GuidePedia

0


Pemandangan “surgawi” berupa puncak-puncak pegunungan berpuncak es tak ha­nya ada di Tibet semata. Suasana mirip Tibet juga ada di wilayah India yang bernama Leh. Ditambah lagi dengan banyaknya keberadaan biara-biara Buddha, makin kom­plit aroma Tibet yang terasa di Leh.

Pagi itu langit tampak biru cerah di bandara Leh. Keluar dari pesawat, tangan langsung otomatis menyambar kamera untuk merekam gambar pegunungan berpuncak salju di sekitar bandara. Namun tentara bertampang sangar melarang penggunaan kamera di bandara. Maklum saja, bandara Leh adalah markas tentara.


Menumpang mobil van sewaan berwarna putih, kondisi tubuh masih tampak normal. Tetapi begitu berjalan memasuki penginapan, tubuh sontak terhuyung-huyung dan kepala terasa pening. Rupanya penyakit Acute Mountain Sickness (AMS) mulai menyerang. AMS adalah gejala yang diderita oleh pendaki gunung ketika berada di tempat sangat tinggi seperti di Leh. Ketinggian di Leh mencapai 3000 meter di atas permukaan laut. Mungkin setara dengan puncak gunung di Indonesia. Pergi naik pesawat ke tempat tinggi tentu saja cepat mendatangkan penyakit AMS karena tak ada proses aklimatisasi terlebih dulu.

Gara-gara AMS, bukan saja pening yang dirasa. Tak kurang sesiang itu sudah dua kali saya memuntahkan isi perut. Di malam hari lebih sering lagi saya bolak balik untuk muntah. Alhasil, selama dua hari saya hanya berbaring di kamar.


Ternyata istirahat selama dua hari sudah jadi keharusan buat pendatang di Leh. “Sudah seharusnya turis yang datang ke Leh dari dataran rendah untuk istirahat selama dua hari setelah datang,” kata Bickey, pengurus penginapan kami. Ia sendiri selalu tidur dua hari setelah berlibur di kampung halamannya di New Delhi.

Baru sore hari di hari kedua tubuh sudah terasa lebih enak. Tak lagi terasa mual dan pening. Di sore itu kami berjalan-jalan sedikit di sekitar penginapan. Di situ saya menemukan para pengungsi Tibet menjual aneka pernik dari Tibet di bawah tenda-tenda darurat.

Aroma Petualangan

Hari ketiga tiba dan tubuh sudah sangat siap bertualang keliling Leh. Untuk petualangan di hari itu, Bickey menyediakan dua mobil Innova untuk rombongan dari Indonesia. Kendati matahari bersinar cerah dan langit biru cerah, cuaca masih terhitung dingin di Leh. Memakai jaket tebal kami masuk ke dalam biara Hemis setelah menempuh perjalanan sekitar 20 km dari Leh. Di halaman biara para biarawan menari diiringi tetabuhan.


Biara ini memililki museum di lantai bawah tanah. Barang yang dipamerkan adalah benda-benda suci milik biara. Ruang bawah tanah itu terasa lembab dan dingin sekali. Perjalanan wisata berlanjut kembali. Kali ini mobil menuju sebuah biara besar yang tampak megah di atas bukit. Thiksey adalah nama biara berusia 600 tahun ini. Pemandangan biara di atas bukit ini benar-benar memberikan aroma Tibet di wilayah India itu. Biara bertingkat 12 ini memiliki komplek berisi stupa, patung, lukisan dinding dan pilar-pilar besar yang diukir ajaran Buddha.

Di Thiksey ini kami memutuskan untuk makan siang dan beristirahat. Ternyata tak jauh dari restoran terdapat praktik pengobatan tradisional Tibet. Seorang biarawan berwajah teduh memeriksa pasien dengan meraba denyut nadi. Selesai memeriksa nadi, ia berkata,”Anda hanya terkena penyakit ketinggian. Sebentar lagi sembuh.” Ia lalu mengambil segenggam pil berbentuk bulat berwarna kehitaman dari dalam stoples. Segenggam pil itu dimasukkan ke dalam kantung kecil berwarna cokelat. Saya diharuskan menghabiskannya.

Menutup tur hari itu, kami mampir ke biara lagi. Di balik biara ini terhampar lembah yang luas dengan pegunungan berpuncak salju di kejauhan. Sayangnya, ketika tubuh sudah terasa sehat, kami meninggalkan Leh menuju Srinagar lewat jalan darat. Perjalanan darat sejauh 434 km itu memakan dua hari perjalanan dan beraroma kuat petualangan. Kami bakal melewati jalan-jalan berkelok-kelok dan berjurang. Jalur perjalanan darat ini biasanya baru dibuka bulan Mei. Sebelum itu, jalan tertutup oleh salju tebal. Terkadang tentara India harus turun tangan untuk membersihkan salju tersebut.

Di perjalanan hari pertama itu kami melewati pegunungan tandus seperti padang pasir. Kami sempat mampir ke sebuah biara bernama Lamayuru. Pemandangan lembah di sekitar biara tampak sangat memukau.

Terdingin Kedua


Perjalanan sempat terhenti karena ada blokade jalan. Rupanya sedang ada pemasangan dinamit untuk meratakan bukit batu. Namun supir kami nekad melewati blokade itu dengan menyelipkan sejumlah rupee untuk si tentara penjaga. Mobil hampir dekat lokasi pengeboman ketika terdengar suara buuuum. Beruntung mobil kami tidak terkena rontokan bebatuan yang hancur.

Di sore hari kami berhenti di sebuah hotel di desa bernama Kargil. Suasana di Kargil ini mungkin lebih mirip Afganistan atau Pakistan. Kondisi di pasar pusat kota mirip pemandangan di film-film dengan latar belakang di kedua negara tersebut.

Semula supir kami mengingat­kan untuk berangkat melanjutkan perjalanan dari pagi-pagi buta agar tidak terkena macet. Ketika siap berangkat di pagi buta, ternyata perjalanan harus ditunda sampai siang hari.

Hari itu adalah hari Jumat. Siang itu jalanan penuh oleh para pria yang baru selesai sembahyang Jumat. Tak tampak sedikit pun seorang wanita muda. Kalau pun ada, wanita itu pasti ditemani oleh lelaki yang menjadi muhrimnya.

Perjalanan baru diteruskan sehabis shalat Jumat namun belum ada kepastian perjalanan bisa lancar sampai Srinagar. Pasalnya, polisi memberlakukan buka tutup jalan. Hari itu hanya berlaku jalur dari Srinagar menuju Leh. Semua mobil yang menuju Srinagar dari Leh terpaksa terhenti di sebuah desa bernama Dras. Kami mampir di sebuah warung makan di tepi jalan. Mereka hanya menyediakan nasi dan kari.

Menariknya, Dras adalah desa terdingin kedua di dunia. Kami menyewa sebuah kamar usang dengan selimut yang mungkin tak pernah dicuci. Ketika malam semakin larut, suhu menjadi semakin dingin. Terpaksa selimut dekil itu dipakai untuk menghangatkan badan. Keesokan paginya kami baru tahu bahwa suhu semalam mencapai minus 15 derajat Celcius.

Baru pukul sembilan kami diper­bolehkan melanjutkan perjalanan. Tak sia-sia kami melakukan perja­lanan nekad lewat darat. Pasalnya, pemandangan sungguh indah dengan salju di mana-mana. Bahkan ketika membuka jendela mobil, kami bisa meraih tembok salju.

Di antara keindahan salju itu tentara India banyak berjaga dengan senapan mesin. Tak jauh dari mereka berdiri adalah wilayah Pakistan. Bahkan di Dras tempat kami menginap semalam pernah terjadi baku tembak antara India dan Pakistan.

Setelah melewati perjalanan melewati jalan sempit berjurang, jalanan mulai menurun. Di hadapan terbentang lembah. Kami memasuki daerah bernama Sonamarg. Daerah ini tampak indah dengan sungai berwarna hijau toska dan padang salju di sana sini. Di kejauhan tampak gunung bersalju.

Perjalanan berhenti di daerah pertokoan untuk makan siang. Di wilayah Kashmir ini mulai terasa aroma India. Aroma makanan India dari restoran sangat menggoda perut. Rampung santap siang kami melanjutkan perjalanan ke kota Srinagar. Senang rasanya bisa kembali ke peradaban. Terlebih lagi kami bisa mandi membersihkan tubuh sehabis petualangan selama dua hari di jalan. 

Post a Comment Blogger

Beli yuk ?