GuidePedia


BERAKHIR sudah program Tour of California 2013 yang dijalani rombongan cyclist Indonesia. Senin lalu (20/5), ada bersepeda lagi 50 km, lalu foto bareng Peter Sagan dan para teammate-nya di Cannondale Pro Cycling.
 -------------
Catatan AZRUL ANANDA bersama, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari San Francisco
-------------
PROGRAM Tour of California (ToC) 2013 berakhir Senin, 20 Mei. Kumpul pagi-pagi pukul 06.30, 17 cyclist asal Surabaya, Jakarta, Madiun, dan Makassar sudah siap dandan dengan jersey kebesaran komunitas atau klub masing-masing.

Kebanyakan yang dari Surabaya mengenakan seragam kuning-hitam Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling. Ada pula yang mengenakan jersey merah-hitam komunitas Free. Sedangkan Liem Tjong San dari Makassar dengan komplet mengenakan jersey, bibshort, kaus kaki, dan sleeve hijau-kuning-putih kebesaran Makassar Cycling Club (MCC).

Pagi itu, start pukul 07.15, trio guide Lyne Bessette, Ryan Fowler, dan Jen Slowey dari Cannondale Tours (Duvine Adventures) sudah menyiapkan rute yang cukup menantang. Total jarak tempuh sekitar 50 km, tapi dibumbui tanjakan sangat menantang sepanjang hampir 3 km. Tingkat kemiringannya mencapai 13 persen.

Rutenya: Dari hotel di downtown Healdsburg menuju Sonoma Lake (danau). Tipe jalannya rolling, naik turun menantang ketahanan serta kekuatan kaki dan paha.

Ryan Fowler, yang hari itu bersepeda memandu, membuat para peserta happy sekaligus ngos-ngosan. Sadar rombongan suka ngebut, dia membiarkan rombongan melaju konstan di atas 40 km/jam. Berhenti ketika mendekati kilometer 20 untuk ambil napas dan mengisi botol minum. Temperatur pagi itu termasuk dingin dan berangin, 18 derajat Celsius.

"Rombongan tur lain yang biasa kami antar tidaklah secepat rombongan Indonesia ini. Kalian termasuk cepat dan kuat," puji Fowler.

Kami mulai memasuki tanjakan di kilometer 21. Setelah melewati pemandangan spektakuler, yaitu bendungan yang menutup salah satu sisi danau. Tanjakan yang kami lalui menuju ke arah puncak bukit, yang menjadi titik wisata untuk melihat seluruh keindahan Sonoma Lake.

Sadar ini tanjakan terakhir selama di California, para peserta pun habis-habisan. Khususnya Sony Hendarto asal Madiun, yang dalam beberapa hari ini termasuk paling apes di rombongan (kabel sepeda tergunting, sempat tersasar). Ketika finis pertama di puncak, dia sangat puas meski sempat hampir muntah-muntah.

"Puas, sekarang puas. Bisa pulang ke Indonesia dengan tenang," ucapnya.

Dari atas, rombongan kembali turun menuju hotel di Healdsburg. Setelah itu cepat-cepat mandi dan mengemasi koper karena harus segera naik mobil kembali ke San Francisco. Perjalanannya sekitar 1,5 jam dan kami sudah harus di Sports Basement, di kawasan Presidio, dekat Golden Gate, pukul 12.00.

Dan kami semua sangat ingin berada di sana pukul 12.00. Mengapa" Karena di sanalah Cannondale menyiapkan pertemuan kami dengan para pembalap tim. Termasuk dengan Peter Sagan, pemenang dua etape di ToC 2013, peraih green jersey (best sprinter).

Kebetulan, pagi itu seluruh tim ada di sana untuk acara gowes bareng dengan para diler Cannondale. Lalu ikut acara jumpa fans dan berbagi tanda tangan.

"Kami akan mencoba mengatur supaya rombongan Indonesia dapat sesi sendiri, termasuk berfoto bersama seluruh tim," ucap Sam Hughes dari Cycling Sports Group, induk perusahaan Cannondale.

Begitu tiba, kami diminta menunggu hingga 12.30, setelah rangkaian acara untuk umum selesai. Lalu kami diminta menuju tenda tempat para pembalap duduk, setelah sebelumnya melayani permintaan tanda tangan pengunjung lain.

Tampak delapan pembalap Cannondale duduk di sana. Ada Peter Sagan di tengah, bersebelahan dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan, kakaknya yang Sabtu sebelumnya (18/5) memandu rombongan Indonesia naik Mount Diablo. Ada pula Stefano Agostini, yang juga memandu rombongan Jawa Pos Cycling.

Selain itu, ada bintang lain seperti Ted King, Lucas Sebastian Haedo, Maciej Bodnar, Brian Vanborg, dan Kristijan Koren.

Dengan penuh antusias, rombongan Indonesia memburu tanda tangan mereka. Ada yang minta di jersey, buku foto, print foto, botol minum, dan pernak-pernik lain.

Yang paling heboh: Hampir semua meminta para pembalap menandatangani sepeda Cannondale SuperSix Evo yang selama ini ditunggangi di ToC 2013!

"Sampai di Indonesia nanti bisa di-clear coat, supaya tanda tangannya abadi," celetuk Sun Hin Tjendra dari Surabaya.

Seusai sesi tanda tangan, para personel Cannondale meminta rombongan Indonesia menunggu di sudut parkiran dengan latar belakang jembatan Golden Gate.

Tidak lama, para pembalap Cannondale pun bergabung. Termasuk Peter Sagan, yang kami daulat untuk berpose di tengah. Bambang Poerniawan, 57, anggota tertua (sekaligus termungil), langsung dengan semangat menempatkan diri di sebelah kiri pembalap Slovakia tersebut.

Satu, dua, tiga! Kami pun berfoto dengan pasukan Cannondale Procycling! Dengan latar belakang Golden Gate. Apalagi, cahaya matahari sedang sangat pas dan tidak ada sedikit pun kabut menyelimuti jembatan legendaris tersebut.

Selain itu, seragam kaus putih Indonesia kami begitu pantas dan kontras bersanding dengan seragam hijau menyala pasukan Cannondale!

Betapa pasnya awal dan ending program ini. Pada Jumat, 17/5, ketika akan bersepeda untuk kali pertama, kami berpose di sudut parkir yang sama. Ending-nya foto serupa, tapi bersama pasukan Cannondale! Benar-benar momen yang mungkin hanya sekali seumur hidup.
 ***
Begitu program selesai, kami pun berpisah dengan para guide dan pasukan Cannondale. Sepeda-sepeda akan di-packing para guide dan mekanik. Dan diantar ke bandara ketika kami akan pulang ke Indonesia.

Dan memang, Senin malam itu kami langsung pulang. Pesawat tengah malam transit di Hongkong menuju Surabaya.

Mumpung masih ada setengah hari, kami mampir dulu ke satu lagi toko sepeda, ke sekali lagi toko eksklusif Rapha, sebelum berwisata dulu ke Pier 39 di kawasan Fisherman"s Wharf, San Francisco.

Bagi rombongan yang datang ke Amerika bersama keluarga, seharusnya di kawasan inilah semua bertemu di sore hari. Tapi, karena jadwal keluarga masih mengunjungi penjara pulau Alcatraz, pertemuan diundur hingga pukul 18.30, di Restoran Yuet Lee (masakan Tionghoa) di kawasan China Town. Di sana mencicipi cumi goreng yang sangat populer di kalangan pelajar Indonesia di San Francisco.

Pukul 20.00, kami pun menuju San Francisco International Airport (SFO). Bertemu lagi dengan sepeda yang sudah dikemas, check in, dan terbang kembali ke tanah air.

Cerita perjalanan di California ini mungkin akan butuh waktu berminggu-minggu sebelum bosan dibicarakan. Bahkan mungkin sampai tahun depan, ketika perjalanan selanjutnya diselenggarakan.

Sebab, memang ada impian untuk bersepeda di semua benua. Atau merasakan rute dan atmosfer sebanyak mungkin lomba kelas dunia.

Mau ke mana tahun 2014 nanti? Dari pembicaraan, ada beberapa alternatif. Kebetulan keduanya di Eropa. Satu, mengulangi lagi rute Tour de France seperti 2012 lalu, tapi menjajal gunung-gunung yang berbeda. Dua, kembali ke Prancis, tapi merasakan rute jalan bebatuan lomba Paris-Roubaix yang terkenal keras.

Tiga, menuju Italia, mengikuti Grand Tour legendaris lain: Giro d"Italia. Menjajal gunung-gunung gilanya, seperti Passo dello Stelvio.

Masih belum diputuskan mau ke mana, tapi beberapa peserta California (yang tahun lalu juga ikut ke Tour de France) sudah dengan tegas bilang akan ikut lagi! (habis)



kendel tenan....
Dapatkan Wisbenbae versi Android,GRATIS di SINI !
 Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Beli yuk ?

 
Top