GuidePedia

Artikel dikutip sebagian teknis militer berserta sejarahnya dari Buku Memoar Ventje H.N. Sumual. Suntingan Sdr. Edi Lapian, Frieke Ruata dan BE Matindas. - Terbitan Bina Insani Jakarta 2009.

Rapat Kecil di Desa Semaken Usul Serangan Umum Bergema Internasional

Suatu sore, tanggal 12 Februari, saat itu saya sedang memimpin penyerangan terhadap Pos Besar tentara Belanda di Jembatan Bantar, seorang anak buah datang menghadap menyerahkan sepucuk surat yang dihantar oleh kurir. Ternyata surat dari Letkol Soedarto, Komandan SWK 106. Saya diminta untuk datang ke Kulon Progo, di Desa Semaken, ada pertemuan besoknya dengan Komandan WK-III Letkol Soeharto. Malamnya, komando pertempuran saya percayakan ke Letnan Harjosoedirjo. Besoknya, hari Minggu pagi-pagi sekali saya berangkat ke Kulon Progo ditemani Bob Mandagie. Sengaja saya bawa Mandagie karena memang ia kenal daerah Kulon Progo dan bisa berbahasa Jawa. Ini penting buat perjalanan di wilayah pedalaman. Di Kulon Progo, kami dijemput oleh utusan Soeharto dan mengantar kami ketempat pertemuan. Ternyata yang akan rapat cuma kami bertiga, Soharto, Soedarto, dan saya.

Tanpa membuang waktu, Soeharto langsung memulai pertemuan dan masuk kepokok rapat. Strategi kedepan, sambil mengevaluasi langkah-langkah yang sudah dan sedang dilaksanakan. Kedepan, sesuai dengan strategi umum perang gerilya, tentu saja juga mengenai serangan umum lagi. Itu memang sudah digariskan, sudah menjadi teori umum dalam konsep perang gerilya. Langsung saja kemudian saya ajukan usul,

“Pak Harto, kita kan sudah beberapa kali melakukan serangan umum, tapi semuanya dimalam hari. Bagaimana kalau kemudian kita lakukan pada siang hari, supaya mendapat perhatian luas, diberitakan dikoran-koran, sebab berita di Koran selama ini hanya menguntungkan pihak Belanda.”


Soeharto setuju, “Itu baik. Serang pada waktu siang,” katanya sambil mangut-mangut.

“Baiklah, nanti dipikirkan cara-caranya. Harinya akan saya tentukan” sambung Pak Harto lagi.

Kami bertiga kemudian masuk ke pembahasan teknis untuk pelaksanaan serangan umum. Masing-masing memberi masukan ini itu. Soeharto mengatakan ke Letkol Soedarto,

“Nanti waktu serangan ke dalam kota, Pak Darto mengikat Belanda yang di Bantar. Supaya mereka ndak pergi membantu temenya yang kita serang dalam kota”

“Siap!” kata Soedarto.

Seperti beberapa hal yang disampaikan Soeharto pada kami, bukan lagi sekadar usul tentang strategi, melainkan sudah harus kami terima sebagai perintah. Pos Belanda di Jembatan Bantar itu memang adakalanya dijaga sampai lebih 1 Kompi. Mereka sering kami serang, seperti juga penyerangan yang saya pimpin beberapa hari terakhir ini. Tapi Belanda tidak mau meninggalkan posisi disitu, karena merupakan gerbang penghubung Yogyakarta dengan semua wilayah-wilayah di barat.

1 Maret 1949 Pukul 01.00 - 06.00 - 12.00

Perintah operasi serangan umum kelima yang akan dilakukan pada hari tanggal 1 Maret saya terima tidak melalui surat yang diedaran Markas WK-III melalui kurir, melainkan langsung oleh Komandan WK-III Letkol Soeharto. Ya, Pak Harto memang sering datang ke markas saya di Godean. Mungkin karena dia merasa sreg kalau selalu bisa memastikan langsung pasukan terbesar yang paling dekat saat penyerbuan ke markas utama tentara Belanda dalam kota Jogja. Setiap kami ngobrol, dia pasti menanyakan satu persatu keadaan pasukan-pasukan yang tergabung dalam SWK 103A ini. Tapi mungkin juga sebab sederhana saja, daerah Godean adalah kampung halamannya. Hari-hari menjelang 1 Maret, Pak Harto semakin sering singgah berkunjung ke Markas saya.

Waktu markas kami diserbu oleh pasukan Belanda tanggal 27 Februari pagi, Pak Harto juga ada. Untung dia cepat menyelamatkan diri, padahal serangan Belanda ini terbilang cukup besar. Belanda sudah sangat geram pada kami, karena pasukan-pasukan dari Godean tidak hentinya menyerang kedudukan pos-pos mereka, terutama Jembatan Bantar. Tentara Belanda, walaupun dengan konvoi takut keluar kota, apalagi kewilayah barat, karena pasti akan kami sergap. Penyerbuan ini dapat kami pukul mundur, selanjutnya kami berbalik mengejar mereka secara terbirit-birit tentara Belanda melarikan diri dan bertahan dengan kuatnya di Jembatan Bantar. Satu pertanyaan saya, mengapa Belanda bisa mengetahui dengan detail posisi pasukan-pasukan saya? Rupanya mereka sudah lama menyusupkan mata-mata, mempelajari posisi pasukan dan markas komando saya di Godean.

Pagi-pagi Belanda menyerbu dengan kekuatan besar mengepung dari beberapa jurusan, disertai bantuan tembakan dari pesawat udara. Dalam duel sengit jarak dekat di daerah perbukitan Godean, dipihak kami gugur 3 orang. Yaitu Letnan Bos Kandou, Sersan Jack Runtukahu, dan Ipda Toet Harsono. Bos Kandou adalah sorang perwira lapangan jago perang kami, ia pernah mengikuti pendidikan di Akademi Militer. Runtukahu juga seorang jagoan perang pemberani yang sudah bersama dengan kami sejak di KRIS lagi. Ipda Harsono bersama saya saat tertembak. Waktu itu, musuh sudah mengepung kami, tapi saya cepat melompat kebelakang tiarap tepat pada detik terlihat kilasan peluru dari permukaan air. Beberapa angota kami patah kaki lantaran nekad melompat ke dalam jurang menghindari sergapan Belanda.

Mereka yang gugur kemudian dikebumikan mengikut upacara keagamaan masing-masing. Pemakaman Bos Kandou juga dilaksanakan, banyak penduduk yang menghadiri kebaktiannya. Ternyata banyak juga penduduk disekitar Sektor Barat yang beragama Kristen. Mereka ikut menangis, sebab walaupun Kandou dan Jack adalah pendatang, tapi sudah akrab dan sering bantu-bantu pekerjaan warga.

Besoknya sejak pagi, perhatian kami tertuju pada persiapan-persiapan serangan umum. Jam 7 malam saya kumpulkan staf dan semua komandan pasukan, termasuk komandan pasukan yang mengungsi dan berlindung di Sektor Barat. Rapat dilaksanakan di Pasar Jering. Sengaja dibikin malam hari, karena harus menunggu los-los yang sudah kosong, sudah tidak ada yang berjualan. Disini, saya memberikan briefing terakhir untuk pelaksanaan operasi besok pagi. Gerakan pasukan ke dalam kota akan dilepas mulai tengah malam nanti.

Sekitar jam 01.00 pasukan sudah bergerak kearah timur, menuju kota Jogja. Tidak dalam barisan bersaf banyak, melainkan berbanjar satu persatu, ada juga yang berdua. Sengaja saya intruksikan agar tidak bersaf banyak karena akan berisik tentunya. Pasukan berjalan memanjang menembus kegelapan malam. Saya berjalan cepat disamping barisan panjang ini yang langsung dipimpin oleh komandannya masing-masing. Semua kekuatan Brigade XVI, simpatisan pejuang, pasukan-pasukan luar yang berlindung di sektor barat, ALRI, Brigade Mobile Kepolisian, satuan AURI, Resimen Hasanuddin, Resiman Pattimura, Resimen Bali, pasukan Hizbullah, bergabung menjadi satu dalam barisan yang sangat panjang. Inilah kekuatan terbesar dalam serangan umum ini.

Saat melewati sebuah pasar, masih di daerah Godean bagian timur, dari kegelapan terdengar di depan saya seruan-seruan memberi salam, “Merdeka!...Merdeka!...Merdeka! ”. Ternyata anak buah saya didepan melihat Letkol Soeharto sedang berdiri sendirian dipinggir jalan. Anak-anak memang pada umumnya sudah mengenal Komandan WK-III ini karena sering berkunjung kemarkas kami. Saya langsung menghampirinya, dia bertanya,

“Tje, ini pasukannya?“
“Ya, ini,” saya menunjuk mereka yang terus berjalan kearah timur.
“Banyak juga ya,” sambung Pak Harto menyaksikan barisan panjang pasukan saya yang seperti tidak ada putus-putusnya.
“Ya..masih banyak dibelakang Pak.“ balas saya.

Kami berbincang-bincang sebentar sambil mengamati pasukan yang terus menerus mengalir melewati kami. Hanya sebentar, saya kemudian pamit. Saya ingin berada tepat di depan pasukan saat menjelang detik-detik penyerbuan yang sudah ditetapkan. Saya hanya membawa sepucuk pistol yang selalu tergantung dipinggang saya, sesuai tradisi komando saja. Tapi kalau saat mulai pertempuran, saya akan menggunakan senjata laras panjang juga.

Sesuai dengan intruksi Letkol Soeharto, semua pasukan yang akan menyerbu mengenakan sehelai janur-daun kelapa yang masih berwarna kuning muda, diikat dipangkal lengan kiri atau meneggantung dibahu. Dengan sandi ini pasukan gerilya maju mengalir dari seluruh penjuru mengepung kota Jogja dari semua arah.

Belum pukul 05.00 semua pasukan SWK 103A dari Sektor Barat sudah berada ditepian barat kota Jogja. Sesuai dengan rencana saya, mereka lalu memecah dalam dua kelompok besar. Kelompok pasukan yang pertama lebih dulu bergerak cepat kekiri untuk memasuki kota dari arah utara. Sedangkan saya yang memimpin kelompok besar lainnya maju terus perlahan-lahan mulai mengambil posisi didalam kota. Semua pasukan memasuki kota melalui jalur dan kearah sasaran, dipandu oleh personil dari Sektor 1 dan 2. Pasukan dari dua sektor ini yang dikomandani oleh Kapten Runtunuwu dan Letnan Sigar ini memang yang paling menguasai seluk beluk jalur didalam kota, karena 2 sektor ini semenjak gerilya saya tempatkan menguasai teritori daerah gerilya kami paling timur, dekat kota. Selama bergerilya, anak buah Runtunuwu dan Sigar ini mondar mandir sesukanya kedalam kota tanpa takut. Tak selalu tugas untuk mata-mata, sering cuma buat keperluan-keperluan kecil, seperti nonton bioskop, atau membeli makanan yang enak-enak, Mereka memang rata-rata bernyali besar. Banyak dari mereka adalah termasuk Pasukan Khusus Combat Brigade XVI.

Makin mendekati sasaran pasukan mulai mengendap-endap, bahkan lainnya harus tiarap. Semua sudah siap dengan senjata masing-masing dalam jarak tembak yang efektif. Sekitar pukul 05.45 semua pasukan sudah dalam posisi senjata terbidik pada titik sasaran masing-masing. Tinggal menunggu saat yang tepat, yaitu sirene berakhirnya jam malam pukul 06.00 tepat, sirene ini dibunyikan tiap hari oleh pemerintah pendudukan Belanda di Jogja. Jadi tentara Belanda sendiri yang akan memberikan komando bagi semua pasukan kami untuk mulai menembaki mereka.

Pertempuran Pecah


Tepat pukul 06.00 sirene Belanda itu berbunyi meraung-raung, namun langsung tenggelam oleh bunyi letusan ribuan tembakan, ledakan granat, siulan mortir yang serentak dan terus menerus, sehingga tidak ada lagi yang mendengar bunyi sirene kapan berhentinya. Serangan ini luar biasa dahsyatnya, petempuran pecah seantero kota disemua tangsi dan pos dan markas-markas tentara Belanda. Serangan Umum 1 Maret yang kemudian terkenal ini sudah dimulai.

Kami dari SWK-103A diserah tugaskan untuk menghantam Markas Brigade Tjiger, Markas Yon 1-15RI di Benteng Vredeburg, Hotel Merdeka yang menjadi sarang perwira-perwira Belanda. Sebagian pasukan juga menyerbu pos-pos Belanda yang berada disepanjang jalan Malioboro. Bahkan semakin semangatnya, satu pasukan kami dibawah pimpinan Letnan Ajatiman menyerbu jauh, sampai Lempuyangan. Mungkin juga Ajatiman melihat pasukan kami sudah cukup besar untuk menghantam sasaran-sasaran yang ditargetkan. Begitu juga pasukan kami yang menyerang Benteng Vredeburg, ternyata sangat cepat karena ada juga pasukan dari SWK yang ada disana. Benteng Vredeburg diobrak-abrik sehingga tentara Belanda lari kearah Kotabaru.

Pasukan yang saya pimpin langsung menekan tentara Belanda yang bermarkas di daerah Tugu, sehingga mereka terkepung, hanya bisa bertahan didalam markas masing-masing. Saya lantas membuat Pos Komando di daerah Dagen. Dari sini saya mengendalikan pasukan dengan sejumlah kurir yang berlarian kesana sini, soalnya alat komunikasi sangat tidak memadai. Pasukan kami yang menuju ke arah Malioboro setelah melewati Ngampilan dan Notoyudan, dibelakang pertokoan dikasih makanan enak-enak oleh ibu-ibu Cina. Banyak susu disediakan, padahal pasukan kami sudah lama tidak minum susu. Hasilnya banyak yang mencret-mencret dan sakit perut, namun sambil tetap bertempur.

TNI dan gerilyawan memenuhi hampir kesemua jalan-jalan raya dipusat kota Jogja, terlebih disepanjang jalan Mlaioboro dan daerah Tugu. Pekik “Merdeka!” terdengar dimana-mana. Kalau Belanda sudah sempat menaikkan bendera bendera dikantor-kantor resminya pasti ada yang menggantinya dengan merah putih atau merobek bagian birunya. Jadi tentara Belanda itu lebih mementingkan nyawanya masing-masing daripada kewajiban menaikan bendera yang merupakan eksitensi kekuasaan negaranya. Sepanjang pagi hingga siang, TNI dan gerilyawan menguasai kota Jogja. Hanya kami memang tidak berencana untuk masuk dan menduduki markas-markas Belanda, kecuali di Benteng Vredeburg, Pabrik Anem, dan beberapa pos yang kami kuasai sepenuhnya. Pasukan Belanda yang berada ditempat-tempat tersebut sudah lebih dulu melarikan diri meninggalkan mayat teman-temannya.

Belanda di Jogja shock!. Tentaranya terdesak dimana-mana, walau sudah mengerahkan seluruh mesin-mesin perangnya di Jogja. Mereka meminta bantuan pasukan dari kota-kota disekitar Jogja, dan ini bisa karena TNI di daerah lain tidak diperintahkan oleh pucuk pimpinan untuk untuk mengikat kedudukan tentara Belanda diwilayahnya masing-masing. Satu kesalahan strategi menurut saya. Barangkali kalau serangan umum ini serentak juga terhadap kota-kota disekitar Yogyakarta, apalagi seluruh Jawa Tengah, mungkin sejarah akan mencatat lain. Tentara Belanda pasti bisa langsung dihabisi dan merebut kota jogja pada waktu itu juga.

Pengunduran dan Masuknya Bantuan Tentara Belanda


Setelah melakukan pengintaian dengan pesawat Auster, Kolonel Van Zanten, Komandan Brigade tentara Belanda di Magelang, mengirimkan 2 batalyon andalannya. Batalyon “Andjing Nica” dan Batalyon “Gadjah Merah”. Sekitar jam 11.00 mereka sudah tiba di Jogja, tapi itupun harus mengalami hambatan dan penghadangan oleh pasukan-pasukan TNI, antaranya Kompi Martono. Sesudah jam 11.00 situasi mulai berubah. Terutama karena pasukan-pasukan kita memang sesuai rencana operasi sudah saatnya mundur ke pangkalan masing-masing. Tembakan-tembakan yang kami lepaskan hanya sebagai penghambatan. Pasukan saya agak terlambat mundur. Bala bantuan tentara Belanda sudah berdatangan dengan tank, panser, bahkan hujan peluru dari pesawat udara. Sejumlah mobil yang dilengkapi dengan senapan mesin mengejar gerilyawan disetiap ruas jalan. Pertempuran dari lorong ke lorong, jalan ke jalan berlanjut.

Kami harus mengundurkan diri ke arah selatan lebih dulu, karena jalan yang ke barat sudah diblokade dan dipenuhi pasukan musuh. Saya perintahkan pasukan saya untuk jangan lagi sibuk menembaki musuh, jangan masih terbawa dengan suasana beberapa jam lalu saat kita masih diatas angin. Berupaya menyelamatkan diri, masuk ke selokan atau gorong-gorong. Mundur dengan teratur dan taktis, perhatikan samping kanan dan kiri, jangan sampai terkepung. Pasukan saya terus sampai ke Winongo, menyeberangi kali sudah lumayan aman, tetapi harus masih tetap berlari cepat dan dalam posisi terlindung menuju Wirobrajan. Ternyata di Wirobrajan kami sudah ditunggui, sudah ada pasukan Belanda disana. Tembak menembak pun pecah lagi. Dalam situasi tembak menembak dengan musuh, sambil sebagian pasukan tetap melaju kearah barat, seorang dari pasukan saya tertembak dan gugur. Namanya Sunaryo dari Kompi Brigade Mobile pimpinan Ipda Ajatiman.

Jam 14.00 kami sudah berada diwilayah yang diluar jangkauan musuh. Hanya Yon Mattalatta yang tercecer, ketinggalan sehingga harus bermalam dikota. Kenapa Yon Mattalatta tidak segera mengundurkan diri? Apakah perintah saya tidak sampai kepasukannya? Ternyata Batalyon Kapten Andi Mattalatta sebetulnya sudah terlebih dahulu mengundurkan diri bersama SWK-SWK lain begitu balabantuan Belanda tiba. Namun, setelah pisah arah dengan SWK lain, makin ke barat makin terasa mereka hanya sendiri. Mana pasukan lainnya? Mana pasukan-pasukan dari Sektor Barat? Masih dikota kah? Terkepung tentara Belanda? Mungkin mereka tertanya-tanya seperti itu.

Batalyon yang dipimpin oleh Kapten Andi Mattalatta ini, yang didalamnya juga ada Letkol Kahar Muzakkar, jadi merasa tidak enak hati. Mereka mengira sudah meninggalkan teman sendiri. Maka para pemberani ini segera balik kanan, masuk lagi kedalam kota, bertempur dengan tentara Belanda yang sudah menguasai kota. Ternyata pasukan Belanda sudah begitu kuatnya. Bala bantuannya sudah banyak mengalir dari kota-kota tetangga. Yon Matalatta sedapat mungkin berusaha bertahan namun musuh demikian kuat serta berusaha mencari pasukan-pasukan Sektor Barat yang dikira terkepung didalam kota. Ya sudah, mereka kemudian menghindar dari posisi-posisi musuh, sampai lepas tengah malam baru mereka bergerak keluar kota. Begitulah gara-gara tidak adanya alat komunikasi.

Pagi-pagi sekali Mattalatta datang melapor ke Markas saya, sambil semua tertawa-tawa. Lucu bercampur gembira karena sudah selamat, dan terutama gembira karena sudah memenangkan misi pertempuran, berjalan sesuai rencana. Jadi, kalau TNI lainnya Cuma menduduki kota Jogja selama 6 jam, Yon Mattalatta mendudukinya selama 14 jam. Bahkan setelah bala bantuan Belanda datangpun mereka masih bertempur, sebab merasa pasukannya tinggal sendiri. Mengira kami semua sudah dihabisi Belanda didalam kota. Pikirnya mungkin, kalau memang Ventje dan semua pasukan-pasukan yang ada di Sekor Barat gugur, kenapa saya tinggal diam? Mending berjibaku masuk kedalam kota bertempur sampai mati!. Begitulah mungkin pikiran para pemberani jagoan perang ini.

Bersambung ...

Diposkan Erwin Parikesit
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?