondisi kesehatan agar tidak drop. Dia tidak boleh merasa lelah dan memforsir diri agar penyakitnya tak kambuh. Untung, dia masih bisa bertahan dan tak mengalami kondisi seperti mantan-mantan atlet lainnya yang miris. Tak terawat dan harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan di masa tuanya. Juga, jauh dari pujian dan sanjungan seperti saat masih memperkuat timnas. 
 

Bukan penghasilan dari pemain timnas sejatinya yang membuat Ujang bertahan. Namun, performa apiknya dulu yang membuat Pertamina merekrut dia menjadi pemain. Sebab, kala itu ada kompetisi antarunit di perusahaan minyak milik negara tersebut. Uang pensiun dan tabungan saat masih bekerja di Pertamina itulah yang menjadi andalannya selama sepuluh tahun terakhir ini. "Saya beruntung masih ada uang pensiun meski jumlahnya tak banyak. Banyak mantan atlet yang hidupnya lebih merana," kata dia. 
Dari mantan perusahaannya, Ujang saat ini masih mendapatkan jaminan pengobatan dan perawatan saat sakit. Karena itu, dia sangat mensyukurinya. Biaya perawatan di rumah sakit Pertamina memang ditanggung perusahaan, tapi untuk obat tambahan dan vitamin lainnya tetap pakai uang sendiri, ucap mantan pemain yang dijuluki Franz Beckenbauer-nya Indonesia tersebut. Lima anak Ujang berhasil mendapatkan pendidikan yang baik. Itulah investasinya saat masih memiliki cukup uang. Kini lima anaknya hidup berkecukupan dan peduli kepadanya. Untuk obat dan vitamin lainnya, pemain yang semasa aktif selalu mengenakan jersey nomor 5 itu mengandalkan bantuan dari anak-anaknya. Mereka juga kerap patungan untuk membantu ayahnya karena untuk membeli obat sendiri, Ujang tak mampu lagi. "Beruntung, anak-anak saya berkecukupan. Mereka benar-benar membantu saya untuk berobat. Karena penyakit ini tidak mungkin sembuh total," ujar lelaki 69 tahun tersebut. 
Di masa tuanya saat ini Ujang sering berpindah-pindah rumah, dari rumah anaknya yang satu ke rumah anaknya yang lain. Mengapa berpindah-pindah? Menurut Ujang, itu dilakukan semata-mata untuk memudahkan dirinya saat berobat. Di Medan dia bisa berobat ke RS Pertamina di kota itu. Semasa masih bekerja, dia berdomisili di kompleks Pertamina di Langkat, Medan. Kalau tinggal di Cikampek, Jakarta, jarak yang jauh dan macet dari rumah membuat dia kelelahan jika harus ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Ujang mengaku tak lagi bisa berdiri dan duduk terlalu lama. Jika dipaksakan, kakinya akan bengkak sebagai imbas penyakitnya. Ujang merasa apa yang diberikannya untuk timnas saat itu seperti tak ada harganya saat ini. Pemerintah dan PSSI tak pernah menghiraukan lagi. Jangankan memberikan bantuan pengobatan atau lainnya, sekadar mengingat dia saja, pemerintah dan PSSI menurutnya sudah enggan. 
Itu terbukti, misalnya, dia hampir tidak pernah diundang bila PSSI ulang tahun. Padahal, juniornya seperti Sutan Harhara pernah dilihatnya mendapatkan penghargaan dan dipercaya PSSI. Bukan cuma diingat dan terus dilibatkan, tapi juga dihargai dengan mendapatkan pensiun sebagai mantan atlet timnas seumur hidup. "Kadang saya iri dan merasa kok tidak dihargai, ya. Tapi, saya nggak mau menuntut. Kayaknya PSSI ataupun pemerintah kurang tertib dalam administrasi. Mungkin tidak punya berkas lengkap sehingga saya terlupakan," tutur lelaki kelahiran 2 Maret 1945 tersebut. 
Dengan pandangan nanar, dia menceritakan bagaimana dirinya saat masih aktif pernah bermain melawan Pele, legenda sepak bola dunia asal Brasil. Meski kalah 3-2 melawan Santos, klub Pele, Ujang sempat mendapat pujian dari sang maestro itu. Pemain nomor 5 pemain terbaik, kata Ujang menirukan pujian Pele dan ulasan-ulasan di media pada 1972. "Saat itu menjadi pemain timnas sangatlah sulit. Seleksinya tak mudah. Tapi, bila bisa lolos seleksi, bangganya luar biasa. Apalagi menjadi kapten timnas menggantikan Soetjipto Soentoro, seniornya. Tidak mudah menjadi kapten timnas. Pertimbangan untuk menentukan sang kapten pun cukup lama. Pokoknya, jadi kapten timnas dulu dan sekarang berbeda. Dulu rasanya sakral sekali," tutur pemain yang memegang kapten timnas sejak 1970 sampai 1974 itu. 
Namun, rasa bangga, totalitas, dan usaha kerasnya di timnas sekarang seperti terlupakan. Padahal, Ujang sejatinya masih ingin berkecimpung di sepak bola dan turut membantu pembinanaan sepak bola usia dini di Indonesia. Terbukti, pasca pensiun pada awal 2000, dia sempat melatih anak-anak di Medan, tempat tinggalnya selama bekerja di sana. Pada 2010, dia memilih pulang ke kampung halaman di Cikampek dan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Anwar Ujang. Saking semangat dan rasa cintanya kepada sepak bola, kakek 15 cucu itu ingin mencetak pemain hebat dari daerahnya. Sebab, beberapa tahun belakangan jarang lahir pemain dari daerahnya. Bermodal uang pribadi dan bantuan seorang anak didiknya, dia menjalankan sekolah sepak bola itu. Muridnya puluhan dan sudah berlangsung dua tahun. Tapi, pada akhir 2013, dia terpaksa harus membubarkan SSB-nya. Itu disebabkan penyakit dan dana operasi SSB yang tidak lagi mencukupi. Selama ini pemain yang lahir dari klub Persika Karawang itu tidak pernah menarik iuran dari siswanya seperti SSB pada umumnya. Sebagian murid biasanya memberikan iuran semampunya, tapi lebih banyak yang tidak membayar. 
Menurut Ujang, kebanyakan pemain potensial, yang memiliki bakat alam dan semangat tinggi, berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi. "Saya yakin dan ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan peluang terbaik sebagai pemain. Tapi, sponsor tidak ada. Apalagi, saya sudah tidak bisa terlalu lama di lapangan sekarang, papar mantan pemain Maesa Jakarta, Pardedetex FC, PSMS Medan, dan PSL Langkat itu. SSB itu bubar sebenarnya karena dia tidak bisa melatih lagi secara langsung saat dirawat di rumah sakit. Sementara itu, untuk membiayai asisten melatih di SSB, dia tidak bisa terus-menerus meminta bantuan dari para donatur. 
"Kadang asisten saya itu saya beri Rp 300 ribu-Rp 400 ribu untuk menemani saya melatih. Tapi, kan kebutuhan lain juga ada. Misalnya, beli bola, sewa lapangan, dan beli perlengkapan latihan yang rusak. Saya tidak kuat lagi menanggung semua itu", tuturnya. Setelah sembuh, Ujang mencoba mencari sponsor untuk menghidupkan kembali SSB-nya. Sayang, tidak ada satu pun sponsor yang mau membiayai. Alhasil, dia dan asistennya sepakat membubarkan SSB tersebut. Biaya untuk mengelola SSB dengan puluhan murid di sana, menurut suami Nuraini Lubis itu, tidaklah besar. Dia menyebut, biayanya tidak sampai Rp 5 juta per bulan. Sekarang banyak SSB yang bayar, juga mahal, tuturnya. Ujang tidak terlalu berharap agar pemerintah maupun PSSI memperhatikan kondisinya. Tapi, dia hanya meminta otoritas sepak bola di Indonesia bersedia memperhatikan anak-anak kampung yang potensial, tapi kurang mampu secara ekonomi. "Mudah-mudahan ada yang tersentuh untuk mengangkat anak-anak potensial itu. Siapa yang untung bila kelak timnas kita diisi oleh para pemain hebat yang muncul dari bawah," tandas dia. (Muhammad Amjad/c10/ari)  

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?

 
Top